Batik Warna Alam Jombang, Diminati Hingga Luar Negeri

243
Wawan menunjukkan batik warna alam produksinya. (foto; Ulviyatun Ni'mah)

Batik warna alam memiliki penggemar yang tidak sedikit karena ramah lingkungan dan bebas bahan kimia. Tak tanggung-tanggung, peminatnya banyak berasal dari luar negeri. Seperti halnya batik Kembang Turi yang dirintis Kusdiawan asal Jombang.

Batik dengan warna-warni yang lembut menjadi ciri khas batik Kembang Turi. Batik yang dibuat Kusdiawan ini memang terbuat dari bahan pewarna alam, seperti daun mangga dan kayu mahoni. Karena itulah warna-warna yang dihasilkan pun tidak mencolok.

Usaha batik yang berlokasi di Candimulyo, Jombang ini dirintis Wawan -begitu ia kerap disapa- sejak tujuh tahun lalu. Berawal dari ikut-ikutan teman, dia akhirnya memberanikan diri merintis usaha batik. Dia membekali diri dengan kemampuan membatik yang dia peroleh secara otodidak.

Wawan mengatakan prospek usaha batik pewarna alam saat ini banyak diminati orang. Di antaranya adalah orang luar negeri. Pelanggannya banyak yang berasal dari Singapura, dan negara lain. Wawan tidak mengeskpor batiknya secara langsung, akan tetapi melalui desainer-desainer yang menjadi pelanggannya. Dalam satu bulan, dia bisa meraih omzet sekitar Rp 25 juta.

“Batik dari kami, sementara desainnya dari desainer. Batik yang sudah jadi itulah yang dikirim ke luar negeri,” katanya.

Pembuatan batik pewarna alam memerlukan kesabaran tersendiri. Selembar batiknya diproduksi selama dua hari hingga satu bulan. Mulai dari proses ngemal gambar ke kain, menyanting, hingga pewarnaan. Warna yang dihasilkan juga berbeda di setiap lembar batiknya. Karena itulah harga batik pewarna alam berbeda dengan pewarna sintetis. Setiap lembar batik yang dia produksi dibanderol dengan harga Rp 200 ribu sampai Rp 6,5 juta. Besar harga tergantung dari tingkat kesulitan mencanting.

“Pembatik warna alam biasanya kesulitan saat melorot (proses menghilangkan malam dari batik). Batik biasa lebih mudah karena pakai bahan kimia bisa lepas sendiri. Kalau warna alam tidak boleh pakai kimia, harus pakai air saja,” ujarnya.

Meski memakai pewarna alam, Wawan menjamin produk batiknya tahan lama dan tidak mudah pudar meskipun dicuci menggunakan mesin cuci. “Itu keistimewaan batik kami,” sambung Wawan.

Dalam menjalankan usahanya, kendala juga dirasakan Wawan. Salah satunya ketika pemasaran sedang seret sedangkan produksi terus dilakukan. Dengan demikian, perputaran uangnya terhenti. Selama ini, usaha batik yang menjadi binaan perusahaan BUMN ini dipasarkan melalui offline dan secara online. Baik melalui aplikasi Whatsapp atau Instagram.

“Yang penting telaten dan jangan putus asa. Batik sekarang bagus, besok cacat sudah biasa,” katanya.

Untuk membantu proses produksi, Wawan dibantu tenaga yang direkrut dari luar daerah, seperti Tulungagung, Tuban, Madura. Hal itu dilakukan karena minimnya pembatik di Jombang. Dia menceritakan selama lima tahun terakhir telah berusaha memberdayakan warga Jombang untuk membatik. Namun, hasilnya belum memuaskan. “Itu keinginan kami dan orang dinas juga. Tapi sulit. Meskipun begitu, kami terus berusaha,” tuturnya.

Di akhir perbincangan, Wawan menyampaikan harapan agar orang Indonesia memakai batik yang dibuat perajin lokal. “Pokoknya batikku, batikmu, batik kita,” pungkas Wawan sambil tersenyum. (ima)

Data Usaha:

  • Nama Usaha   : Batik Kembang Turi
  • Pemilik            : Kusdiawan
  • Alamat            : Candimulyo, Jombang
  • Telepon           : 085745186517