Lebih Dekat dengan Desa Randugenengan, Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto (1)

Gali Potensi, Raih Prestasi

499
Foto-foto: Hamzah Afif Afandi/Derap Desa

Terselenggaranya pemerintah desa yang transparan guna mewujudkan hidup bermasyarakat adil, makmur dan sejahtera menjadi satu-satunya visi yang ingin dicapai Desa Randugenengan. Diantara langkahnya adalah pandai dalam menggali sekaligus memanfaatkan potensi yang dimiliki. Beruntung, berkat langkah itu, desa ini berhasil meraih predikat terbaik di ajang lomba desa se-Kab. Mojokerto.

KANAN kiri jalan yang semakin dekat dengan gapura Desa Randungenengan, Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto adalah sawah. Di bawah terik mentari yang kian menyengat, beberapa masyarakat yang beraktivitas sebagai petani, kala itu, masih terlihat semangat menggarap sawahnya. Ada yang mencangkul, ada yang menanam, ada yang memupuk dan ada juga yang membersihkan rerumputan di sela tanaman.

Di desa ini bertani memang menjadi komoditas utama mata pencaharian masyarakat setempat. Nuansa desa yang masih kental itu, secara tidak langsung, berimbas pada kondisi tanah yang terbilang akan semakin subur. Dan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan pun membuat salah satu akses perekonomian desa berjalan baik.

Baca Juga  Bermodal Iuran Anggota, Berharap Digandeng Pemerintah

Lahan pertanian dari data Desa Randugenengan terdiri dari dua jenis, yaitu; lahan persawahan dengan luas 132 Ha dan lahan tegalan dengan luas 36,3 Ha. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap ada yang melabuhkan nasibnya dengan bekerja sebagai profesi lain. Diantaranya; peternak, pegawai pabrik, pengusaha, pedagang dan lain-lain.

Balai Desa Randugenengan

Desa yang dipimpin H M Khoiri SE (45) ini menaungi lima dusun (Dusun Sambirejo, Dusun Sukosari, Dusun Genengan, Dusun Claket dan Dusun Randugembung). Namun, jauh sebelum itu, Desa Randugenengan merupakan penggabungan dari tiga wilayah perkampungan yang telah disepakati masing-masing tetuah atau orang yang memiliki pengaruh.

Kepala desa yang akrab disapa Khoiri itu menyampaikan, berbicara soal potensi, Desa Randugenengan ia rasa punya potensi yang cukup bagus. Baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) nya, segi Sumber Daya Manusia (SDM) nya atau dari segi kelembagaan dan organisasinya.

Baca Juga  Dulu Ngemong Murid, Sekarang Ngemong Masyarakat

“Kami berusaha memaksimalkan itu. Dan, alhamdulillah tahun 2017 kami berhasil meraih juara terbaik lomba desa yang diselenggarakan pemerintah kabupaten,” tuturnya saat ditemui di kantor desa. Bahkan, berkat keberhasilan itu, tahun 2018 desa ini dipercaya mewakili Pemkab untuk bersaing di ajang lomba desa tingkat provinsi namun belum memperoleh juara.

salah satu gang dusun yang bersih

Masyarakat dan elemen desa, kata dia, turut andil dalam setiap pembangunan yang dilakukan. Beberapa lembaga dan organisasi yang dinaungi desa bisa saling menjaga kekompakan. “Kalau nggak kompak ya kita nggak akan terpilih jadi juara, mas,” tukasnya lantas terkekeh.

Menjalankan roda pemerintahan dengan bersih dan transparan menjadi kunci paling utama. Bahkan, melalui visinya, Pemdes menuangkan keinginan, mampu mewujudkan hidup bermasyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dengan cara menyelenggarakan pemerintahan yang bersih dan transparan.

Baca Juga  Desa Doudo; Dulu Sulit Air, Kini Berjaya karena Air (1)

Selain itu, sedikitnya ada lima teknis yang dibuat patokan pemerintah desa dalam mewujudkan cita-cita itu. Pertama, melakukan musyawarah guna melakukan pemetaan terhadap masalah dan potensi desa. Kedua, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu, melayani masyarakat.

Ketiga, melakukan apa yang sudah disepakati dengan kekompakan. Managemen dan struktur kordinatif pemerintah desa antara Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), karangtaruna dan elemen lainnya benar-benar diterapkan. Keempat, selain kekompakan, pembangunan juga dilakukan dengan roh gotong royong.

Dan yang terakhir, menjalankan roda pemerintahan dengan sabar. Mengapa? Karena, Kades yang pernah menjabat sebagi wakil BPD di Desa Randugenengan itu menyadari, bahwa dalam kehidupan sosial, apalagi di lingkup desa, pasti ada yang suka dan tidak. (fan)