Kampung Kue Surabaya, Kelurahan Kali Rungkut Lor Surabaya, Jatim

Kampung Kue Surabaya, Omzet Jutaan Serap Banyak Pengangguran

277

Siapa sangka kampung kue ternyata menjadi sebuah titik balik dari kerapuhan perempuan Gang II Jalan Rungkut Lor Surabaya dalam mengatasi kebutuhan ekonominya. Usaha sampingan tersebut kini telah mampu menghidupi keluarga mereka. Ide membentuk Kampung Kue digagas Choirul Mahpuduah (47). Ide tersebut muncul dari banyaknya jumlah pengangguran perempuan di Gang II Jalan Rungkut Lor, Surabaya, Jawa Timur.

Mayoritas ibu-ibu di kawasan tersebut adalah ibu rumah tangga. Hidup mereka hanya mengandalkan gaji bulanan suami yang tidak seberapa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang banyak, sering di antara mereka terjerat hutang di rentenir. Sementara rutinitas mereka hanya terpaku pada kegiatan itu-itu saja. Seperti dengan sibuk mengantar anak sekolah, memasak, dan mencuci.

Setelah itu, sebagian dari mereka akan main kucing-kucingan dengan para penagih utang harian ataupun kredit. Melihat ketidakproduktifan perempuan di lingkungannya, di 2005 Choirul Mahpuduah atau lebih kerap disapa Irul mengajak ibu-ibu sekitar membuat kue basah bersama. Awalnya hanya bertujuan untuk mengisi waktu luang dan menambah penghasilan. Seiring berjalannya waktu, kampung gang II Rungkut Lor pun berangsur-angsur dikenal sebagai kampung kue. Kini di depan gang tersebut juga telah di pasang banner bertuliskan kampung kue, yang tujuannya memudahkan pembeli yang berkunjung.

Omzet per hari kampung kue kini telah mencapai Rp 25 juta per hari. Dikurangi biaya operasional dan ongkos dan dikalikan selama satu bulan, kampung kue meraup keuntungan mencapai Rp 750 juta per bulan. Jumlah tersebut kemudian dibagi dengan seluruh pembuat kue dan yang terlibat.

“Kini, kami tidak lagi dikejar-kejar penagih kredit. Ke depannya saya berharap Kampung Kue bisa semakin dikenal masyarakat luas dan memberikan banyak kemanfaatan bagi banyak orang,” kata Irul.

Pangsa pasar Kampung Kue Rungkut Surabaya kini pun telah meluas. Jika dulu kawasan kampung kue hanya digandrungi pengecer kue keliling, kini toko kue hingga supermarket telah menjadi langganan tetap produk kampung kue. Produk kampung kue sendiri beragam mulai dari kue basah hingga kue kering.

Bahkan demi memperluas pangsa pasar, para ibu rumah tangga itu juga mulai membuat kue inovasi. Misalnya kue landak, yaitu pisang yang dibalut tepung seukuran genggaman tangan anak. Permukaan kue itu disayat kecil dengan ujung gunting. Saat dioven, sayatan-sayatan itu akan berdiri tegak seperti duri landak.

Lebih dari 70 jenis kue bisa diproduksi Kampung Kue setiap hari dengan variasi harga Rp 800 hingga Rp 3500 untuk kue basah. Sedang kue kering seperti nastar dibanderol Rp 45 ribu setiap toplesnya. (rni)