Dampak Corona, Masyarakat Menjerit Rugi Lantaran Agenda Hajatan Ditunda

282

TRENGGALEK- Dampak upaya pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19) ternyata tak hanya menyasar para pekerja harian saja, masyarakat yang akan punya hajat pun turut menjerit rugi lantaran agenda hajatannya harus dihentikan atau ditunda.

Keluhan masyarakat ini setidaknya dialami warga Desa Kerjo, Kec. Karangan, Kabupaten Trenggalek. Sedikitnya, 12 warga desa tersebut kini “menangis” lantaran agenda hajatannya harus ditunda. Padahal sebagian besar mereka telah menyebar undangan dan membayar sebagian keperluan. Seperti, dekorasi acara, tenda resepsi, katering makanan, sound system, serta membayar kelompok hiburan, mulai wayangan, elektonan, hingga tayuban.

Maklumat Kapolri yang melarang segenap warga menggelar kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa.

Kepala Desa Kerjo, Rebo, kepada Derap Desa mengungkapkan, penundaan acara hajatan warga itu dilakukan karena adanya Maklumat Kapolri tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Pencegahan Penyebaran virus Corona (Covid-19), yang meminta segenap masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan pengumpulan massa, termasuk acara hajatan keluarga.

Baca Juga  2019, Dana Desa Jatim Tembus Rp 7,4 Triliun

“Pagi tadi, kami didatangi sejumlah warga. Mereka mengeluh, kebingungan dan menangis karena adanya maklumat itu. Sebab banyak warga yang memang sudah nyebar undangan, bayar terop, hingga bayar DP untuk berbagai keperluan,” ungkapnya.

Rapat tiga pilar Desa Kerjo, Karangan, Trenggalek yang digelar menyikapi keluhan warga yang akan punya hajat di akhir bulan ini.

Akhirnya, Rebo pun berinisiatif menggelar rapat tiga pilar bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas plus tim kesehatan.
Saat rapat itu, ia menyampaikan keluhan warga terkait maklumat Kapolri. Namun BKPM (Babinsa dan Bhabinkamtibmas belum bisa ambil keputusan. Lalu mereka menyampaikan ke Wakapolsek. Wakapolsek pun sama, belum bisa ambil keputusan. Lalu Wakapolsek melanjutkan laporannya ke Kapolsek.

“Akhirnya, Pak Kapolsek minta arahan Kapolres, hingga digelarlah rapat bersama segenap Kapolsek. Dan hasilnya, sama. Semua kegiatan yang mengumpulkan massa harus ditunda. Jika tetap membandel, ancaman sanksinya penjara satu tahun,” terang Mbah Rebo, begitu ia biasa dipanggil.

Baca Juga  Wabup, Kapolres, dan Dandim Pimpin Penyemprotan Disinfektan Keliling Ponorogo
Rapat tiga pilar Desa Kerjo, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek, Selasa (24/3/2020).

Dengan adanya kebijakan tersebut, Mbah Rebo akan mengumpulkan warganya yang telah berencana menggelar hajatan dalam waktu dekat ini.

Namun, ia tetap berharap, pemerintah, mulai pusat, provinsi hingga kabupaten bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih dinamis. “Sebab, bagaimanapun yang dirugikan bukan hanya yang punya hajat, tapi pemilik terop (tenda resepsi), pemilik katering, tim dekorasi dan juga semua pekerja mereka,” sarannya.

Ia pun menyakini, apa yang dialami warganya itu juga dialami banyak masyarakat di daerah dan desa lain.
Lebih lagi, bulan-bulan ini bagi masyarakat Jawa memang dikenal dengan bulan hajatan.

“Bagi sebagian orang Jawa, hajatan itu dianggap sebagai arisan. Jadi, selain batal menerima arisan, mereka juga mengalami kerugian,” keluhnya. (*)