Jono Wasinudin, Camat Ledokombo

Cegah Stunting dengan Gerakan Semagi

72

Totalitas dalam bekerja ditunjukkan Jono Wasinudin, Camat Ledokombo, Kab Jember. Dia bahkan memiliki ide dan berinovasi dalam mencegah angka stunting atau kondisi tubuh kerdil.

Dia memiliki cara yang akhirnya diakui sebagai langkah untuk mencegah kondisi kerdil di wilayahnya. Menurut Jono, dua dari sepuluh desa di Kecamatan Ledokombo termasuk kategori desa kerdil atau desa stunting. Dua desa itu yakni Desa Sukogidri dan Slateng.

“Saya mempunyai ide untuk anak di atas dua tahun, yang selama ini sudah bersekolah di PAUD, TK, SD, harus dibiasakan makan pagi,” katanya.

Dikatakan, anak-anak diimbau setiap Hari Senin membawa bekal makan pagi dari rumah, dan dimakan setelah melaksanakan upacara bendera. “Soal penyebab kondisi kerdil, karena kondisi itu bisa terjadi pada orang yang mampu dengan pola makan yang keliru,” tuturnya.

Baca Juga  Berkat Google Maps, Nunung ke AS Lagi
Camat Jono Wasinudin (foto atas) di antara siswa dan para siswa bersiap makan pagi bersama.

Pola makan yang salah itu, lanjut Jono, yakni makan hanya dua kali sehari atau makan tidak pernah pakai sayur dan tak mengonsumsi buah. Oleh karena itu, dia menggagas sarapan bersama di sekolah. Kegiatan ini ia sebut dengan Semagi yakni Senin Makan Pagi.

Gerakan kesehatan ini merupakan rangsangan supaya anak mau makan pagi. Berikutnya, diharapkan anak bisa makan tiga kali sehari. Gerakan ini telah dimulai sejak Juli 2019. Semua sekolah, baik PAUD, TK, dan SD, harus melaksanakannya.

“Kebiasaan sebelumnya, anak hanya makan dua kali sehari. Berangkat sekolah hanya diberi uang saku rata-rata dua ribu rupiah,” tutur Jono.

Guna mengajak anak-anak sekolah makan pagi tampaknya cukup sulit. Ini yang menyebabkan Semagi juga melibatkan Satpol PP. “Supaya ada rasa takut, sehingga anak-anak terpaksa mau makan pagi,” ujarnya lantas tertawa.

Baca Juga  Diburu Follower untuk Berbagi Ilmu

Dengan gerakan Semagi ini, imbauan untuk makan memakai sayur juga bisa terlaksana. Anak-anak mendapat penjelasan tentang gizi seimbang. Makanan harus ada karbohidrat, protein, dan mineral. “Bisa langsung dipraktikkan,” ujarnya.

Gerakan ini cukup berhasil. Ini terlihat di SD Lembengan 1, 2, 3 dan di SDN Ledokombo 1.  Di sekolah tersebut bukan hanya Senin makan pagi. “Gerakan ini sudah berubah menjadi semangat makan pagi. Maksudnya, tiap hari anak-anak membawa makan pagi,” ujarnya.

Menurut penuturan para guru, gerakan ini bisa mengurangi kebiasaan anak jajan sembarangan. Anak pun bisa betah di dalam kelas. “Anak bisa menabung dan bisa rekreasi. Berat badan bertambah, dan anak yang di TK jarang sakit,” ungkapnya. (*)