Bude Karwo Ajak Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah

106
Bude Karwo menghadiri acara diseminasi buku Pintar Keuangan Syariah. (foto: Humas Pemprov Jatim)

Memiliki mayoritas penduduk beragama Islam, Jatim menjadi provinsi potensial untuk pengembangan keuangan syariah. Kepada perwakilan organisasi perempuan di Jatim, Bude Karwo mengajak untuk mengembangkan keuangan syariah di Jatim.

Sebanyak 350 orang perwakilan dari TP PKK Prov Jatim, Muslimat NU Jatim, Aisyiyah Jatim, dan Muslimat Hidayatullah Jatim hadir di hotel JW Marriot Surabaya, Senin (17/12). Mereka hadir untuk mengikuti acara Diseminasi Buku Pintar Keuangan Syariah dan Talkshow Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jatim.

Acara itu semakin istimewa dengan kehadiran Ketua TP PKK Prov Jatim, Bude Karwo. Dalam kesempatan tersebut, istri Gubernur Jatim Pakde Karwo itu mengajak kaum perempuan untuk turut serta mengembangkan keuangan syariah di Jatim dengan menggunakan layanan keuangan syariah dan mengedukasi keluarga serta masyarakat.

Menurutnya, kaum perempuan memiliki peran penting dalam mengatur keuangan keluarga. Melalui edukasi yang diberikan, ia berharap tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Jatim dapat meningkat.

Beberapa organisasi wanita di Jatim menghadiri diseminasi buku keuangan syariah yang diselenggarakan OJK Regional IV Jatim

Bude Karwo menyampaikan data, saat ini indeks literasi keuangan syariah di Provinsi Jatim sebesar 29,35 persen, tertinggi di Indonesia dan mengalahkan Provinsi Aceh yang sebesar 21,09 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Jatim terhadap layanan keuangan syariah meningkat dan lebih baik dari provinsi lainnya. Namun, tingkat indeks inklusi keuangan syariah di Provinsi Jatim sebesar 12,21 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Provinsi Aceh yang mencapai 41,45 persen.

“Ini menunjukkan, walaupun tingkat literasi dan pemahaman masyarakat Jatim terhadap produk keuangan syariah baik, namun sebagian besar belum menggunakan produk layanan keuangan syariah,” katanya.

Di Jatim terdapat sekitar 10 bank umum syariah, 28 bank pembiayaan rakyat syariah, serta adanya koperasi pondok pesantren di 30 kab/kota. Kecuali itu, Pemprov Jatim juga memiliki kopwan syariah yang dikembangkan di desa-desa.

“Kami yakin keuangan syariah akan berkembang bila program sosialisasi dan distribusi buku pintar ini juga berjalan baik sehingga menjadi referensi keuangan syariah,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Bude Karwo menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada kaum perempuan di Jatim, terutama Muslimat NU dan Aisyiyah Jatim yang selama ini ikut berperan aktif dalam menjadikan Jatim sebagai provinsi yang sangat responsif gender. Termasuk ikut mendukung dalam pertumbuhan ekonomi Jatim.

Sementara itu, Ketua OJK Regional IV Jatim, Heru Cahyono mengatakan, Buku Pintar Keuangan Syariah ini telah di-launching pada 7 Juni 2018 lalu saat bulan Ramadhan. Buku ini disusun bersama MUI Provinsi Jatim dan Asosiasi Dewan Pengawas Syariah Indonesia (ADPASI), beserta beberapa organisasi muslimah di Jatim seperti Muslimat NU Jatim, Aisyiyah Provinsi Jatim, serta Fatayat NU Jatim. Heru menjelaskan, buku tersebut berisi 25 materi dakwah yang terbagi tiga bagian utama, yakni mengenal keuangan syariah, industri jasa keuangan syariah, serta perencanaan keuangan keluarga islami.

Terkait perkembangan keuangan syariah di Jatim, Heru menjelaskan, share aset perbankan syariah di Jatim pada Oktober 2018 sebesar 5,35 persen, lebih rendah dari share nasional yang mencapai 5,78 persen. Sedangkan total pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah di Jatim mencapai 27,5 triliun rupiah tumbuh 13,05 persen (year on year), dengan share terhadap total kredit perbankan di Jatim mencapai 5,79 persen. Sementara total dana masyarakat yang dikelola perbankan syariah mencapai 28,5 triliun rupiah, tumbuh 13,95 persen (yoy) dengan share terhadap seluruh simpanan masyarakat Jatim mencapai 5,20 persen.

“Kami melihat keuangan syariah di Jatim punya potensi untuk terus dikembangkan, untuk itu kami berharap ke depan Jatim mampu menajdi barometer keuangan syariah nasional,” katanya.

Potensi tersebut didukung dengan fakta bahwa jumlah penduduk muslim di Jatim mencapai 97 persen dari total penduduk, terdapat lebih dari 6 ribu pondok pesantren di Jatim dengan jumlah santri mencapai lebih dari sejuta santri, serta terdapat 37.686 masjid dan 106.647 musala dengan jumlah jamaah mencapai lebih dari 8 juta jamaah. (via, *)