Dari Perjalanan Religi Hingga Sirah Nabi (1)

55
Suasana setelah subuh di Masjidil Haram. (Foto: Ulviyatun Ni'mah)

Berkunjung ke tanah suci menjadi impian setiap muslim. Tak terkecuali kami, empat orang kru Derap Desa yang mendapat kesempatan menunaikan ibadah umrah selama sekitar sembilan hari. Seperti apa perjalanan kami?

Cuaca Kota Makkah di malam hari, Rabu (24/10) sejuk. Hujan deras baru saja mengguyur Kota Suci itu. Genangan air tampak menggenang di jalan-jalan hingga pelataran Masjidil Haram. Namun, kondisi itu tidak menghalangi ribuan orang untuk melaksanakan ibadah thawaf, berjalan mengelilingi ka’bah selama tujuh kali putaran.

Kru Derap Desa dan 30-an jamaah umrah yang tergabung dalam biro perjalanan Nur Dhuha Wisata pun turut melaksanakan thawaf malam itu. Jamaah yang mengikuti thawaf tidak terlalu ramai. Rombongan kami termasuk rombongan gelombang pertama yang umrah setelah Kota Makkah ditutup selama sekitar tiga bulan untuk haji.

“Saat ini tidak begitu ramai karena belum banyak jamaah umrah yang datang,” ujar Affan Syaiful Bahri, salah satu dari dua muthawwif (pembimbing) yang mendampingi jamaah selama melaksanakan umrah.

Ibadah tersebut menjadi rangkaian umrah pertama kami. Siang harinya, dalam perjalanan menuju Makkah, jamaah mengambil miqat di masjid Bi’ru Ali yang ada di Dhul Hulaifah, Madinah.

Setelah melakukan thawaf, jamaah melakukan sa’i. Ibadah ini merupakan salah satu rukun umrah yang dilakukan berjalan kaki bolak-balik sebanyak tujuh kali dari bukit Shafa ke bukit Marwa, dan sebaliknya. Jarak keduanya sekitar 450 meter. Tempat ibadah sa’i berada dalam kompleks Masjidil Haram dan tidak jauh dari Ka’bah. Rangkaian umrah pertama ini diakhiri dengan tahallul, yakni dengan memotong minimal tiga helai rambut.

Sebelum melaksanakan rangkaian ibadah umrah di Makkah, terlebih dulu jamaah tinggal selama sekitar tiga hari di Madinah. Di kota yang berjuluk Madinah al-Munawwarah (Kota yang Bercahaya) ini, jamaah mengikuti shalat jamaah di Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi di Madinah. (foto: Ulviyatun Ni’mah)

Masjid Nabawi tak hanya menjadi ikon Kota Madinah, tapi sekaligus tempat suci selain Masjidil Haram di Kota Makkah. Di tempat ini lah junjungan umat muslim sedunia, Nabi Muhammad SAW dimakamkan bersama dua karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab. Di masjid itu pula terdapat Raudhah, sebuah tempat yang disebut Nabi Muhammad sebagai min riyadh al-jannah (sebagian dari taman surga). Raudhah merupakan tempat mustajab yang berada di antara mimbar dan rumah Rasulullah Muhammad SAW, yang saat ini sekaligus Makam Nabi beserta dua sahabat.

Masih di area sekitar masjid dengan 44 pintu tersebut, para jamaah umrah maupun haji dapat menemui banyak tempat bernilai sejarah. Sebut saja area pemakaman Baqi’, tempat pemakaman keluarga dan sahabat Nabi serta para jamaah haji dan umrah yang meninggal di Madinah. Pemakaman ini berada di sisi timur Masjid Nabawi dan hanya bisa dikunjungi jamaah laki-laki pada jam tertentu.

“Pagi setelah salat subuh sampai pukul 08.00. Setelah itu sore setelah salat ashar hingga menjelang maghrib pukul 16.30 WSA,” kata Affan, muthawwif yang lebih banyak dipanggil ustaz tersebut.

Empat orang kru Derap Desa menunaikan ibadah umrah selama sembilan hari, 21-29 Oktober 2018

Berada di sisi luar masjid sebelah barat keluar dari pintu 6, terdapat masjid dengan kubah putih bernama Masjid Ghamamah (Awan). Di masjid ini Rasulullah Muhammad SAW melakukan shalat istisqa‘ (meminta hujan). Menurut riwayat lain, Nabi Muhammad pernah melakukan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di sini.

Bangunan masjid lainnya di lokasi berdekatan adalah Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Masjid Ali Bin Abi Thalib. Dikisahkan, bahwa tempat dibangunnya masjid tersebut merupakan kediaman kedua sahabat. Riwayat lainnya mengatakan, tempat tersebut merupakan lokasi dimana kedua sahabat mengikuti salat bersama Nabi. Kendati berjuluk masjid, ketiga tempat tersebut tidak dipergunakan sebagai tempat salat.

“Tidak ada keistimewaan khusus untuk melakukan salat atau amalan lainnya di tempat-tempat tersebut selain dari sisi sejarahnya, untuk mengenang peristiwa atau keberadaannya,” jelas Affan. (bersambung)

(hay, uul)