BPBD Jatim: 2019, Masyarakat Harus Tetap Waspada Bencana

14
Kalaksa BPBD Jatim, Suban Wahyudiono, saat meninjau lokasi banjir di Lumajang bersama Bupati Lumajang, Thoriqul Haq dan Wakilnya, Indah Amperawati, Desember 2018 lalu.

Memasuki awal tahun 2019, masyarakat Jawa Timur diminta untuk tetap waspada dengan  kemungkinan terjadinya bencana alam. Sebab, berdasar kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2016-2020, Jatim termasuk wilayah di tanah air yang rawan akan terjadinya bencana alam.

Imbauan kewaspadaan itu disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Suban Wahyudiono, sesaat setelah momentum pergantian tahun baru 2019 lalu.

‘’Imbauan kami ini menindaklanjuti  surat Gubernur Jatim kepada segenap kepala daerah terntang perlunya kesiap-siagaan menghadapi datangnya musim penghujan yang telah diluncurkan beberapa waktu lalu,’’ ujarnya.

Menurut Suban, sikap waspada dan kesiap-siagaan terhadap bencana itu sangat penting. Mengingat hasil penelitian di Jepang tahun 1995 tentang faktor penyelamatan diri terhadap bencana menyebutkan, mayoritas korban bencana yang selamat itu disebabkan karena kepiawaian upaya penyelamatan diri dari masing-masing korban.

Berdasar survei tersebut, 35 persen korban bencana bisa selamat dari bencana karena upaya penyelamatan yang dilakukannya sendiri. Sedangkan 32 persen dinyatakan selamat karena bantuan keluarga, 22 persen selamat karena bantuan tetangganya dan hanya 2 persen yang selamat karena bantuan petugas.

‘’Jadi, golden times upaya penyelamatan bencana itu mayoritas disebabkan faktor kesiap-siagaan diri masing-masing. Karena petugas memang butuh waktu untuk sampe ke lokasi bencana,’’ ujar pejabat asal Magetan ini.

Dalam kaitan itu pula, BPBD Jatim saat ini terus berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan kesiap-siaagaan bencana melalui pelatihan, simulasi bencana dan membentuk desa tanggap bencana.

Pelatihan desa tanggap bencana itu, menurutnya, melibatkan semua komponen di desa, seperti, pemerinta desa, karang taruna, PKK, dan komunias-komunitas lain di desa. ‘’Tentu semua masyarakat juga dilibatkan,’’ terangnya.

Saat ini, dari sekitar 7.722 desa di Jatim, sekitar 417 desa dinyatakan sebagai desa rawan bencana. Kerawanan itu, meliputi bencana alam dan bencana non alam. Untuk bencana alam, kategorinya, bisa berupa bencana banjir, longsor, tsunami, gunung meletus, atau bencana alam lainnya. Sedang bencana non alam, bisa berupa bocornya gas atau lainnya.

Dari jumlah desa rawan bencana sebanyak itu, 251 desa kini telah mendapat pelatihan dan simulasi bencana, serta sudah dinyatakan sebagai desa tanggap bencana. ‘’Untuk tahun 2019 ini, kita akan tambah 40 desa lagi. Karena alokasi pelatihan desa tanggap bencana setiap tahunnya sekitar 40 desa,’’ tambah Suban. (yus)