Kepala BPBD Jatim Ungkap Kondisi Kebencanaan di Jawa Timur

154

SAAT kunjungan Gubernur Jatim Khofifah di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (5/3), Kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono mengungkap kondisi Jatim dari segi kebencanaan.

Ia menyampaikan, Jatim secara geografis berdekatan dengan jalur pertemuan lempeng tektonik. Hal itu mengakibatkan kondisi Jawa Timur rentan dengan bencana gempa bumi. Secara geologis, Jatim juga punya tujuh gunung berapi yang yang aktif. Mulai Ijen, Bromo, Semeru, Kelud, dan lain-lain.

Soal pantai, lanjut dia, Jatim punya garis pantai panjang yang bisa memicu terjadinya bencana tsunami. Selain itu, Jatim juga menganut iklim tropis. Kalau musim kemaru mengalami bencana kekeringan dan kebakaran. Sedang saat musim hujan bisa berpotensi angin kencang, puting beliung, banjir dan tanah longsor.

“Jadi, kajian resiko bencana yang dibuat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) tahun 2016 sampai 2020 itu betul. Jatim punya ancaman bencana 12 ancaman, 11 bencana alam dan satu non alam,” papar Suban.

Jika disimpulkan, dari 38 kabupaten/kota yang termasuk ancaman resiko tinggi berjumlah 29 dan dari bencana tsunami berjumlah 8. Kalau di arahkan ke desa, ada 156 desa mulai Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang dan Banyuwangi.

“Di Banyuwangi saja ada 46 desa yang rawan tsunami, di Pacitan ada 24 desa. Kalau bencana banjir, dari 38 kabupaten/kota ada 22 kabupaten yang rentan. Itu karena di Jatim ada tujuh aliran sungai besar, mulai; Bengawan Solo, Brantas, Pekalen, Bajul Mati, Kali Welang dan Bondoyudo,” terangnya.

Untuk tanah longsor ada 13 kabupaten, mulai Magetan, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar dan khususnya wilayah selatan. Soal kekeringan, saat musim kemarau ada 23 kabupaten (171 kecamatan dan 823 desa) dengan resiko tinggi.

“Kalau gempa bumi, hampir di Jatim ini zonanya sudah merah semua. Kalau kita petakan dengan teman-teman di kabupaten/kota ada 1490 desa yang rawan. Dan dari keseluruhan, ada 2999 desa dari 8501 desa di Jatim yang resiko bencana tinggi. Hampir 35 persen,” jelasnya.

Namun, kata dia, ada beberapa permasalahan dalam menyikapi bencana. Pertama, persepsi masyarakat dalam pemahaman bencana masih sebatas saat darurat kejadian dan pasca bencana. Kedua, kurangnya sosialisasi pada masyarakat. Dan ketiga, keterbatasan kapasitas dalam kelembagaan, SDM, peralatan dan pendanaan dalam pengurangan resiko bencana.

Karena itulah, dalam penanggulangan bencana, BPBD Jatim memiliki beberapa tahapan. Yaitu; tahap pra bencana, tahap saat kejadian darurat dan pasca bencana.

Misalnya dalam penanganan pra bencana dilakukan pencegahan dengan mengadakan kajian, pengembangan desa tangguh, pengembangan sekolah aman bencana, destinasi wisata aman bencana dan pembinaan terhadap relawan.

“Dan pada minggu-minggu ini, kami akan menyiapkan gladi kesiap siagaan BPBD se-Jatim dalam penanggulangan bencana dan peresmian kantor SRPB (Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana) di Jatim. Insyaallah SRPB ini satu-satunya di Indonesia,” ungkapnya bangga disusul tepuk tangan hadirin.

SRPB yang dikordinatori Dian tersebut saat ini sudah ada 165 organisasi. Selain itu, inovasi lain yang akan wujudkan BPBD Jatim adalah membuat tenda pendidikan bencana untuk mengedukasi anak didik dan melakukan survei pada masjid Maktab (Masjid Kokoh dan Tangguh dalam Bencana) sebagai titik kumpul saat terjadi bencana. (fan)

baca juga: Kunjungi Kantor BPBD Jatim, Khofifah Apresiasi Relawan