Lebih Dekat dengan Desa Randugenengan, Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto (4)

Dulu Ngemong Murid, Sekarang Ngemong Masyarakat

375
Kepala Desa Randugenengan dan istrinya

Khoiri terpilih sebagai Kades Randugenengan urutan kelima sejak Tahun 2014. Jauh sebelum itu, ia adalah seorang pendidik dan sempat mengadu nasib dengan merantau sebagai buruh pabrik. Lantas, bagaimana kiprahnya saat dipercaya masyarakat sebagai kepala desa? 

DALAM sehari-hari, Kades yang akrab disapa Khoiri itu banyak menghabiskan waktunya di kantor desa. Di ruangan bertuliskan ‘Ruang Kepala Desa’ itulah ia mencurahkan pemikiran, ide dan gagasannya untuk memajukan desa yang ia pimpin sejak empat tahun terakhir. Sepintas, ia pribadi yang suka bercanda. Namun, dibalik ucapannya terselip kalimat yang strategis.

Ayah dua anak itu mengisahkan, sebelum akhirnya menjadi kepala desa, ia adalah seorang guru dan sempat menjadi buruh pabrik. Profesi guru ia tekuni sejak lulus dari Madrasah Aliah Negeri (MAN) Mojokerto. Kata dia, profesi itu dimulai sejak tahun 1995 hingga tahun1999 di MI Nurul Huda Randugenengan, sekolah yang juga tempat belajarnya di masa kecil.

Baca Juga  Mangrove Lestari, Dampaknya Ekonomi

baca juga: Gali Potensi, Raih Prestasi

Dalam rentang waktu tersebut, mengabdi sebagai guru ia lalui dengan cukup sabar. Murid-muridnya dididik agar menjadi generasi penerus yang berkompeten. Sampai di tahun 1999 ia memutuskan berhenti dari dunia belajar mengajar. Di usianya yang masih muda, ia memutuskan merantau sekaligus mengadu nasib sebagai buruh pabrik di PT Asuransi Jiwa Surya, Sidoarjo.

Lambat laun, akhirnya ia berinisiatif melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan kuliah jurusan ekonomi di Universitas Mayjen Sungkono, Mojokerto hingga lulus di tahun 2010. Nah, di masa menjadi mahasiswa itulah ia mulai aktif di pemerintahan desa bersama beberapa temannya yang lain.

baca juga: Lestarikan Sikap Gotong Royong

Di masa itu, ia masuk dalam salah satu elemen desa sebagai wakil ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD). “Kalau tidak salah sejak tahun 2009, selesainya tahun 2013. Di masa itu, saya mulai belajar bagaimana cara hidup bersosial dan bermasyarakat. Tuturnya sembari membuka beberapa dokumen kegiatan.

Baca Juga  Gencar Lakukan Pembangunan dari Masa ke Masa

Akhirnya, jelang pemilihan desa, keinginan menjadi kepala desa mulai muncul. Keinginan itu, lanjut dia, karena ada rasa ingin membangun desa yang lebih baik. Beruntungnya, keinginan itu tercapai. Laki-laki kelahiran 17 Desember itu unggul dalam proses pemilihan dan sah menjadi kedes setelah dilantik di tahun 2014.

baca juga: Gencar Lakukan Pembangunan dari Masa ke Masa

Ditangannya, Desa Randugenengan mampu bersaing dengan desa yang lain, hingga mencetak sejarah dengan menjadi juara lomba desa tingkat kabupaten. Hal yang dilakukan pertama kali ialah pemetaan terhadap masalah serta potensi desa. “Satu prinsip yang saya pakai, menjadi pemimpin atau melakukan apa pun itu tidak semudah membalik telapak tangan. Pasti ada suka dan duka,” tambahnya.

Karena itulah semangat membangun tetap ada dalam dirinya. Bagi dia, bukan hanya elemen desa yang harus bergerak memajukan desa, tapi juga perlu partisipasi masyarakat secara menyuluh. Jika itu bisa, maka desa pasti akan maju dan berkembang. (fan)

Baca Juga  Tambakbulak Kondang sebagai Kampung Krupuk

Data Diri

  • Nama             : H. Moh. Khoiri, SE
  • TTL                 : Mojokerto, 17 Desember 1973
  • Istri                : Sriwati, SPd.I
  • Anak              : Choiri Rifki Nur Huda, Muhamad Zein Muttaqin
  • Pendidikan      : S1 Ekonomi Universitas Mayjen Sungkono, Mojokerto