Gubernur Upayakan Koneksitas Objek Wisata Bromo Tengger Semeru

98

Bila objek wisata di Jawa Timur terkoneksi. Tentu hal ini akan lebih bagus dan menguntungkan. Tak salah bila Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengupayakan koneksitas pariwisata di kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS).

Hal tersebut menindaklanjuti Perpres No 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Wilayah Jawa Timur yang ditetapkan Presiden Joko Widodo sejak 20 November 2019 lalu.

“BTS ini ‘kan salah satu dari tiga prioritas pengembangan wilayah di Jawa Timur. Ada Gerbangkertosusila, Selingkar Wilis, dan Lintas Selatan. Untuk BTS, kita siapkan koneksitas dengan rencana pariwisata nasional,” kata Khofifah di Probolinggo, Jumat (14/2).

Khofifah menjelaskan, seperti target wisatawan asal Eropa dengan paket wisata cruise (menggunakan kapal pesiar) selama 14 hari bisa dikoneksikan. “Selama liburan 14 hari, dua hari di Borobudur, 10 hari di Bali, dua hari di Jatim. Masing-masing sehari di Bromo, dan sehari di Ijen,” ujarnya.

Baca Juga  Cegah Penjarahan, Hadir untuk Lestarikan Lingkungan

Guna pengembangan wisata, lanjutnya, maka potensi lokasi wisata yang belum terkoneksi maka perlu diintegrasikan. “Seperti Gili Iyang dan Gili Labak, ini sangat bagus untuk wisata. Namun di Kalianget (Sumenep, Madura) sedimentasinya tinggi. Sudah saya sampaikan ke Pelindo III dan Kementerian BUMN. Ini persambungannya (dengan BTS),” ujarnya.

Pihaknya berharap dengan koneksitas wisata itu, maka wisatawan lokal dan mancanegara bisa lebih lama tinggal di Jatim. “Tidak hanya luasan area dan pendalaman tapi destinasi wisata harus digarap serius,” kata dia.

Gubernur Khofifah telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat. “Untuk BTS ini saya sudah ke Bappenas. Dulu ke Pak Bambang Brojonegoro, sekarang Pak Suharso Monoarfa. Dengan Kementerian Pariwisata juga sudah, khususnya Koordinator BTS dan juga KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) kaitannya dengan Taman Nasional BTS,” tuturnya.

Baca Juga  Sejenak Lari dari Hiruk Pikuk Perkotaan

Perlu diketahui, Perpres 80/2019 mengatur percepatan pembangunan ekonomi di wilayah Jawa Timur. Lingkupnya yakni meliputi kawasan Gerbangkertosusila (Gersik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan). Selain itu mencakup wilayah Kawasan Bromo Tengger Semeru, Kawasan Selingkar Wilis, dan Lintas Selatan.

Khofifah sebelumnya menegaskan, Pemprov Jatim harus memastikan ketersediaan lahan dalam pengembangan dan percepatan ekonomi. “Kita nggak perlu bicara lahan puluhan ribu hektare dulu. Yang ratusan hektare saja harus dipastikan,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan pada seluruh dinas terkait agar segera menindaklanjuti lebih mendalam atas Perpres tersebut. “Setiap data yang ada harus dicek langsung di lokasi untuk mengetahui benar atau tidak,” ujar Gubernur Jatim perempuan pertama itu. (*)