Kelola Sampah, Bumdes Tembokrejo Raup Rupiah

366
Bumdes Tembokrejo, Muncar mampu kelola sampah dan hasilkan rupiah

Sampah ternyata mampu membuahkan rupiah. Ya, program pendampingan pengelolaan sampah laut, STOP (Stopping The Tap On Ocean Plastic) di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, berhasil meningkatkan kapasitas pengolahan sampah oleh warga desa. Bahkan menghasilkan uang.

Program itu dijalankan sejak 1,5 tahun lalu, dan kini pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) menjangkau 8.900 rumah tangga. Program STOP ini diinisiasi organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO) dunia yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria, Systemiq.

Program tersebut membantu Pemkab Banyuwangi dalam pengelolaan sampah laut di Kecamatan Muncar. Muncar merupakan pelabuhan ikan terbesar di daerah dan terkenal sebagai penghasil ikan lemuru terbesar nomor dua di Indonesia.

Chief Delivery Officer STOP Project Systemic, Andre Kuncoroyekti, mengatakan, pada tahun pertama program, penanganan sampah difokuskan di Desa Tembokrejo, Muncar. Karena desa tersebut telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R).

Baca Juga  Variasi baru dari Mangga Alpukat Pasuruan

Kini Andre mengaku senang karena berbagai intervensi yang dijalankan berjalan sesuai harapan. “Kami datang dalam keadaan warga yang masih membuang sampah di laut. Tapi kini semua warga desa bisa dibilang seratus persen sudah membuang sampah ke tempat yang tersedia,” kata Andre.

Dalam pengelolaan tersebut, Systemiq melibatkan Bumdes sebagai pengelola sampah. Mereka dilatih mengoptimalkan sistem pengangkutan, pengumpulan hingga pengolahan sampah.

“Sekarang 100 persen warga sudah dilayani oleh Bumdes. Cakupannya sudah mencapai seluruh rumah tangga di Desa Tembokrejo yang berjumlah 8900 RT, dari awal yang sebelum kami masuk hanya sekitar 400 rumah,” kata Andre.

Bumdes bahkan sudah berhasil menjual sampah yang telah diolah ke beberapa daerah seperti Surabaya dan Pasuruan. “Perbulan Bumdes bisa mendapatkan hasil Rp 25 juta dari pengelolaan sampah ini,” kata Andre.

Baca Juga  Sendratari Meras Gandrung Pukau Pengunjung

Di TPST Tembokrejo, sampah yang diangkut dari rumah warga lantas dipilah dan dikelola. Sampah organik dimanfaatkan untuk kompos dan budidaya larva lalat black soldier fly yang memiliki kemampuan mengurai sampah organik. Yang nonorganik, dipilah sesuai jenisnya untuk dijual.

Sejak April 2018 hingga Februari tahun 2019 ini, jumlah sampah nonorganik yang dijual Bumdes mencapai 10,4 ton. “Setelah berjalan satu tahun lebih, telah ada perubahan fisik sungai di dekat Pantai Satelit. Tumpukan sampah tidak terlalu banyak, di pinggir-pinggir sungai juga tidak ada tumpukan sampah,” tuturnya.

Andre mengaku pihaknya kini tengah meningkatkan kapasitas Bumdes Tembokrejo agar bisa menerima pengelolaan sampah dari desa-desa sekitarnya. Salah satu yang menjadi sasaran Systemiq dalam waktu dekat adalah Desa Sumberberas.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, akan mendorong desa lain untuk mengerjakan program serupa. Menurutnya, program ini adalah bagian dari program Smart Kampung yang dapat mengakselerasi kebersihan. (*)