Ayam Panggang Gandu Bikin Rindu

39
Ayam panggang Bu Setu rasa rujak

Terdiri dari dua varian rasa saja, Warung Ayam Panggang Bu Setu terbilang sukses memikat hati para pecinta kuliner. Buktinya, dari sederet warung ayam panggang di Desa Gandu, Kec. Karangrejo, Kab. Magetan, warung ini lah yang paling diburu dan ramai dikunjungi.

RASA penasaran crew Puspa terhadap Warung Ayam Panggang Bu Setu akhirnya terjawab (12/11). Papan penunjuk arah yang dipasang tepat di pertigaan Karangrejo menjadi penanda bahwa tujuan yang dicari semakin dekat. Meski disana banyak warga yang menjual ayam panggang, namun yang dicari tetap milik Bu Setu.

Salah satu dari crew sampai memanfaatkan aplikasi google map sebagai penunjuk jalan agar lebih cepat sampai di lokasi. Nah, selepas memasuki gang kecil berpaving menyerupai jalan setapak, crew berjumpa plakat besar bertuliskan ‘SPESIAL AYAM PANGGANG KAMPUNG BU SETU’. Dan itu artinya, apa yang dicari sudah di depan mata. “Alhamdulillah, akhirnya…,” ujar salah satu  crew yang paling penasaran.

Warung Bu Setu adalah sebuah rumah yang disulap menjadi warung yang dikonsep mayoritas lesehan. Memasuki area warung, saking penasarannya, pertama yang dituju adalah dapur tempat memanggang ayam. Disana, beberapa karyawan terlihat beraktivitas sesuai peran masing-masing. Ada yang mengupas bawang, ada yang menyiapkan rempah-rempah, ada pula yang berdiri di depan tungku.

Tungku tersebut berbahan tanah liat. Api yang menyala di dalamnya berkobar dengan cukup stabil. Ayam-ayam yang dipanggang itu dibelah dan ditusuk tengahnya dengah kayu agar mudah untuk dibolak-balik saat proses memanggang. Ada yang beda, dari sekian ayam yang dipanggang, ada yang berwarna merah, ada pula yang berwarna coklat.

Asyik memfoto proses pemanggangan ayam, tiba-tiba ada karyawan yang mendekat. “Pesan yang rasa apa mas, mbak? Disini ada dua rasa, ada rasa rujak dan bawang. Kalau rasa rujak pedas, yang merah itu. Kalau rasa bawang gurih, yang kecoklatan,” tuturnya. Dan crew mencoba mencicipi olahan ayam panggang rasa rujak.

Setelah memesan, crew mencari tempat duduk. Beberapa pengunjung di beberapa sudut ruang nampak asyik kongkow dengan rombongan, tak lupa dengan suguhan ayam pangang dan aneka lauk tambahan milik Bu Setu. Selang beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan crew pun datang dan siap disantap bersama-sama.

Suguhan pertama yang datang adalah ayam panggang. Disusul sebakul nasi, es jeruk, aneka sayur segar (kubis, timun, irisan tomat, daun selada dan kemangi), urap-urap, sambal, pelas dan bothok. Di warung milik Bu Setu, lauk penyerta ayam panggang yang khas adalah pelas dan bothok itu sendiri.

Pelas terdiri dari kedelai hitam yang direbus matang serta dimasak menggunakan parutan kelapa muda dengan sedikit kuah santan encer, ditambah sedikit kencur untuk menambah kesegaran rasa. Sedang bothok terdiri dari aneka sayuran yang dipotong kecil-kecil dan diolah menjadi satu.

Untuk mencipipi, harga yang dipatok relative bersahabat. Kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu sudah bisa disantap untuk empat atau lima orang. Kalau untuk ayam panggang saja rata-rata Rp 65 ribu hingga Rp 75 ribu per ekor. “Ya…, termasuk murah. Ini saja sampai kekenyangan. Keunggulannya di bumbunya, lebih terasa di lidah,” imbuh Nikmah, pengunjung. (Fan)