Berdaya di Masa Pandemi, Desa Ketapanrame Seimbangkan Berkah dan Sedekah

413

Inovatif dan kreatif. Begitulah kurang lebih gambaran kesuksesan yang diraih Pemerintah Desa (Pemdes) Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dalam upaya menyejahterakan warga. Mereka seolah tak pernah lelah berinovasi guna melahirkan ide-ide kreatif. Tak pernah takut mencoba dan terus mencoba. Trial and error. Lantas hasilnya seperti apakah?

Udara sejuk pagi itu terasa menyegarkan badan. Mereka yang sedang beraktivitas tampak nyaman. Sesekali angin berhembus lembut menyapa siapa pun yang berkunjung ke sana, sekadar menikmati udara bersih atau melihat indahnya kawasan Desa Ketapanrame, yang terletak di ketinggian sekitar 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Desa yang ada di lereng Gunung Welirang dan di antara Gunung Penanggungan itu memiliki potensi sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Bila dua potensi itu dipadukan, pasti luar biasa output atau hasilnya. Kepemimpinan Kades (kepala desa) H Zainul Arifin, SE, antara lain juga berandil besar serta menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam menyejahterakan warga.

“Alhamdulillah, warga kami (Ketapanrame, red) adalah orang-orang yang hebat. Mereka rajin bekerja, nggak peduli itu di sawah, ladang, kebun, berdagang, kerja swasta atau sebagai pegawai negeri,” ujar Kades Zainul Arifin, yang kepemimpinannya memasuki periode ketiga itu.

Menurut Kades, dari sekitar 6.000 lebih jumlah penduduk yang tersebar di tiga dusun yakni Dusun Sukorame, Ketapanrame dan Dusun Slepi, masyarakatnya sangat dinamis. Jika beberapa tahun lalu dominan bercocok tanam, kini mereka lebih banyak berdagang. Pergeseran pekerjaan itu begitu terasa.

“Kesejahteraan dan kemakmuran bisa dicapai dengan kerja keras dan kerja cerdas,” lanjut Kades. Ya, begitulah masyarakat Desa Ketapanrame dalam mencapai kesejahteraan. Cerdas di sini dimaknai kreatif dan inovatif hingga berbuah prestasi prestisius. Dan kerja keras adalah giat melakukan aktivitas.

Salah satu wahana wisata di Taman Ghanjaran

Desa Ketapanrame memiliki alokasi dana desa (ADD) Rp 475 juta dan dana desa (DD) sebesar Rp 760 juta. Ditambah PAD sekitar Rp 256 juta dan BHPR (Bagi Hasil Pajak dan Retribusi) sekitar Rp 355 juta, sehingga total anggaran tahun 2020 sebesar Rp 1,8 miliar. Tahun sebelumnya nilainya sekitar Rp 2,1 miliar, namun ada beberapa pos anggaran yang tidak muncul lagi di tahun anggaran 2020.

Ketapanrame merupakan desa yang sarat prestasi. Itu semua tak lepas dari kemampuan, kemauan, dan keguyuban warga. “Warga kami sangat dinamis. Mereka juga tak sulit diajak maju, meskipun dalam rapat- rapat atau pertemuan, kadang-kadang ada friksi. Itu wajar saja ada yang berpikiran beda atau berseberangan,” tambah Rokhmad Syafi’i, SPd, Sekretaris Desa (Sekdes) Ketapanrame, yang menguatkan pernyataan Kades.

Kondisi alam dan keadaan tanah di Ketapanrame sangat subur dan cocok ditanami sayuran, buah-buahan maupun tetumbuhan lainnya, karena desa berluas sekitar 345.460 hektar itu berada di kawasan pegunungan dengan tingkat kemiringan desa 35°. “Apa pun bisa ditanam, terutama buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman keras lainnya,” tutur Kades Zainul.

Tidak hanya olahan lahan pertanian yang membuahkan hasil, namun kreativitas yang mereka lakukan dengan berbagai inovasi dan kreasi yang muaranya berujung prestasi. Desa yang memiliki beberapa objek wisata alam maupun buatan itu meraih berbagai prestasi mengagumkan. Mulai level kabupaten hingga tingkat nasional. “Kami sangat bangga atas capaian tersebut. Tentu itu semua tak bisa diraih tanpa kerja sama dan gotong royong masyarakat. Sifat gotong royong itulah yang akan terus kami pertahankan,” imbuh Kades.

Baca Juga  Bergotong Royong demi Balai Desa
Gambar wahana wisata di Taman Ghanjaran

Sementara itu Sekdes Rokhmad Syafi’i menambahkan, pemikiran warga kerap memunculkan ide-ide kreatif, inovatif dan cerdas. Program desa seringkali lahir dan muncul dari warga, yang di dalamnya termasuk perangkat desa. Sehingga wajar prestasi pun bisa direngkuh, contohnya menjadi juara I BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) tingkat Jawa Timur Tahun 2020, juara I tingkat nasional Desa Sejahtera Astra (DSA) Tahun 2020 dan capaian-capaian lain sebelumnya, antara lain meraih terbaik IV tingkat nasional lomba gotong royong tahun 2019.

Keberhasilan merenggut prestasi juara I lomba Desa Sejahtera Astra dicapai dengan menyisihkan lebih dari 750 desa dari 34 provinsi se-Indonesia. “Kami juga kaget, Desa Ketapanrame mampu menjadi juara I. Padahal sistem penilaiannya juga nggak kami ketahui, karena dilakukan dengan cara daring (dalam jaringan),” tutur Sekdes.

Seperti diketahui, Astra yang memiliki program kontribusi sosial berkelanjutan yakni Kampung Berseri Astra (KBA) dan Desa Sejahtera Astra ( DSA) selalu berupaya melakukan pengembangan masyarakat agar terus berinovasi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Astra sudah membina 116 KBA dan 755 DSA yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

DSA lebih difokuskan pada pengembangan ekonomi desa, dengan memberikan nilai tambah melalui pelatihan, pendampingan, bantuan prasarana, permodalan dan penggalian offtaker pada produk unggulan kawasan pedesaan. Ketapanrame adalah salah satu desa yang memiliki keunggulan dan mendapatkan bantuan tersebut.

Unit Pariwisata dan Taman Ghanjaran

Unit usaha BUMDes Ketapanrame yang paling menonjol adalah Unit Pariwisata, yang bermitra dengan kelompok usaha bersama (KUB). Justru unit tersebut mampu eksis di saat pandemi virus Covid-19 menghantam negeri ini. Meski tertatih-tatih, toh lini usaha yang mereka kembangkan itu masih bisa bertahan dan menghidupi warganya. Masa pandemi tak menyurutkan nyali masyarakat untuk terus beraksi.

Salah satu sudut objek wisata Taman Ghanjaran

Menurut Sekdes Rokhmad, unit usaha pariwisata ini malah ikut membantu warga yang tak bekerja. Langsung maupun tidak langsung mereka yang kebetulan tidak memiliki usaha atau pekerjaan, ditampung untuk membantu pekerjaan di sana. Mulai menjaga stan wahana, stan kuliner, bertugas di loket-loket hingga menjadi tukang parkir.

Objek wisata yang sedang ngetren dalam naungan BUMDes Ketapanrame itu adalah Taman Ghanjaran, yang diresmikan Wabup Mojokerto H Pungkasiadi, SH, pada 6 Desember 2018. Diberi nama demikian karena objek tersebut berasal dari tanah ganjaran atau bengkok yang biasanya menjadi hak kelola perangkat desa. Karena sekarang dikembalikan ke desa maka tanah-tanah itu dikelola oleh pemerintah desa bersama BPD (Badan Perwakilan Desa) yang mengamanahkan kepada BUMDes.

Sekdes Rokhmad lantas bercerita soal Taman Ghanjaran yang melibatkan semua warga Ketapanrame. “Di sini (Ketapanrame, red) ada 1.300 KK (kepala keluarga) dan sekitar 6.000 jiwa penduduk. Semua KK kami kumpulkan untuk berembug, bagaimana enaknya Taman Ghanjaran ini. Dikembangkan seperti apa dan lainnya,” kata dia.

Baca Juga  Objek Wisata Kab Mojokerto Tutup Sementara

Akhirnya, lanjut Rokhmad, disepakati urunan atau bahasa kerennya ada dana investasi setiap KK untuk membuat wahana wisata di Taman Ghanjaran. Tetapi tidak semua bisa ikut. Karena tiap KK punya problem berbeda, akhirnya hanya sekitar 400 KK yang mau atau kurang dari separo. Masing-masing berinvestasi maksimal Rp 10 juta dan terkumpul dana Rp 4 miliar.

Investasi warga itu dilakukan per Juni 2020, saat pandemi virus Covid-19 masih “berkuasa”. Kata Sekdes, hanya dengan tekad bulat dan keyakinan tinggi, mereka pun menjalankan usaha itu. Dan ternyata hasilnya mulai bisa dirasakan. Investor (warga) mendapatkan 10 persen di setiap keuntungan wahana. “Ya alhamdulilah, mereka kini bisa merasakan. Minimal ada pemasukan lain,” tutur Rokhmad.

Sekdes Rokhmad (kanan) dan M Yasin, Ketua BPAM Tirto Tentrem

M. Yasin, salah satu warga yang ikut urunan Rp 10 juta, tak menampik manfaat investasi wahana. Dia bisa merasakan hasil urunannya. “Bagi kami sekeluarga, ya lumayan ada pemasukan lain. Memang awal investasi sempat ragu, tetapi akhirnya kami tekad untuk ikut. Alhamdulillah..mudah-mudahan lancar dan bisa terus lanjut,” kata Yasin, yang juga Ketua BPAM Tirto Tentrem.

Keberadaan Taman Ghanjaran ternyata menjadi daya tarik wisata di kawasan Trawas. Tren pemasukan pun cenderung naik. Setidaknya Rp 25 juta perhari. Bahkan pada Bulan Agustus lalu mendapatkan pemasukan sebesar Rp 1,3 miliar. Sekitar 10 persen atau Rp 130 juta masuk ke kas BUMDes. Dari awal tahun hingga November 2020, SHU BUMDes sudah mencapai angka Rp 1,7 miliar. Tahun 2019 SHU-nya Rp 1,2 miliar, yang berarti ada peningkatan signifikan.

Salah satu wisatawan asal Surabaya, Sri Rahayuningsih, yang datang bersama cucu dan suaminya, tampak sukacita di Taman Ghanjaran. “Wahana lumayan juga ada kulinernya. Yang paling enak, udaranya sejuk dan segar. Kami baru pertamakali ke sini, kapan-kapan ingin plesir ke sini lagi,” kata Sri.

Tak hanya berkah keuntungan yang diraih, tetapi juga bersedekah untuk fakir miskin dan anak yatim di desa tersebut. Namun, untuk yang sedekah ini diambilkan sekitar 30 persen dari keuntungan investor yang ikut urunan lebih dari Rp 10 juta. Jadi, keuntungan investasi yang kedua dan seterusnya dipotong 30 persen. Hanya 40 KK yang ikut lebih dari satu investasi.

“Saya juga termasuk ikut yang investasi lebih. Ya, itung-itung bersedekah untuk warga miskin dan yatim piatu. Kami juga sudah membagikan langsung tunai kepada mereka yang berhak. Istilahnya nggendhong ngindhit. Kami bisa meraup keuntungan tetapi juga ikut membantu kaum papa. Biar ada keseimbangan hidup ini,” kata Sekdes Rokhmad.

Kata Rokhmad, masih banyak gagasan yang siap dituangkan menjadi program. Tinggal bagaimana pendanaannya. “Kami (desa) ini seperti perusahaan,” lanjut Sekdes. Dalam menjalankan roda organisasi pemerintahan ada perencanaan melalui Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan & Pembangunan Perdesaan) hingga pelaksanaan dan output yang bisa dicapai.

Balai Desa Ketapanrame yang tampak gagah dan asri

Pemerintah Desa (Pemdes) Ketapanrame memang tidak serta-merta menjalankan roda pemerintahan murni ala perusahaan, namun tetap ada sisi sosial kemasyarakatan, seperti lazimnya desa-desa yang lain. “Kami senantiasa melayani masyarakat secara maksimal, profesional dan proporsional. Bahkan pengabdian kami pun sangat total,” ujar Sekdes.

Baca Juga  Ketua PPDI ini Kondang dengan Julukan 'Ki Bledek Abang'

Desa ini kerap menjadi jujukan studi banding desa maupun daerah lain di Indonesia, seperti dari Kalimantan dan Sumatra serta daerah lainnya. Kedatangan mereka tetap disambut baik dan menjadi “teman sharing” bagi Pemdes Ketapanrame. (Edi T. Jatmiko)
========

Miliki BUMDes Sebelum Ada UU Desa

Desa Ketapanrame berhasil meraup berbagai prestasi juara antara lain berkat keunggulan dan kepemilikan BUMDes atau Badan Usaha Milik Desa dengan Herwanto, SPt, sebagai direkturnya. Keberadaan BUMDes di desa tersebut lahir sebelum pemberlakuan Undang-Undang Desa. “Kami justru lebih dulu ada,” kata Herwanto.

Boleh dikatakan, BUMDes Ketapanrame yang kala itu berdiri Tahun 2001 dan secara legal formal diakui pemerintah adalah embrio dari BUMDes yang ada dan berkembang saat ini. Saat itu baru satu unit usaha yakni pengelolaan air minum, yang sebelum bernama BPAM (Badan Pengelola Air Minum) masih dalam naungan Hippam.

Sumber Gempong, salah satu dari beberapa sumber air di Desa Ketapanrame

Dikatakannya, ada empat unit usaha garapan yang dinaungi BUMDes Ketapanrame yakni Unit BPAM (Badan Pengelola Air Minum) ‘Tirto Tentrem’, kemudian Unit Kebersihan Lingkungan, Unit Simpan Pinjam dan Unit Pariwisata. “Yang cukup eksis adalah pengelolaan air minum dan pariwisata,” imbuhnya.

Menurut Ketua Unit BPAM Tirto Tentrem, M. Yasin, apa yang dilakukannya adalah berusaha semaksimal mungkin mengembangkan unit usaha yang diketuainya. Apalagi Ketapanrame memiliki banyak sumber mata air dan hanya empat yang dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum.

Keempat sumber mata air itu adalah Dlundung dan Bejo yang ada di Dusun Ketapanrame, kemudian sumber air Tandakan dan Sekoro di Dusun Slepi. Ada lagi Sumber Gempong di Dusun Sukorame yang disiapkan serta dikonsep sebagai objek wisata bawah air seperti sumber air Ponggok, Klaten (Jateng). “Di Sumber Gempong nanti juga akan kami jadikan pusat kuliner,” tutur Yasin.

Pengelolaan air minum selama ini untuk memenuhi kebutuhan warga desa, vila dan hotel di Trawas dan sekitarnya. Serta dijual hingga ke luar kota. Apalagi TDS (Total Dissolved Solid) yakni jumlah padatan logam terlarut dalam air relatif rendah. “Dan di antara sumber air itu, yang paling rendah TDS-nya di sumber Bejo,” lanjut Yasin.

Sementara itu unit usaha kebersihan lingkungan semata-mata ada guna meningkatkan kualitas hidup warga Ketapanrame Menurut Sekdes Rokhmad Syafi’i, unit tersebut ada dengan penerapan sistem 3R yakni Reuse, Reduce dan Recycle. Masalah sampah di masyarakat ini akhirnya bisa tertangani dan tertampung sejak Tahun 2008, yang pengambilan sampahnya seminggu dua kali.

Keindahan taman di Sumber Gempong

Sedangkan unit usaha simpan pinjam ada seperti umumnya BUMDes di desa-desa lain. Namun BUMDes Ketapanrame memanfaatkan bantuan keuangan (BK) program Pemprov Jatim yakni Jalin Matra (Jalan Lain menuju Masyarakat Sejahtera) yang nilainya Rp 50 juta. “Alhamdulillah, sudah berkembang tetapi saya persisnya belum tahu nilai yang berkembang atau berputar di unit simpan pinjam ini,” imbuh Rokhmad.

Yang jelas, Desa Ketapanrame mampu memberdayakan potensinya, baik keunggulan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Mereka berhasil memadukan semua potensi menjadi kekuatan ekonomi di masa pandemi. Sukses terus untuk Desa Ketapanrame. (edt)