Kiat Sukses BUMDesa Kabupaten Malang

Berkembang Berkat Sentuhan Potensi Wisata

103
Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam acara Jambore BUMDesa dan Launching Klinik BUMDesa tahun 2019. Foto : Ahmad Farid/derapdesa.id

Keseriusan dalam mengelola BUMDesa membuat segenap pihak ramai-ramai mengapresiasi Kabupaten Malang. Bahkan, secara khusus Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), berencana menjadikan dua BUMDesa di daerah ini sebagai pilot project secara nasional. Seperti apakah?

KABUPATEN Malang menjadi satu percontohan sukses pemanfaatan BUMDesa secara tepat. Keberhasilan dua BUMDesa di Malang, yakni, BUMDesa Sumber Sejahtera di Desa Pujon Kidul dan BUMDesa Kerto Raharjo di Desa Sanankerto, melahirkan prestasi dan apresiasi dari berbagai pihak. Tak terkecuali, dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo di hadapan awak media usai memberikan pengarahan kepada ratusan Kepala Desa (Kades) se-Kabupaten Malang, juga menyampaikan apresiasinya untuk dua BUMDesa tersebut.

Menurut Eko, kawasan tersebut layak menjadi kawasan percontohan BUMDesa nasional. “Kabupaten Malang bisa dijadikan contoh nasional, bahkan Pujon Kidul BUMDes-nya begitu berhasil sampai masuk ke sosmednya Pak Presiden langsung,” ujarnya.

Terlebih lagi, pencapaian dari BUMDesa di Pujon Kidul tersebut berawal dari modal yang relatif kecil, Rp 60 juta. Hasilnya, kini bisa menjadi salah satu destinasi favorit di Kabupaten Malang.

Selain itu, perkembangan BUMDesa Pujon Kidul dinilai sangat pesat. Itu terlihat dari rentang waktu saat kunjungannya pertama dua taun lalu dengan kunjungannya kedua, Mei bulan lalu.

“Luar biasa perkembangan BUMDes di Pujon Kidul. Saya, kira-kira dua tahun lalu saat hadir di peresmian BUMDes Pujon Kidul, bersama Pak Supra, Wakil Dirut BNI juga Pak Bupati Malang saat itu, kondisinya tidak sepesat ini. Saya akui perkembangannya memang luar biasa,” kata Mendesa PDTT, Sabtu (4/5).

Selain Pujon Kidul, BUMDesa Kerto Raharjo, Sanankerto, juga terbilang istimewa. Sebab pada tahun 2018 lalu, BUMDesa ini berhasil mendapat predikat BUMDesa terbaik I Provinsi Jawa Timur.

Tak ayal, ia juga memperoleh pujian dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. BUMDesa Kerto Raharjo memang memiliki unit wisata Taman Wisata Boon Pring Andeman mempunyai potensi melimpah. Terutama dari banyaknya spesies bambu, yang diperkirakan berjumlah 100 jenis.

Dikatakan Khofifah, dari yang ia dengar dari Kementerian Desa PDTT, unit usaha Wisata Boonpring mendapat predikat BUMDesa terbaik pertama se-Indonesia. Sehingga, ia sendiri berpesan kepada kepala desa dan segenap pengurus untuk bisa menjaga dan meningkatkan pencapaian tersebut.

“Kalau hari ini berbagai lembaga perbankan hadir, juga dari korporasi, terutama dari PT Sampoerna juga hadir. Ini juga ada perwakilan dari kementerian desa hadir, dan kami dari pemprov juga hadir, mudah-mudahan ini menjadi bagian dari semangat untuk mengembangkan desa wisata agar terus berkembang, terus berkemajuan, dan memberikan manfaat yang besar terutama bagi masyarakat,” tambahnya.

Khofifah menambahkan, pencapaian BUMDesa saat ini sesungguhnya juga menandai keberhasilan semua pihak, seperti perbankan, wirausaha, industri, pemerintah lokal dan kabupaten, camat, serta masyarakat. Apalagi, secara presentatif Kabupaten Malang memiliki tingkat kemiskinan sebesar 10,3 persen. Sehingga diharapkan, sentra ekonomi khusus berbasis desa tersebut, dapat menjadikan spirit masyarakat agar bisa hidup lebih sejahtera.

“Saya rasa, kita lihat bareng-bareng di sini juga akan bisa memberikan spirit bagi masyarakat, bahwa mereka punya referensi, punya harapan. Bahwa mereka bisa mendapatkan income dari diri dan keluarganya. Dan yang paling penting, bisa berkontribusi terhadap PAD Kabupaten Malang,” tandasnya.

Saat ini Kabupaten Malang memiliki BUMDesa sebanyak 236 unit, yang meliputi tingkatan mandiri, berkembang, dan rintisan. Dari rincian tersebut, sebanyak 207 BUMDesa merupakan badan usaha lokal milik desa. Sedang 29 lainnya adalah BUMDesa yang dikelola bersama dari beberapa desa. (Farid)