Cafe Jengki, Perpaduan Desain Bikin Cozy

126
Cafe Jengki, salah satu cafe favorit untuk ngopi.

Di tengah persaingan kafe yang ketat, menu makanan dan minuman tidak hanya menjadi satu hal utama yang harus diperhatikan, desain interior dan suasana kafe juga tidak boleh ditinggalkan. Irsad Imtinan, owner Cafe Jengki menyadari hal itu.

Pemuda yang tahun ini genap berusia 20 tahun ini memberi sentuhan perpaduan desain vintage sekaligus kekinian untuk kafenya. Perpaduan tersebut sukses mewujudkan suasana kafe yang cozy dan homey, membuat pengunjung merasa berada di rumah sendiri. Konsep itu sesuai dengan lokasi kafe yang berada di teras rumah. Selain itu, beberapa spot kafe juga instagrammable, cocok untuk foto-foto.

Vinyl tahun 1950-an dipajang di salah satu sudut Cafe Jengki. Foto: Ulviyatun Ni’mah/derapdesa.id

Irsad menjelaskan, nama Jengki diambil dari nama gaya arsitektur Indonesia era 1950 hingga 1970-an. Gaya arsitektur tersebut merupakan akulturasi budaya Indonesia dengan Amerika di era lama.

“Indonesia setelah merdeka ingin memperbarui gaya arsitekturnya. Menurut literatur yang saya baca, kata Jengki diambil dari kata Yankee, identik dengan Amerika. Kultur Klasik. Kemudian disederhanakan jadi jengki,” ujar Irsad yang menggemari kopi sejak SMP.

Baca juga: Menikmati Cita Rasa Kopi Asli di Cafe Jengki

Furnitur, dekorasi, lantai tegel, hingga musik yang dipakai menggambarkan vintage. Misalnya, sepasang meja dan kursi kayu, radio lama, dan piringan hitam (vinyl) tahun 1950 hingga 1970-an yang diputar menggunakan turntable. Bahkan, tulisan kafe juga menggunakan desain lettering yang digunakan di masa jengki.

Di balik sentuhan vintage itu, tetap ada sentuhan kekinian. Walhasil, kafe ini bisa diterima dengan baik di kalangan milenial. Terbukti dari pengunjung yang mayoritas berusia milenial. Irsad menuturkan, desain kafe ini merupakan hasil karya ayah Irsad, yakni Mohammad Rudy Ermawan Yulianto.

“Kafe ini proyek berdua dengan papa. Papa yang mencetuskan nama Jengki. Kebetulan kami punya banyak kesamaan, sama-sama hobi kopi dan sama-sama arsitek,” kata Irsad yang pernah menjuarai lomba film pendek tingkat nasional ini.

Cafe Jengki yang bersuasana homey. Foto: Ulviyatun Ni’mah/derapdesa.id

Sementara itu, ayah Irsad, Rudy menambahkan, dia memang penyuka desain vintage. Kecintaan Rudy pada hal-hal yang berbau vintage juga tampak dari karyanya, Kampoeng Djawi, penginapan dan tempat wisata miliknya yang berada di Wonosalam, Jombang.

Dia mengatakan, Cafe Jengki sebenarnya masih dalam tahap coba-coba. Cikal bakal kafe ini adalah kafe mini yang diperuntukkan bagi keluarga dan tamu. Hingga kemudian dia dan putra sulungnya mempunyai ide untuk membuka kafe tersebut untuk umum.

“Kafe ini kecil, tapi kami memproses mulai dari green bean (biji kopi mentah), masuk mesin roasting, kemudian jadi roast bean, baru disajikan. Kami proses sendiri, jadi sesuai dengan kemauan kami,” ungkap Rudy yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Pemprov Jatim.

Pemrosesan kopi mulai tersebut dilakukan Irsad dengan hati-hati. Sebelum di-roasting, green bean diseleksi. “Bahkan, yang dibuang bisa sampai 30 persen,” kata Rudy.

Sementara untuk level roasting, Cafe Jengki memilih medium roast. Barista yang dipekerjakan juga telah memiliki sertifikasi profesi. “Minum kopi di sini tidak bikin perut sakit, karena kopinya medium roast,” imbuhnya. (via)