Catatan 10 Tahun Pakde Karwo Memimpin Jatim (1)

Dua Parasamya Warisan Paling Monumental

53
MONUMENTAL. Pakde Karwo saat menerima Penghargaan Samkarya Parasamya Purnakarya Nugraha , 25 April 2014

Hari ini, Selasa, 12 Februari 2019, bakal menjadi hari terakhir masa tugas Pakde Karwo sebagai Gubernur Jatim dua periode: 2009-2019. Selama kurun satu dasawarsa ini,  banyak capaian yang berhasil ditorehkan. Namun warisan monumentalnya adalah capaian dua kali penghargaan Samkarya Parasamya Karya Nugraha…!!

 

KAMIS, 12 Februari 2009. Hari itu, sepuluh tahun lalu, dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 7/P/2009, Dr H Soekarwo yang lekat dengan Pakde Karwwo secara resmi dilantik sebagai Gubernur Jawa Timur bersama Drs H Saifullah Yusuf, Wakilnya.

Pasangan yang identik dengan akronim KarSa ini dilantik dan diambil sumpahnya oleh Mendagri H. Mardiyanto di Gedung DPRD Jatim Jl Indrapura Surabaya. Lima tahun berikutnya, prosesi yang sama juga dialami keduanya untuk periode 2014-2019.

Kini, sepuluh tahun sudah Pakde Karwo memimpin Jatim. Di bawah kepemimpinanya, Jawa Timur mencapai titik kejayaan dan keemasan yang ditandai dengan capaian lusinan prestasi di berbagai bidang. Mulai bidang pemerintahan, ekonomi, pertanian, pendidikan, perkoperasian, penanggulangan kemiskinan, hingga bidang penguatan gender, sosial, infrastruktur, lingkungan, dan bidang-bidang lainnya.

Puncaknya, titik kejayaan itu dibuktikan dengan diraihnya Penghargaan Samkarya Nugraha kategori Parasamya Purnakarya Nugraha yang diterima pada 25 April 2014. Penghargaan ini sangat membanggakan karena menjadi bukti hasil karya tertinggi pelaksanaan pembangunan lima tahun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Yang lebih membanggakan, penghargaan tertinggi ini tidak diraih sekali, namun hingga dua kali. Untuk yang kedua, penghargaan itu diserahkan pada 12 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Jatim ke-72. Prestasi itu tentu sangat prestisius karena belum pernah ditorehkan oleh gubernur mana pun di tanah air.

Pada tahun 1974, di masa kepempimpinan H.M. Noer, Jawa Timur memang pernah sekali menerima penghargaan Parasamya. Prestasi itu diberikan karena Jatim dinilai paling berhasil dalam melaksanakan pembangunan selama Repelita I (1969 – 1974). Saat itu, penghargaan Parasamya diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto. Hanya saja, capaiannya kala itu hanya sekali, bukan dua kali berturut-turut seperti yang ditorehkan Pakde Karwo.

Guna mencapai Parasamya memang tidaklah mudah. Sebab, ada 138 variabel yang dievaluasi tim penilai dari pusat. Di antaranya, meliputi, keterbukaan demokrasi, pelayanan publik, persamaan gender, kebijakan teknis penyelenggaraan urusan pemerintahan, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, tingkat capaian standar pelayanan minimal (SPM), penataan kelembagaan daerah, pengelolaan kepegawaian (karier dan profesionalisme), perencanaan pembangunan yang melibatkan semua stakeholder, pengelolaan keuangan daerah, penanganan ekonomi serta infrastruktur.

Berdasar evaluasi saat itu, Jatim dinilai sangat layak mendapatkan penghargaan Parasamya karena pemerintahannya sangat respek dan menghasilkan pembangunan luar biasa. Hampir seluruh nilai yang diberikan untuk Jatim sangat tinggi.

Jatim juga mampu mencapai nilai tertinggi dalam semua Indikator Kinerja Kunci (IKK) pada Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD).  Yang paling menonjol adalah masalah perekonomian dan leadership. Bagian penting dari kedua hal ini adalah pelayanan. Di Jatim, pelayanan yang diberikan sangat berorientasi untuk kesejahteraan rakyat. Skor inilah yang mencapai nilai tinggi secara konsisten.

 

Tetap Elegan

Menariknya, kendati Jatim telah mencapai puncak keberhasilan, namun Gubernur Jatim Pakde Karwo tetap tampil elegan. Pria asal Madiun ini pun menuturkan, prestasi-prestasi itu sejatinya bukan milik pemimpin daerah, namun milik rakyat Jatim. Sebab raihan prestasi tersebut tidak lepas dari keikutsertaan seluruh rakyat Jatim dalam berbagai proses pembangunan.

‘’Keberhasilan ini tak lepas dari peran anggota DPRD, semua bupati/walikota, jajaran aparatur pemerintahan dan TNI/Polri, para pelaku usaha, tokoh agama dan masyarakat, mahasiswa, dan rekan-rekan media yang turut membawa kemajuan yang luar biasa di Jatim. Intinya, penghargaan ini karena kebersamaan rakyat Jatim,” tutur Pakde.

Guna menegaskan Jawa Timur sebagai Provinsi Parasamya, di penghujung tahun 2018 lalu, Gubernur Pakde Karwo, meresmikan Monumen Parasamya Purnakarya Nugraha, yang bersanding dengan Tugu Titik Nol, di halaman Kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan No 110, Surabaya.

Peresmian itu dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai pejabat Forkopimda, TNI, Polri, pejabat birokrasi, akademisi, budayawan hingga masyarakat umum. “Ini merupakan perjalanan sejarah masa lalu, kemudian untuk melangkah di masa depan. Itulah kebudayaan, tidak hanya untuk diucapkan karena bisa hilang, tetapi dengan monumen seperti ini generasi berikutnya bisa menyaksikan,” pesan Pakde Karwo.

Saat berpamitan dengan perwakilan masyarakat Jatim di Gedung Negara Grahadi, Senin malam, Pakde Karwo menyampaikan mohon undur diri karena telah 10 tahun memimpin Jatim.

‘’Saya bersama istri, Pak Wagub dan Bu Fatma, mohon pamit. Kereta atau kapal ini akan dilanjutkan oleh Bu Khofifah dan Pak Emil Dardak,’’ ucap Pakde Karwo di hadapan Forkopimda,  bupati/walikota, dan tokoh masyarakat.

Bagi Pakde, banyak kenangan manis dan pengalaman berkesan selama memimpin Jatim. Di antaranya, masyarakat Jatim dewasa dalam berdemokrasi. Berpikiran terbuka serta mampu hidup berdampingan secara damai.

Gubernur kelahiran Madiun ini juga mengaku bersyukur selama ini dikelilingi orang-orang hebat. Khususnya tokoh masyarakat, tokoh agama yang sudah bekerjasama dengan solid. Ini dibuktikan saat Jatim memiliki program penghapusan lokalisasi dan membentuk Ikatan Dai Lokalisasi (Idial).

‘’Alhamdulillah, terakhir 2016 lokalisasi di Mojokerto ditutup. Total ada 47 lokalisasi yang dihapus, termasuk Dolly,’’ rincinya.

Ikut hadir dalam acara ini Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jatim terpilih Emil Dardak beserta istri, Arumi Bachsin. (yus/bersambung)