Berbagi Keindahan dengan Coban Parang Tejo

221
Loket masuk wisata

Berada di lereng Gunung Buthak, wisata satu ini semakin berhasil menyuguhkan keindahan. Air terjun yang tersimpan di sela tebingnya mengalir lembut. Langkah demi langkah pengunjung  akan dimanja beragam spot dengan konsep yang unik. Mulai jembatan hutan, rumah kulu-kulu, sampai ayunan maut.

BEBERAPA orang terlihat bergerombol di warung yang letaknya tak jauh dari loket, kira-kira 25 meter. Sebagian dari mereka mengenakan sepatu boot karet dan berkaos panjang, tubuhnya bau keringat. Mereka adalah petani sayur warga Dusun Princi, Desa Gading Kulon, Kec. Dau, Kab. Malang yang sedang melepas dahaga.

Senyum sapa mereka membuat Derap Desa memutuskan ikut nimbrung sebelum berjalan menyusuri indahnya coban. Beruntung, di sela obrolan ada wakil ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gading Kulon yang siap menemani berkeliling. “Disini saja dulu, mas. Nanti sebentar lagi saya antar keliling,” tawarnya penuh ramah.

Orang-orang di warung akrab memanggilnya Pak Priyo. Ia menuturkan, sebelum menjadi wisata, LMDH bekerja sama dengan Perhutani untuk melakukan pembenahan terhadap lingkungan yang rusak. Salah satunya, kata dia, dengan menanam beberapa jenis pohon yang bisa tumbuh besar dan kopi unggulan.

Lambat laun, berjalannya waktu inisiatif mengelolahnya menjadi desa wisata pun muncul. Potensi yang dilihat adalah keberadaan air terjun yang lokasinya berada di lereng Gunung Buthak.

Istimewanya, air terjun itu mengalir lembut dan biasanya saat pagi muncul pelangi diantara gemericik air.

Gemuruh air terjun dibalik pepohonan yang diterpa kabut

Karena itu lah, coban ini dikenal dengan nama Parang Tejo. Parang berarti tebing dan Tejo artinya pelangi. Walhasil, sejak sembilan bulan lalu, keanggunannya mulai dikunjungi wisatawan. Dan ternyata, selain peran LMDH dan Perhutani, ungkap Priyo, yang lebih berperan dalam penataan spot dan area adalah investor asal Malang dengan background pecinta alam.

Matahari semakin beranjak ke ufuk barat, pertanda sang surya akan segera tenggelam. Setelah lama bersua, akhirnya Priyo mengajak berkeliling ke area wisata. Satu persatu ia mengenalkan nama-nama spot yang dimiliki. Mulai jembatan hutan sampai bukit terbang yang terkenal dengan ayunan mautnya.

Pertama, Priyo mengajak menyusuri jembatan hutan dari kayu yang dibangun memanjang. Latar belakang disekitarnya adalah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Kedua, ada taman peterpan, spot berupa sekumpulan ranting pohon yang ditata menyerupai pintu dengan kupu-kupa yang berwarna warni.

“Kalau itu, namanya rumah kulu-kulu. Konsepnya ya seperti rumah ala orang Papua begitu,” tandasnya sambil menunjuk lantas terkekeh. Spot satu ini terkesan unik dan sangat alami. Semacam gubuk yang hanya terbuat dari ranting kayu dan beratap rumput kering. Lengkap dengan tangga dari potongan batang pohon.

Spot selanjunya adalah bukit terbang, kawasan terbuka berupa taman di sekitar puncak perbukitan. Lengkap dengan beragam spot selfie yang cukup instagramble. Yaitu; bunga raksasa, sayap, rumah kayu, rangkaian bunga berbentuk hati dan ayunan maut. Tak jauh dari bukit terbang, ada juga lokasi outbond dan camp ground guna melatih ketangkasan.

ayunan maut, spot paling digemari

Akhir-akhir ini spot paling digemari adalah ayunan maut. Mengapa? Ya, karena, di spot ini pengunjung bisa memacu adrenalin sembari memandang pemandangan lepas. Pengunjung bisa duduk atau berdiri di atas ayunan yang menggantung dari ketinggian dengan latar belakang perbukitan dan hamparan pohon pinus, indah sekali.

Setelah puas ber-swafoto, berbagi keindahan yang terakhir adalah dengan Coban Parang Tejo sendiri. Dari kejauhan, gemericik airnya sudah terdengar lembut. Namun, untuk menuju kesana pengunjung perlu berjalan sekitar 500 meter. Meski berjalan lumayan jauh, pengunjung tak akan rugi dengan keindahan tebing pelangi ini.

Syaiful (23), pengunjung berswafoto di spot rumah kulu-kulu

Syaiful (23), pengunjung mengaku, cukup puas menyusuri spot yang ada di area Coban Parang Tejo. “Sayangnya datangnya kesorean. Coba kalau datang lebih siang, pasti mendapat foto-foto yang lebih bagus,” imbuhnya (ndi)

Berharap Mampu Optimalkan Elemen Desa

Keberadaan wisata Coban Parang Tejo memang menjadi berkah bagi warga Desa Gading Kulon. Kesejukan dan keasriannya kini dikenal khalayak. Saat hari libur saja, kata Priyo, pengunjung bisa mencapai ratusan. Apalagi, pengelola kini juga membuka jalur baru mendaki Gunung Buthak 2868 mdpl dengan loket yang sama.

Priyo, wakil ketua LMDH Desa Gading Kulon

Untuk biaya mendaki pengunjung perlu membayar Rp 10 ribu. Sedangkan menuju coban dengan beragam spotnya, pengunjung perlu membayar Rp 15 ribu. Namun, untuk saat ini penjaga loket hanya melayani mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB saja.

Priyo menuturkan, kedepan, pengelola akan mengonsep wisata agar bisa dikunjungi di malam hari. Selain itu, karena menjadi jalur pendakian, juga akan dikonsep untuk buka 24 jam. Satu langkah yang diambil, lanjut dia adalah berusaha bersama untuk mengoptimalkan keberadaan elemen desa yang lain.

“Ya, seperti karangtaruna dan BUMDesa. Karangtaruna nanti mungkin bisa difungsikan untuk membantu lahan parkir, kalau BUMDesa kan bisa untuk memikirkan potensi usaha lain yang bisa digandeng dengan wisata supaya lebih berkembang,” paparnya.

Ia juga menambahkan, wisatawan yang mau berkunjung tak perlu khawatir. Fasilitas seperti musala, kamar mandi dan wifi pun sudah tercukupi. Bahkan, di wisata ini, air bersih pun melimpah. (ndi)