Hati-Hati Tahun Baru

86

Seorang perempuan sok akrab bernama Ija tiba-tiba mendekati Inem sambil mengulurkan tangan.

Ija        : “Loh, kamu kan… Aduuuuh sudah berapa tahun gak ketemu?”

Inem    : “Siapa?” (garuk-garuk kepala)

Ija        : “Masak lupa sih? Aku Ija, temen TK dulu.

Inem    : (Masih kebingungan) Oh, iya-iya teman ku ya. Hehe…”

Ija        : “Iya. Eh, mumpung tahun baru nih, kita makan bareng yuk.”

Inem    : “Aku… sebetulnya buru-buru. Ada janji.”

Ija        : “Ayolah… Sekalian nostalgia. Kita kan sudah lama tidak ketemu.”

 

Akhirnya keduanya pun pergi ke rumah makan dan memesan makanan.

Ija        : “Ayo makan yang banyak, Nem. Kamu sekarang kurusan.”

Inem    : “Oh, iya-iya.” (Masih kebingungan)

Ija        : “Eh, ngomong-ngomong, perut ku kekenyangan. Aku kebelakang dulu sekalian shalat ke mushala, nanti gantian.”

Inem    : “Oh, iya. Duluan aja.”

 

Beberapa menit kemudian, teman barunya itu tak kunjung datang. Inem pun memanggil pelayan.

Inem                : “Mbak, mushalanya dimana?”

Pelayan            : “Wah, disini nggak ada mushalanya mbak. Adanya masjid, 50 meter dari sini.”

Inem                : “lah teman saya tadi mana… Wadduh, dibohongin beneran aku.” (*)