Buka Pameran Batik, Wagub Emil disambut Angklung Komunitas Cinta Berkain Indonesia

141
Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) saat memainkan alat musik tradisional angklung di acara pembukaan Batik Bordir dan Aksesoris 2019 di Grand City Surabaya. Foto-foto: Ahmad Farid/Derapdesa.id

SATU diantara penampilan yang memukau pembukaan agenda Batik Bordir dan Aksesoris Fair 2019 di Grand City Surabaya (10/4) ialah alat musik tradisonal angklung.

Alat musik yang terbuat dari bambu itu dimainkan sekitar 30 orang anggota Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI). Semuanya mengenakan batik.

Alunan nada yang dihasilkan berhasil memukau seisi ruangan.Tak terkecuali Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan Ketua Dekranasda Provinsi Jatim Arumi Bachsin saat membuka acara.

Enny Handayani, wakil ketua komunitas, saat ditemui di sela acara menuturkan, angklung adalah kegiatan hobi dari anggota yang sengaja dipilih sebagai pengikat.

“Kalau kami kumpul, tidak ada suatu pengikat yang terkait dengan kesenian dan kelestarian budaya, maka kami ini seperti tidak konsisten. Jadi, kami mencari kegiatan kesenian terkait budaya Indonesia yang bisa dimainkan bersama-sama,” terangnya.

Komunitas ini, kata dia, menjadi tempat berkumpulnya ibu-ibu yang sepaham bahwa kain batik dan nusantara dipakai sebagai kain seperti halnya Ibu Kartini dan pejuang perempuan lainnya. Mereka berusaha melestarikan kebudayaan berkainnya. Artinya, batik bukan dijadikan blus atau baju tidur, tapi dipakai untuk berkain.

Sampai saat ini, komunitas yang dipimpin Windrati Wiworo dan Enny Handayani ini anggotanya berjumlah 155 orang. Namun, anggota yang biasa memainkan angklung berjumlah 30 orang. Dan selama empat tahun berjalan, mereka sering ketemu dan latihan.

“Nah, karena ada kaitannya dengan batik dan sama-sama berkesenian ya kami tampil disini diajak teman-teman pengusaha,” imbuh Enny lantas tersenyum.

Ia berharap, kedepan semakin banyak orang yang tetap melestarikan budaya berkain. Tidak hanya berkain saat pergi ke kondangan atau mengadiri acara resmi lainnya.

Kepada anak-anak muda, ia juga berpesan, berkain batik itu tidak ribet, masalahnya hanya mau atau tidak? Karena kain nusantara pun banyak sekali dan kaya.

“Jadi alasannya, alah ribet banget sih begini begitu. Aku mau tanya, kamu udah coba belum? Jangan bilang ribet kalau kamu belum coba. Kami punya banyak tips dan trik untuk bisa dipakai dengan segala gaya,” pungkasnya. (fan)

baca juga: Buka Pameran Batik 2019, Wagub Emil Dorong Dekranasda Jatim Lebih Produktif

baca juga: Hadiri Batik Bordir dan Aksesoris Fair, Ketua TP PKK Lumajang Ingin Perajin Tingkatkan Kualitas