Mlancu Mencari Jatidiri Durian Slumbung

150

Buah-buah lokal kian eksis dan berdaya saing dengan buah impor. Budidaya buah lokal pun terus digalakkan demi mempertahankan kualitasnya. Berbagai upaya dilakukan, termasuk melakukan rekayasa yang dilakukan di beberapa daerah. Seperti apakah?

Slumbung, salah satu dusun di Desa Mlancu, Kec Kandangan, Kab Kediri, di antara desa yang memiliki potensi buah lokal bagus. Terutama buah durian. Bahkan predikat sebagai surga buah durian layak diberikan kepada Dusun Slumbung. Betapa tidak, di dusun itu jumlah tanaman durian yang produktif mencapai 15.000 pohon. Jika panen raya tiba jumlah buah durian yang dipanen bisa mencapai ratusan ribu.

Kepala Dusun Slumbung, Mulyono, mengatakan, di Desa Mlancu perkiraan panen raya durian sekitar Bulan Februari. “Rencananya pada bulan tersebut saya dan warga sekitar Dusun Slumbung menggelar acara incip durian,” kata dia.

Dia menambahkan pohon durian di Slumbung sangat melimpah. Dia saja memiliki pohon durian sekitar 500 pohon. “Ya, pokoknya nanti pengunjung akan dipuaskan dengan makan durian bersama-sama di sini,” lanjutnya.

Mulyono juga bersusah payah dan terus berusaha mendapat pengakuan tentang ciri khas buah durian hasil kebunnya. Bahkan bisa dibilang cukup berhasil, posting-posting di Instagram @mulyono_ terus update tentang durian yang dia beri nama durian Slumbung.

Inilah kisah Mulyono yang berusaha keras mencari jatidiri untuk membuat orang lain mengakui bahwa durian Slumbung tidak kalah dengan durian yang lain yang ada di Kabupaten Kediri, juga bisa bersaing baik di kabupaten tetangga yaitu Jombang dan Batu.

Berawal dari diadakannya pesta Dahar Durian di Medowo, tetangga desa dari Mlancu, dari situlah Mulyono berusaha mencari jatidiri. Melihat saingan yang begitu ketat se-Kabupaten Kediri semua durian tampil dengan berbagai macam ukuran, dan semuanya besar-besar.

“Melihat saingan yang sangat ketat dan juga melihat durian yang dilombakan hati saya sempat ciut juga. Lantas durian saya taruh di meja dan saya minta yang nunggu adik saya,” katanya menceritakan kenangan kontes duren tahun lalu.

Dia sempat berpikir kalau durian miliknya tidak masuk dalam kategori penilaian tim juri. “Tiba-tiba telepon berdering dari teman yang selalu men-support saya, bahwa durian saya masuk 10 besar. Berikutnya diseleksi lagi untuk mencari pemenangnya. Tidak lama adik saya meminta durian yang sama dengan yang dilombakan,” tutur Mulyono.

Sempat kebingungan juga, dia sempat bertanya kalau pihaknya hanya menyiapkan dua buah durian di meja untuk dinilai. Ternyata saking enaknya mencicipi durian Slumbung sampai lupa meninggalkan sisa untuk bisa masuk menjadi juara. “Untungnya masih ada satu biji dan kami mendapat juara II se- Kabupaten Kediri,” lanjutnya.

Dari situlah dia bangkit, dan dibantu teman-teman juga, semangatnya untuk mencari jatidiri durian Slumbung hingga sekarang terus dilakukan. “Saya juga sangat berterima kasih kepada Bapak Ir Adi Suwignyo M,Si yang selalu memberikan motivasi,” ujarnya.

Pihaknya menjual buah durian dengan harga yang standar sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu, bergantung besar kecilnya. Tujuannya adalah lebih memperkenalkan ke masyarakat bahwa Dusun Slumbung adalah sentra buah durian. Jika berminat bisa langsung datang atau kontak ke nomor HP 081259756928.

Selain durian, di Mlancu juga melimpah tanaman buah rambutan yaitu di Dusun Mloyo. Ribuan tanaman rambutan ditanam oleh warga sekitar. Salah satunya milik Sriono,  Kepala Dusun Mloyo, yang memiliki sekitar 700 pohon rambutan.

Saat panen tiba jumlahnya bisa mencapai 200 ton buah rambutan.

Sriono menjelaskan Desa Mlancu memang kaya akan hasil bumi, terutama buah-buahan. Masyarakatnya pun sebagian besar bermata pencaharian bertani dan berkebun.

“Jangan lupa ya Bulan Februari datang ke Desa Mlancu terutama Dusun Slumbung, kita akan berpesta durian. Sekaligus memperkenalkan inilah potensi alam yang ada di desa kami,” kata Sriono seperti dipaparkan kepada tim Kominfo Kab Kediri. (edt)