Potret Nelayan Sungai Kalimereng, Kec. Manyar, Kab. Gresik

Bertahan Dalam Himpitan Reklamasi

166
Nelayan Sungai Kalimireng saat berangkat melaut

Gresik sebagai kota industri kini makin menggeliat. Kondisi yang prospektif membuat perkembangannya seakan tak  lagi terbendung. Satu persatu lahan air ikut direklamasi, beragam dampak sosial pun terjadi. Dibalik semua itu, ada kelompok nelayan dan konservasi di wilayah Kec. Manyar yang terus gelorakan semangat peduli lingkungan. Harapan besarnya, Gresik jadi kota industri yang tetap manusiawi serta alamnya seimbang. 

DENYUT senja di bantaran Sungai Kalimireng menyambut siapa pun yang datang sore hari. Warnanya yang hangat merekah di balik pepohonan memantul dari besi-besi perahu nelayan. Di ujung jembatan sederhana yang terbuat dari potongan kayu dan bambu, tiga orang terlihat sedang memancing. Mereka mengais rejeki dengan harapan pulang berbalas senyuman.

Di Balai Nelayan Kalimireng, beberapa orang juga asyik bersantai menikmati sisa-sisa udara segar sembari minum kopi. Diantara mereka ada M Isharul Munir, Ketua Nelayan Desa Manyar Sidomukti yang sekaligus Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Kalimireng Konservasi Mangrove. Sore itu, ia ditemani Chotib dan Sobirin, nelayan Desa Manyarejo.

Saat ditemui, pria yang akrab disapa Munir itu menuturkan, nelayan disana mencari ikan sesuai musim. “Kalau lagi musim udang ya cari udang, kalau lagi musim kakap ya cari kakap, kalau lagi musim kepiting ya cari kepiting. Jadi, kita mengikuti musim. Alat tangkapnya pun bergantung pada apa yang ingin kita cari,” tuturnya.

Nelayan di sana mencari ikan selain di sungai juga di laut. Kata dia, dari balai nelayan menuju muara laut di Selat Madura jaraknya 8 kilometer dan dari muara ke alur laut jaraknya kurang lebih 2,5 kilometer. Nah, di sekitaran jalur itulah sehari-hari para nelayan menghabiskan waktu untuk mencari ikan.

Ia mengisahkan, kondisi dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Jika dulu banyak nelayan dari berbagai daerah sampai Kab. Pasuruan mencari nafkah di Sungai Kalimereng dengan hasil tangkapan masih melimpah, kini tak lagi demikian. Kondisi itu, lanjut dia, salah satunya terjadi akibat maraknya reklamasi di wilayah Kab. Gresik.

“Biasanya musim begini ikan kakap sudah ada. Tapi kendalanya, muara disini sudah dangkal dan kanan kiri diapit reklamasi. Perkembangan industri semakin banyak. Tambak-tambak yang ditumbuhi mangrove juga beralih fungsi. Kalau dikatakan pendapatan dari tahun 90an, tahun 2000an hingga sekarang sudah jauh, sangat menurun,” keluhnya.

Tak terpungkiri, dampak dari reklamasi kini ikut dirasakan nelayan. Betapa tidak, sungai kian dangkal dan arus air juga terhambat. Jika dulu kedalaman Sungai Kalimireng mencapai 7 meter, timpal Chotib, kini menjadi kisaran 4 meter saja. Selain itu, keseimbangan alam di laut otomatis turut terganggu oleh pencemaran lingkungan.

Gresik Perlu Sabuk Hijau

Kepedulian terhadap lingkungan melatarbelakangi Munir dan anggotanya bertahan. Bersama 15 orang lainnya mereka menggelorakan semangat tersebut. Berdiri sejak tahun 2016, Pokmaswas yang ia nahkodai, beberapa kali melakukan penanaman mangrove dibantu lintas instansi juga berbagai komunitas.

“Kita nggak menyalahkan industri, karena itu juga perkembangan zaman. Kita hanya berharap, walau sedikit, disini itu masih ada lahan hijaunya. Makanya dengan adanya Pokmaswas ini, kita berusaha mengembalikan yang dulunya sabuk hijau. Meski belum bisa sabuk, tapi behelnya hijau gitu saja sudah senang. Ya, sebagai penyeimbang antara polusi dan penyerap polusi,” tegasnya.

Pihaknya mengaku, ingin membuat zona konservasi guna membatasi dampak yang tak bisa dihindari dari perkembangan industri. Disana, sementara ada dua titik mangrove yang cukup menonjol untuk dilestarikan. “Kita perlu peduli bagaimana alam itu bisa kembali. Kita ini kan hidup bergantung di alam. Alam sudah memberi kehidupan, kenapa kok kita nggak peduli?,” imbuhnya. (fan)