Emo Demo Rambah Akademisi

37

Sejak terlibat dalam Formative Research untuk Emo Demo di akhir tahun 2014, Annas Buanasita, dosen Akademi Gizi (AKZI) Surabaya terus berinovasi mengenalkan emo demo di lingkungan kampus, sekolah, hingga rumah sakit.

Sebagai langkah awal setelah mengenal emo demo, ibu empat orang anak ini berupaya melakukan sosialisasi ke rekannya sesama dosen AKZI. Agar emo demo lebih dikenal dan dipraktikkan, selama tiga tahun terakhir, Annas bersama tim dosen memasukkan materi emo demo tersebut ke dalam mata kuliah PKG (Penyuluhan dan Konseling Gizi), mengimplementasikan dalam Konseling PMBA (Pemberian Makan pada Bayi dan Anak), dan PKL PIGM (Praktek Kerja Lapangan – Program Intervensi Gizi Masyarakat) melalui kegiatan pelatihan kader, kelas ibu hamil, dan posyandu.

Tak berhenti sampai di situ, Annas bersama tim juga berinisiatif membuat modul emo demo untuk anak SD dari modifikasi modul Baduta GAIN untuk kegiatan penelitian intervensi 6 bulan pada enam SD di Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian ini direspon dengan baik oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo dan telah dipublikasikan dalam Second International Nutrition and Health Symposium di Yogyakarta tahun 2018.
Kegigihan Annas dalam mengenalkan emo demo juga merambah rumah sakit. Bersama tim, Annas membuat modul emo demo tentang pembatasan cairan dan kalium untuk pasien gagal ginjal di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL Dr. Ramlan). Modul ini dipakai oleh Ahli Gizi RSAL Dr. Ramlan untuk penyuluhan pasien hemodialisa.

“Karena semakin banyak rumah sakit dan Puskesmas yang ingin tahu lebih banyak tentang emo demo, kami berinisiatif untuk mengangkat emo demo dalam topik seminar 10 Juli tahun 2019, dengan harapan agar dapat mengenalkan metode emo demo untuk penyuluhan di rumah sakit,” ujarnya.

Saat menjadi ketua penyelenggara seminar regional di bulan Februari 2019 yang lalu, Annas juga mengangkat tema emo demo sebagai salah satu metode untuk pencegahan stunting. Dia pun memberikan motivasi kepada rekannya sesama dosen untuk mengikuti Emo Demo Module Challenge 2019 yang akhirnya terpilih menjadi 12 modul terbaik se-Indonesia.

Efektivitas metode emo demo dalam menyampaikan materi membuat Annas menggunakan metode ini untuk mengajar gizi neonatus pada mahasiswa kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya dan ketika menjadi narasumber PMBA di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.

Ilmu itu tidak hanya dia tularkan pada mahasiswa, di lingkungan tempat tinggalnya di RT 04 RW 09 Gunung Anyar Emas Surabaya, Annas mempraktikkan emo demo melalui permainan edukatif kepada anak-anak saat liburan sekolah agar terhindar dari bahaya gadget.

“Dengan mempraktekkan emo demo, saya melihat banyak sekali perubahan yang terjadi pada peserta didik. Mereka menjadi lebih mudah memahami tanpa merasa digurui. Mereka juga menjadi lebih kreatif dan inovatif,” tuturnya.

Dia menambahkan, perubahan lain juga dirasakan para alumni AKZI yang telah menikah dan menjadi ibu muda. Mereka seringkali bercerita telah mempraktikkan modul emo demo yang pernah didapatkan di bangku kuliah. Sebagian besar mereka telah mempraktikkan pemberian ASI Eksklusif dan meneruskan pemberian ASI hingga bayi berusia 2 tahun, frekuensi, dan porsi pemberian MP-ASI.

“Mereka dapat lebih mudah mempraktekkannya dengan mengingat alat peraga yang pernah digunakan, yaitu poster jadwal pemberian makan dan piring anak (cakram),” imbuhnya. (*)