Koen Irianto Uripan SH MM, Ketua Umum APPSANI

Bangun Ribuan Jamban Cicilan tanpa Agunan

50
Koen Irianto Uripan

Jamban sehat menjadi syarat utama agar tingkat kesehatan masyarakat meningkat. Untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat yang belum memiliki jamban, Koen Irianto merintis usaha jamban cicilan tanpa agunan. Seperti apa?

Dalam mewujudkan masyarakat sehat, masyarakat harus terbebas dari ODF (Open Defection Free) atau BAB sembarangan. Untuk itu, keberadaan jamban sehat harus ada di setiap rumah. Faktanya, tidak semua keluarga memiliki jamban.

Untuk memberikan kemudahan akses jamban sehat kepada masyarakat, Koen Irianto Uripan menggagas jamban cicilan. Setiap bulan, peserta program hanya perlu membayar cicilan sebesar Rp 226 ribu per bulan selama enam bulan. Untuk mengikuti program tersebut, masyarakat tidak perlu memberikan agunan.

“Saya sudah bangun 5 ribu unit jamban di Surabaya. Bulan ini saya membangun sekitar 200 unit. Orang sebut saya Koen Irianto WC, tapi saya menyebutnya Water Close. Padahal sama saja,” ujar Koen saat ditemui pada pertengahan bulan Desember 2018 lalu.

Berkat kiprahnya, Koen beberapa kali mendapatkan penghargaan. Antara lain, penghargaan dari Gubernur Jatim, Pakde Karwo dan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Saat ini Ketua APPSANI (Asosiasi Pengelola dan Pemberdayaan Sanitasi Indonesia) ini juga getol menyosialisasikan rumah sehat di beberapa acara. Dia menjelaskan, rumah sehat harus memenuhi lima pilar. Yakni, stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, penampungan dan resapan untuk limbah rumah tangga, makanan bersih dan minuman bersih dengan menyediakan stok air bila terjadi kekeringan.

“Ini model rumah sehat dan dapat mencegah stunting. Tak harus rumah yang bagus. Memenuhi lima pilar ini sudah cukup,” katanya sambil menunjukkan model rumah sehat dalam bentuk mini.

Model rumah sehat yang dikenalkan Koen Irianto Uripan.

Awal mula berkecimpung di dunia sanitasi karena ketidaksengajaan. Koen yang memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pengacara ini diminta menjadi pembicara pengganti dalam salah satu forum yang dihadiri Bank Dunia dan Kementerian Kesehatan RI pada 2008 lalu. Tak dinyana, mereka tertarik dengan caranya melatih. Akhirnya, Koen memilih untuk menekuni sociopreneur. Kini dia menempuh pendidikan doktoral Pengembangan SDM di Unair Surabaya.

“Saya ingin mempertajam pelayanan saya pada masyarakat, khususnya jamban sehat. Saya tidak peduli mereka kaya atau miskin, yang penting mereka belum punya. Saya juga berikan edukasi kepada mereka,” tuturnya.

Bidang sociopreneur yang dia jalani juga menciptakan lapangan kerja. Saat ini dia memiliki 30 orang tukang yang membangun jamban. Sebelum bekerja untuknya, para tukang tersebut dia sekolahkan. “Saya berusaha meningkatkan perekonomian rakyat melalui jamban sehat dan sanitasi,” pungkasnya. (uul)