Menengok Geliat Komunitas Gakopen, Jaga Ekosistem Sungai dengan Potensi Wisata (1)

Cegah Penjarahan, Hadir untuk Lestarikan Lingkungan

169
SUKA TANTANGAN: Wisata Selomalang menjadi salah satu pilihan wisatan untuk memacu adrenalin sekaligus menikmati pemandangan alam. Foto-foto: Hamzah Afif Afandi/derapdesa.id

Wisata baru telah hadir di Kab. Mojokerto. Komunitas pengelola dari masyarakat desa menyebutnya ‘Selomalang’. Satu keistimewaannya, mereka bergerak lebih dari sekadar memikat wisatawan, tapi juga peduli lingkungan. Bahkan, pengunjung yang datang secara berkelompok diwajibkan menanam satu bibit pohon. Seperti apakah?

SUARA dua kali tembakan disusul teriakan warga anarkis di luar rumah 14 tahun lalu masih teringat betul dalam benak Achmad Yani (49). Kala itu, tepat di Bulan Ramadhan, selepas azan isyak segerombol masa hendak mumukuli dirinya dan membakar rumahnya. Tak lama kemudian, ia mendapat telefon dari seseorang yang memintanya bergegas keluar rumah jika ingin selamat.

Tanpa berpikir panjang, laki-laki yang akrab disapa Yani itu mengamini perintah tersebut. Ia membuka pintu, menerobos kerumunan masa dengan sepeda motor, sembari membawa sebilah celurit di punggungnya untuk jaga diri bila terjadi hal tak diinginkan. Beruntung, ia bisa lolos. “Saya sampai tidak pulang selama satu minggu loh, mas,” kisahnya.

Yani adalah masyarakat Desa Lebakjabung, Kec. Jatirejo, kab. Mojokerjo. Desa tersebut berbatasan dengan wilayah Kec. Wonosalam, Kab. Jombang. Lantas, apa yang menyebabkan dirinya hendak diamuk masa? Nyatanya, ia merupakan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sejak tahun 2003 yang sangat getol menjaga lingkungan. Salah satunya menjaga Sungai Selomalang yang melintasi desanya (tercatat dengan nama Sungai Boro).

akses jalan menuju wisata yang masih alami

Nah, sejak tahun 2000an, kata dia, Sungai Selomalang memasuki masa kelam. Air yang mengalir deras di sela bebatuan diusik. Batu-batu kali dijarah, diambil untuk kepentingan pribadi tanpa peduli apa akibat dari penjarahan yang berkelanjutan. “Saya dulu juga sempat putus asa. Akhirnya ikut menjarah selama kurang lebih tiga tahun. Tapi, setelah itu saya taubat karena kecelakaan. Truk saya terguling ke kali. Ya, disini ini,” tuturnya lantas terkekeh.

Waktu pun berlalu, tragedi kecelakaan yang menimpa membuat nuraninya terketuk bahwa alam harus benar-benar dijaga. Ia berusaha dengan apa yang dia bisa. Tanpa rasa takut, tanpa rasa khawatir. Akhirnya, tahun 2019 menjadi secercah titik terang bagi Yani. Beberapa kelompok mahasiswa Universitas Islam Majapahit Mojokerto mengajak melakukan penghijauan.

Sejak itulah tercetus komunitas yang diberi nama Gakopen, Gabungan Komunitas Perlindungan Lingkungan. Tepatnya pada tanggal 22 Februari 2019. Sampai saat ini, ada lima komunitas yang bergabung membantu. Diantaranya; Ijo Lumut, WR Familly dan Save Trowulan. Beberapa bulan berjalan, wacana yang sempat terpendam pun kembali direalisasikan.

Yaitu membuat wisata dengan potensi alam yang ada. Kepada Derap desa, Yani menyampaikan, salah satu potensi yang bisa ditawarkan adalah kondisi sungai yang sangat cocok untuk river tubing. “Dan betul, kami berharap, wisata ini menjadi salah satu solusi untuk menghambat penjarahan. Ayolah, batu-batu dan pasir-pasir yang ada ini dibuat resapan. Artinya, biarkan sesuai fungsinya agar ekosistem air tetap seimbang” katanya penuh harap.

bersiap melakukan pengarungan, berjalan menuju strat

Diajak menyusuri derasnya air bersama anggota Gakopen, kesan pertama yang terasa cukup seru. Wisata satu ini mampu memacu adrenalin. Pasalnya, debit air masih terbilang deras. Rute yang dibuat river tubing pun melewati sekitar lima patahan dan bebatuan besar. Lokasinya berada di tengah hutan lindung petak 58 Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Jabung, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kab. Jombang.

Untuk menikmati wisata ini, pengunjung perlu membayar Rp 25 ribu. Ini sudah termasuk peralatan yang digunakan (helm, pelampung dan dan ban) sekaligus tour guide yang mendampingi saat melakukan pengarungan. Ada juga paket Rp 50 ribu yang sudah termasuk akomodasi dan makan nasi jagung olahan khas masyarakat desa.

Meski terbilang baru, lanjut dia, sudah banyak kalangan yang mencoba. Mulai istri kepala desa Lebakjabung, anggota DPRD, karang taruna hingga intansi sekolah. Arif Rahman, Kades Lebakjabung menambahkan, Gakopen sudah jadi bagian dari organisasi yang diakui desa sejak tanggal 10 Mei 2019. “Sudah diarsipkan desa dan SK anggotanya juga sudah ada,” imbuhnya saat ditemui.

Uniknya, bagi pengunjung yang datang secara berkelompok, pengelola mewajibkan menanam satu bibit pohon di area wisata. Bibit pohon yang dipilih ialah yang bisa berbuah. Harapannya, kedepan selain kebutuhan oksigen tersuplai, buah-buah tersebut juga bisa dinikmati bersama masyarakat. (fan)

bibit pohon yang ditanam pengunjung di bantaran sungai