Arumi: 60 Persen Sampah Berasal dari Sampah Rumah Tangga

35
Arumi Emil Dardak (empat dari kiri) bersama anggota TP PKK usai rapat koordinasi, konsultasi, dan silturahmi di kantor Bakorwil Bojonegoro. foto: Ulviyatun Ni'mah/derapdesa.id

Siapa sangka, ternyata rumah tangga menjadi penyumbang sampah hingga 60 persen. Hal ini diungkapkan Ketua TP PKK Jatim Arumi Emil Dardak saat rapat koordinasi, konsultasi, dan silaturahmi dengan TP PKK kabupaten/kota se-Bakorwil (Badan Koordinasi Wilayah) Bojonegoro.

Dalam acara yang digelar pada Senin (8/4) di kantor Bakorwil Bojonegoro itu, Arumi juga mengajak masyarakat, terutama para kader PKK untuk mengurangi sampah dengan mengurangi penggunaan plastik. Dia tidak menampik bahwa plastik memiliki manfaat dalam mempermudah kehidupan sehari-hari, namun saat ini dunia sedang darurat sampah plastik. Jenis sampah itu butuh puluhan tahun untuk diurai alam dan menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Untuk tidak menggunakan plastik sama sekali bisa dikatakan berat. Oleh sebab itu diambil jalan tengah, yaitu dengan mengurangi sampah plastik. Kalau mau menggunakan plastik, harus mau bertanggung jawab. Nah, TP PKK harus memulainya,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmennya, istri Wakil Gubernur Jatim ini kemudian membagikan tumbler (botol minum) kepada peserta rapat. Dengan membawa tumbler, maka akan mengurangi penggunaan botol plastik untuk minum.

Selain kampanye pengurangan penggunaan plastik, Arumi juga mengajak anggota dan kader TP PKK untuk bersama-sama mengatasi permasalahan stunting di Jatim. Di Jatim terdapat 12 kabupaten yang memiliki angka stunting tertinggi. Kendati demikian, dia meminta agar kabupaten/kota yang tidak termasuk dalam 12 kabupaten tersebut untuk tetap mewaspadai kasus stunting di wilayah masing-masing.

“Masalah stunting ini penting, karena stunting dapat mengakibatkan banyak hal. Salah satunya adalah SDM yang rendah,” tuturnya.

Ibu dua anak ini kemudian menerangkan beberapa dampak stunting. Yakni, anak mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, saat tua beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, postur tubuh tidak maksimal saat dewasa, dan menyebabkan kerugian ekonomi.

Karena banyaknya dampak yang ditimbulkan stunting, Arumi mengajak TP PKK untuk mencegah dan mengatasi stunting. Yakni, dengan integrasi program Pokja PKK. Mulai dari sekretariat, Pokja I, II, III, dan Pokja IV.

Arumi menjelaskan, PKK dilibatkan dalam mencegah stunting karena PKK memiliki ketua perempuan dan anggota yang mayoritas perempuan. Seorang perempuan yang notabene juga seorang ibu memiliki porsi lebih banyak dalam keluarga dan memiliki posisi strategis untuk masalah ini. PKK juga memiliki jaringan sampai dasawisma yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“PKK harus menjadi yang terdepan dalam menggerakkan masyarakat. Peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia), pencegahan stunting, dan pengurangan serta pengelolaan sampah harus diselesaikan dari entitas terkecil, yakni keluarga,” pungkasnya. (via)