Geliat Kelompok Konservasi Pantai Desa Tunggul (1)

Jaga Ekosistem Pantai, Berdayakan Masyarakat Nelayan

201

Pergerakan industri di pesisir pantai yang kian berkembang melatar belakangi masyarakat Desa Tunggul, Kec. Paciran, Kab. Lamongan terus berbenah. Selain menikmati hasil laut sebagai salah satu potensi alam di desa, guna keseimbangan lingkungan, mereka membentuk kelompok konservasi pantai yang dikenal dengan nama ‘Maskot’.

NURUL Alif (40) dengan bangga menunjukkan logo kelompok masyarakat yang ia pimpin di desanya. Logo itu berisi gambar daun, akar dan ikan. Di tengahnya tersusun enam huruf warna merah yang terlihat paling menonjol. Susunan huruf itu membentuk kata MASKOT. Artinya, Masyarakat Konservasi Pantai Tunggul.

Nama itu menjadi identisas kelompok pengawas masyarakat yang biasa dikenal dengan nama Pokmaswas, kelompok yang berkonsentrasi pada pengawasan keberlangsungan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan. “Di Desa Tunggul, kami terbentuk di awal tahun 2014 dan resmi tercatat di dinas tahun 2016,” kisahnya.

Nurul menuturkan, ada dua hal yang melatar belakangi terbentuknya MASKOT. Yaitu; keberadaan industri dengan pemanfaatan lahan pantai di pesisir Lamongan yang semakin berkembang dan perilaku masyarakat pesisir yang kurang paham tentang arti pentingnya keseimbangan ekosistem pantai.

“Maka dari itu, kami bersama teman-teman yang peduli tergerak untuk melakukan pelestarian lingkungan pantai. Adapun visi misi kami adalah pelestarian dan konservasi ekosistem pantai sebagai upaya mengangkat sekaligus memberdayakan kehidupan masyarakat pesisir,” terangnya.

Secara geografis, sisi utara desa memang seluruhnya berbatasan dengan laut jawa. Karena itu, tak terpungkiri jika desa seluas 325 Ha ini memiliki hamparan pesisir laut yang cukup panjang. Masyarakatnya pun banyak yang melabuhkan diri untuk mengais rejeki dengan berprofesi sebagai nelayan.

Di sepanjang pantai Desa Tunggul itu, kata Nurul, cukup banyak yang bisa dikembangkan. Pertama, terdapat padang lamun seluas kurang lebih 4 Ha. Ekosistem khas laut dangkal di perairan hangat dengan dasar pasir yang didominasi tumbuhan lamun (tumbuhan bangsa Alismatales yang beradaptasi di air asin).

Kedua, terdapat hutan mangrove jenis brayo yang bisa dimanfaatkan menjadi kopi. Lokasinya di Dusun Genting, Desa Tunggul. Ketiga, terdapat terumbu karang yang biasanya dimanfaatkan ikan untuk berkembang biak. Keempat, perairannya cukup bersih dan lokasi pasang surutnya pun cukup luas. Dan kelima, aneka jenis kerang, udang dan ikan dalam kondisi baik masih cukup melimpah.

Selama ini, ayah dua anak itu bersama anggota kelompoknya sudah melakukan banyak hal. Diantaranya; melakukan program transplantasi terumbu karang buatan yaang dibantu Dinas Perikanan Prov Jatim, bersih-bersih pantai dengan melibatkan elemen desa, monitoring keluasan padang lamun setiap enam bulan sekali, penanaman mangrove dan lain sebagainya.

“Kegiatan kami memberi pengetahuan tentang arti pentingnya menjaga pantai. Di mana fungsi dan manfaatnya akan banyak dirasakan masyarakat khususunya nelayan. Terumbu karang sebagai tempat ikan berkembang biak jika kita jaga, ikan akan melimpah. Juga padang lamun sebagai tempat bertelurnya udang dan kepiting, jika terjaga makan akan bisa dirasakan nelayan. Mangrove pun demikian. Manfaatnya banyak. Mulai menahan abrasi sampai menyuplai oksigen,” jelasnya meyakinkan.

Karena itulah, mereka sangat getol menyuarakan kepada nelayan dan anak-anak sekolah sebagai kader nalayan betapa pentingnya menjaga ekosistem pantai sebagai berlangsungnya kehidupan anak dan cucu. Tak lain, agar nanti manfaatnya bisa dirasakan bersama-sama. “Hasilnya beberapa sudah dirasakan nelayan pancing. Lobster pun sudah banyak didapat,” tambahnya. (fan)