Jatim Atasi Stunting

Andriyanto: Lawan Stunting dengan Revitalisasi Posyandu

15
Andriyanto, SH, MKes, Direktur Akademi Gizi Surabaya

Perjuangan melawan stunting harus terus digeliatkan. Karena stunting menjadi salah satu masalah bangsa yang harus diberantas. Lalu apa kata pakar gizi mengenai stunting yang kini jadi masalah di banyak daerah? Berikut wawancara Puspa dengan Direktur Akademi Gizi Surabaya, Andriyanto SH, M.Kes.

Apa sih sebenarnya stunting itu dan apa penyebabnya?

Stunting itu adalah kondisi yang disebabkan karena kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Kekurangan gizi kronis terutama pada seribu hari pertama kehidupan (HPK), yaitu pada masa kehamilan sampai usia 2 tahun. Akibatnya, anak gagal tumbuh. Tinggi badan penderita stunting terlihat lebih pendek dibanding anak sebayanya. Sejatinya stunting bisa dicegah. Caranya, berikan gizi yang terbaik pada ibu hamil sampai anak usia 2 tahun. Mengapa? karena itu adalah masa kritis. Perkembangan otak itu bisa optimal 85 persen ketika masa janin sampai anak usia 2 tahun.

Dampak makro dari stunting?

Stunting ini sesunggunya adalah persoalan bangsa. Karena ini menyangkut sumber daya manusia. Otak anak penderita stunting cenderung keruh, sehingga cabang atau sinaps-nya tidak kelihatan. Akibatnya, informasi yang masuk pada anak stunting sulit untuk dikembangkan. Karena itu, anak stunting cenderung lebih tidak cerdas dibanding anak yang normal.

Jika sudah begitu, maka pendidikannya dimungkinkan akan relatif rendah dan tentu produktivitas juga menjadi rendah. Karena itu, stunting ini adalah masalah bangsa. Kemiskinan akan sulit turun seandainya produktivitas anak juga kurang.

Apakah anak penderita stunting bisa diobati?

Di atas 2 tahun sampai usia 21 tahun untuk laki-laki dan 19 tahun untuk anak perempuansebetulnya masih bisa diupayakan. Ketika anak itu masih usia 8 sampai 13 tahun, sebetulnya dia masih bisa tinggi. Nah, cara penanganannya ada dua.

Pertama, perbanyak konsumsi protein hewani yang banyak mengandung zinc, yaitu susu, telur, daging, ikan (STDI). Dari jenis protein hewani, yang paling diutamakan adalah kerang-kerangan, seperti, tiram. Sebab, satu ons daging mengandung 4 miligram zinc. Tetapi satu ons udang mengandung 46 miligram zinc. Jadi, jika kebutuhan anak rata-rata 5 miligram zinc per hari, maka dengan 10 gram udang per hari saja sebetulnya sudah cukup. Selain udang, ikan juga produk protein hewani yang memiliki zinc tinggi dan harganya relatif murah. Nggak perlu salmon, kakap, atau tengiri yang mahal, ikan teri, pindang, dan sejenisnya itu adalah produk ikan laut yang kaya zinc.

Kedua, stimulasi atau aktivasi dengan olahraga melompat. Ini penting, karena anak bisa tinggi itu karena perkembangan tulang. Perkembangan tulang itu akan lebih smooth dan lebih bagus kalau seandainya anak distimulasi dengan banyak olahraga.

Setelah memasuki usia 21 tahun bagi laki-laki dan 19 tahun bagi perempuan, pertumbuhan badan akan berhenti. Maka dari itu, sebelum usia tersebut mari kita tingkatkan anak supaya lebih cepat tinggi. Kalau sudah cepat tinggi, insha Allah otaknya akan menjadi bagus. Kalau otaknya bagus, pendidikannya tinggi, produktif, dan masalah kemiskinan bisa terkurangi. Jadi indikatornya adalah tinggi badan.

 Bagaimana kondisi stunting di Jatim?

Dalam Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 sampai tahun 2018 ada penurunan. Angkanya dari 38 persen menjadi 26,2 persen. PBB atau World Bank menyatakan, yang disebut dengan masalah stunting adalah kejadian stunting yang terjadi di atas 20 persen. Di Jatim memiliki 11 kabupaten/kota sebagai lokus penanganan stunting dan itu daerah terbanyak untuk penanganan di seluruh Indonesia. Artinya Jatim adalah perhatian utama. Memang yang paling tinggi bukan di Jatim. Tapi paling tidak ada 11 kabupaten/kota yang menjadi lokus stunting.

Menurut Pakde Karwo, kondisi stunting di Jatim juga dialami anak dari keluarga kaya. Mungkinkah?

Stunting itu jangka waktunya lama. Kekurangan gizi itu bukan karena orang itu miskin, tapi mayoritasnya karena rendahnya pola asuh, rendahnya kemampuan keterampilan seorang ibu dalam memberikan asupan. Stunting tidak melihat faktor pendidikan. Bisa saja karena anak keluarga mampu, dia lebih suka mengkonsumsi daging. Padahal, justru ikan sangat direkomendasikan untuk anak-anak. Jadi, memang betul, penyebab stunting di Indonesia dan di Jatim bukan karena faktor kemiskinan. Karena angkanya cuma sekitar 25 persen. Justru sekitar 55 persen itu diakibatkan karena rendahnya pola asuh.

Saran Anda untuk masyarakat?

Memberi edukasi kepada masyarakat itu sangat penting. Sampaikan bagaimaa cara memilih bahan makanan yang bagus untuk anak sesuai dengan usianya. Bagaimana menyajikan makanan sesuai psikologis anak? Bagaimana ketika anak sedang sakit? Bagaimana pemberian makan pada anak usia 6 bulan yang harus ASI eksklusif? Begitu seterusnya. Jadi, edukasi gizi itu menjadi sangat penting.

Sebenarnya, dalam edukasi itu ada hal yang paling utama. Yakni, Posyandu sebagai ujung tombaknya. Maka revitalisasi posyandu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses pencegahan dan penanganan stunting. Di Jatim, ada terobosan yang menarik dari Ketua TP PKK, Bude Karwo, yaitu, program Taman Posyandu yang merupakan pengembangan dari Posyandu. Jadi, bukan hanya anak balita, tapi juga keterlibatan dunia pendidikan seperti PAUD, parenting, dan sebagainya akan menjadi lebih gampang dalam menurunkan stunting.

Mungkinkah angka stunting di Jatim mencapai di bawah 20 persen?

Kalau melihat trennya memang menurun. Kalau saja tren penurunnya 7 persen selama lima tahun, dan dalam lima tahun ke depan semangatnya masih bagus, saya yakin sekitar tahun 2024, stunting di Jatim insha Allah bisa di bawah 20 persen. (ren,via)