Beragam Kegiatan Tandai Start Ekspedisi Destana BNPB di Banyuwangi

29
PEMASANGAN INFO BENCANA. Ekspedisi Destana BNPB mulai dilangsungkan Jumat (12/7) di Banyuwangi. Start ekspedisi itu ditandai dengan beragam kegiatan, salah satunya, pemasangan info bencana.

Kerawanan bencana yang kerap terjadi di berbagai wilayah negeri ini kini menjadi perhatian serius Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dengan menggandeng berbagai instansi dan pemerintah daerah, BNPB kini melakukan upaya penyadaran kesiap-siagaan bencana.

Bentuknya melalui ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana) yang dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, Jumat (12/7). Rencananya, ekspedisi itu akan keliling wilayah pesisir selatan pulau Jawa mulai Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Pacitan, dan berlanjut hingga ke Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten.

Sebanyak 584 desa rawan gempa dan tsunami yang akan dilalui ekspedisi selama 34 hari mulai 12 Juli 2019 sampai 17 Agustus 2019 ini. Daerah yang termasuk prioritas bukan hanya dikunjungi tapi penduduknya juga akan diberi edukasi terkait pola-pola kesiapsiagaan bencana.

Ekspedisi Destana ini sengaja dimulai dari Bayuwangi karena tahun 1994 lalu pernah terjadi gempa dan tsunawi di wilayah Banyuwangi yang memakan korban lebih dari 250 orang.

“Kami ingin mengingatkan kembali ingatan masyarakat supaya tidak lupa. Sebab peristiwa itu sangat mungkin berulang, karena ini peristiwa alam, ada siklusnya. Hanya saja kita tidak tahu, kapan. Makanya perlu senantiasa waspada,” ujar Kepala BNPB Letjen Doni Monardo usai bertemu dengan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Kamis (11/7) malam.

Sementara, start dimulainya ekspedisi destana di Banyuwangi dilangsungkan Jumat (12/7) sore kemarin di Pantai Boom Banyuwangi. Launching kegiatan itu ditandai dengan pelepasan tukik (anakan pe

Mewakili Gubernur Jatim. Kepala BPBD Prov. Jatim, Suban Wahyudiono, turut menandai dimulainya ekspedisi destana dengan menanam Pohon Cemara Udang di Pantai Boom, Banyuwangi.

nyu), pemasangan info bencana, dan penanaman pohon cemara udang.

Dalam acara pembukaan itu, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo juga memberikan pengarahan langsung kepada masyarakat, aparat pemerintah, kalangan akademisi, kalangan  dunia usaha dan pegiat media. Sekitar seribu orang turut hadir memeriahkan acara pembukaan tersebut.

“Kegiatan ekspedisi destana mistigasi untuk tsunami ini sangat dibutuhkan. Karena sebagian besar pantai di selatan Jawa ini pernah terjadi gempa dan tsunami. Peristiwa ini sangat mungkin akan terulang kembali. Karena itu, kami mengingatkan kembali masyarakat agar kita selalu waspada. Bukan untuk menakut-nakuti atau menimbulkan kekhawatiran, hal ini semata-semata membangun sebuah semangat kesiap-siagaan,” tegas Doni Monardo, Sabtu (13/07).

Doni berharap, dengan ekspedisi Destana ini, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi peristiwa alam dengan kapasitas yang besar. Bukan hanya di tingkat desa, namun hingga di tingkat yang paling rendah, yaitu, keluarga bahkan perorangan. Sebab, selama ini mayoritas yang menjadi korban tsunami adalah ibu-ibu dan anak-anak.

Khusus di Bumi Blambangan, Banyuwangi, kegiatan ekspedisi berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu hingga Minggu (13/7)  dengan mengangkat tema “Kita Jaga Alam Jaga Kita”.

Kegiatan ini digelar dengan menggandeng Badan Sar Nasional (BSN), Kemendagri, Kominfo, BMKG, organisasi kemasyarakatan, serta PMI.

Di Jatim, kegiatan ini disupport penuh oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Jatim. Kepala BPBD Jatim, Suban Wahyudiono pun terus mendampingi kegiatan Ekspedisi Destana selama dua hari ini.

Ia mengatakan, khusus di Jatim, kegiatan akan berlangsung selama 11 hari, mulai dari Banyuwangi hingga Pacitan. Sebanyak delapan daerah yang akan dikunjungi ekspedisi  ini, termasuk Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan. (yus)