IPM Rendah, Gubernur Khofifah Minta Kepsek di Jatim Miliki Kepemimpinan Kuat

122
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri acara penguatan kepala sekolah se-Jawa Timur di Islamic Center Surabaya, Kamis (11/4). Ia menekankan pentingnya sinergitas semua pihak untuk mengatasi kondisi IPM di Jatim. Foto : istimewa.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur masih rendah.  Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang IPM tahun 2017, Jatim masih berada pada angka 70,27 atau berada di bawah IPM Nasional, yakni 70,81. Bahkan jika dibandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa,  seperti DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Jabar, dan Jateng, Jatim menempati posisi buncit. Hal itu tentu membutuhkan penanganan khusus dari pemerintah.

Begitulah yang diungkapkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat memimpin acara Penguatan Kepala Sekolah (SMA, SMK, dan SLB) se-Jawa Timur, tentang Nawa Bhakti Satya “Jatim Cerdas” di Gedung Islamic Center Surabaya, Kamis 11 April 2019. Menurut Khofifah, kondisi tersebut memerlukan dorongan dari semua pihak.

“Jadi IPM kita ini nomor lima belas dari IPM secara nasional. Tentu ini tidak cukup menggembirakan. Ini pekerjaan rumah yang harus kita intervensi bersama-sama” katanya.

Khofifah melanjutkan, untuk itulah pertemuan tersebut diadakan, yakni untuk menyambung pikiran, program, dan semangat bersama dalam meningkatkan kualitas IPM Jatim. Selain itu, menurutnya pihaknya juga melakukan penyisiran terhadap masyarakat demi meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Ia mencontohkan, saat ini Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Jatim ialah 7,39 alias setara dengan kelas 2 SMP dan sederajat. Sehingga, perlu didorong untuk mengikuti ujian kejar Paket B dan Paket C.

“Kami sudah berkoordinasi dengan para bupati dan wali kota, karena tugas kejar paket adalah kewenangan kabupaten atau kota. Tapi tentu kami tidak bisa berpikir seperti itu. Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama. Kita harus membangun strong partnership untuk bisa meningkatkan kualitas SDM Jatim, supaya daya saing kita menjadi lebih baik,” tegasnya.

Di samping itu, di hadapan ratusan Kepala Sekolah SMA, SMK, dan SLB se-Jatim, Khofifah menekankan agar mereka memiliki managerial skill dan kepemimpinan yang kuat dalam memimpin sekolah. Ia berharap dampak dari dua hal tersebut berkontribusi meningkatkan IPM Jatim. Selain itu, menurut Khofifah hal tersebut penting, sebab para kepala sekolah bertanggung jawab dalam mengelola generasi penerus bangsa.

“Seorang kepala sekolah harus berseiring antara kekuatan managerial skill dengan kemampuan leadership-nya, dan ini harus terus diasah,” katanya. Ia melanjutkan, dengan memiliki keduanya akan mampu memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan dan percepatan IPM Jatim.

Seperti diketahui, dalam agenda tersebut dihadiri 423 Kepala Sekolah SMA Negeri di Jatim, 150 Kepala Sekolah SMA Swasta, 296 Kepala Sekolah SMK Negeri, 175 Guru Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKLK). Beserta Kepala Dinas Pendidikan Jatim serta jajaran Kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim. (dd-07, hms)