Awal B-Fest 12 Even, Kini 102 di Tahun 2021

76

Banyuwangi Festival atau B-Fest sudah menjadi ikon atraksi pariwisata bagi kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa itu. Tahun ini, pemkab kembali menggelar ratusan even yang terangkai dalam kalender wisata yang tak asing di telinga publik nasional.

Cikal bakal B-Fest diawali dari ide seorang Abdullah Azwar Anas. Satu tahun menjabat bupati, pada 2011 Anas menggelar tiga atraksi wisata besar dalam rangkaian Hari Jadi Banyuwangi di tahun tersebut. Even itu adalah Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, dan Banyuwangi Jazz Festival.

“Tiga even tersebut tampaknya mendapat sambutan hangat dari wisatawan. Maka, kami tercetus membuat sebuah kalender wisata, yang lalu kami kemas dalam sebuah Banyuwangi Festival,” ujar Anas, usai meluncurkan Banyuwangi Festival 2021 pada 17 Februari 2021.

Banyuwangi Festival pertama kali digelar pada 2012. Sejak itu, pelaksanaannya terus dievaluasi dan mengalami peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Banyuwangi Festival menjadi kalender wisata tahunan pertama yang disusun kabupaten/kota se-Indonesia secara terperinci dan terintegrasi. “Konsep calendar of event ini kemudian menjadi tren di berbagai kabupaten/kota,” lanjut Anas.

Baca Juga  Seniman Bersama Pesilat Ponorogo Kembali Promosikan Seni Budaya Ke Mancanegara

Setahun kemudian pada 2013 B-Fest meningkat menjadi 15 even. Tahun 2014 menjadi 23 even dan 2015 menjadi 38 even, hingga pada pada 2019 terdapat 99 even.

“Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun sudah menetapkan Banyuwangi sebagai kota festival terbaik di Indonesia selama tiga tahun berturut-turut lantaran konsistensi dan keragaman even agenda wisata yang digelar Banyuwangi,” kata Anas.

Tahun 2020 Banyuwangi sebenarnya menyiapkan 123 even. Namun terpaksa harus dibatalkan karena pandemi covid-19 yang memberikan dampak pada semua lini.

Kini memasuki tahun 2021, meski masih dalam nuansa pandemi, Banyuwangi kembali menggelar B-Fest dengan total 102 even sepanjang tahun.

Menurut Anas, meski di masa pandemi B-Fest tetap harus digelar. Karena selama ini Banyuwangi Festival mampu menggerakkan ekonomi rakyat, dibuktikan dengan penurunan kemiskinan dan peningkatan pendapatan per kapita Banyuwangi secara sangat signifikan.

Baca Juga  Kelola Sampah, Bumdes Tembokrejo Raup Rupiah

“B-Fest ini menjadi instrumen pemulihan ekonomi. Banyuwangi Festival akan menjadi salah satu instrumen pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19, dengan tiga tujuan utama: membangun optimisme rakyat, memperkuat solidaritas sosial, dan membuka kembali banyak lapangan kerja,” kata Anas.

B-Fest tahun ini menggunakan hybrid konsep, karena penyelenggaraannya harus mematuhi protokol kesehatan. Konsep hibrid yang diusung bukan sekadar menyiarkan aktivitas luring ke media daring seperti Youtube maupun live media sosial, tapi sudah lebih jauh dari itu, yaitu mengintegrasikan konsep daring dan luring. Mulai dari aktivitas pariwisata hingga transaksi UMKM. (*)