Dinas Kesehatan Kota Surabaya Siapkan Keberlanjutan Program Pasca Intervensi GAIN

76
Pertemuan koordinasi 3 bulanan Dinkes Kota Surabaya.

Program Baduta 2.0 yang merupakan kerjasama antara Kementerian Republik Indonesia dengan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) di kota Surabaya dimulai pada bulan Mei tahun 2018 dan akan berakhir pada bulan Juni tahun 2020. Program Baduta 2.0 merupakan tindaklanjut dari program Baduta 1.0 yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya di Kabupaten Malang dan Sidoarjo. GAIN bertujuan mendukung terjadinya perubahan perilaku orang tua pada pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) yang pada akhirnya “stunting” dapat dicegah sejak dini terutama pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Jalil, District Coordinator GAIN Kota Surabaya mengatakan, saat ini GAIN mengintervesi 86 kelurahan di 17 kecamatan di Surabaya dengan jumlah sasaran sebanyak 1.616 Posyandu yang tersebar di 33 Puskesmas. Dalam pelaksanaannya, GAIN bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan PKK. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah penguatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan. Model pelatihan yang dilakukan adalah melalui pelatihan berjenjang, yaitu dimulai dari pelatihan master pelatih (MOT), Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainer) dan Pelatihan untuk Kader Posyandu. Dari pelatihan tersebut telah mampu mencetak 55 MOT yang sudah melatih 503 TOT dan 503 TOT telah melatih 3.232 kader Posyandu.

Menjelang masa berakhirnya intervensi, GAIN dan Dinkes Kota Surabaya merumuskan rencana tindak lanjut usai intervensi. Pada pertemuan koordinasi 3 bulanan yang dilaksanakan pada tanggal 17, 18, 19 dan 25 September 2019 yang lalu, Dinas Kesehatan Kota Surabaya berhasil menjaring aspirasi dari stakeholder yang terkait, yakni kader, PKK, bidan kelurahan, kepala puskesmas, master pelatih, dan Dinas Kesehatan untuk menjawab tiga masalah utama. Yakni, cara meningkatkan jumlah kehadiran ibu balita atau pengasuh untuk mengikuti emo demo, menjamin keberlanjutan pelaksanaan emo demo, dan membangun system monitoring pelaksanaan emo demo.

“Pekerjaan rumah Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama dengan stakeholder terkait lainnya menjelang berakhirnya intervensi GAIN adalah menjamin agar praktik-praktik yang baik (good practices) yang sudah berjalan selama ini bisa ada keberlanjutan (sustainability),” ujar Jalil.

Hingga kini, metode emo demo tidak sekadar dilatihkan ke pelatih tetapi sudah dilaksanakan di tingkat posyandu di seluruh wilayah intervensi GAIN. Banyak perubahan yang sudah bisa dirasakan akibat pelaksanakan emo demo baik secara kuantitatif  maupun kualitatif.  Secara kuantitatif emo demo mampu mendongkrak tingkat kehadiran ibu balita ke Posyandu hingga 58 persen. Secara kualitatif emo demo mampu membuktikan adanya perubahan perilaku ibu balita atau pengasuh maupun stakeholder terkait . Tidak kurang dari 16 cerita perubahan paling bermakna (most significant change) diperoleh setiap bulan dari lapangan. Hal ini menunjukkan emo demo benar-benar bisa mempengaruhi perubahan perilaku ibu balita terhadap pola pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA).

Perubahan yang paling bermakna lainnya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya melalui TP PKK Kota Surabaya berhasil mereplikasi pelatihan emo demo ke seluruh kelurahan di luar intervensi GAIN (68 kelurahan) dan tenaga kesehatan Puskesmas (Bidan, Bikor, Petugas Gizi dan Promkes) yang dilatih sendiri  oleh Master Pelatih dari Dinas Kesehatan dan PKK yang merupakan produk pelatihan yang dilaksanakan oleh GAIN. (*)