Khofifah Panen Melon Kotak

88
Gubernur Jatim Khofifah panen melon prima berbentuk kotak. Sumber: Instagram/@khofifah.ip

Buah melon tak hanya berbentuk bundar. Ada juga yang berbentuk kotak, bahkan berbentuk hati. Semua itu bisa ditemui di UPT Pengembangan Agrobisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura, Desa Lebo, Sidoarjo. UPT yang berada di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim ini mengembangkan varietas melon prima yang memiliki berbagai macam bentuk.

Pada Rabu (15/5), Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berkesempatan berkunjung dan melakukan panen melon prima. Ia hadir didampingi Wakil Bupati Sidoarjo, Kadis Perindag Prov. Jatim, Kadis Kominfo Jatim, dan Karo Adm. SDA Setdaprov Jatim. Usai panen, Khofifah mengatakan bahwa melon prima memiliki banyak keunggulan. Antara lain buahnya yang renyah, harganya yang mencapai tiga kali lipat dari melon super, serta pasar yang luas dan potensial. Ia pun mengajak petani, khususnya petani buah melon untuk mulai menanam melon prima.

Khofifah menambahkan, untuk menanam melon prima memang membutuhkan tambahan modal. Namun di sisi lain, keuntungannya sangat menjanjikan, apalagi jika diiringi inovasi dan kreativitas yang unik, seperti buah melonnya dibentuk kotak (square) atau hati (heart), kemudian ditambahkan aksesoris pita, sehingga menjadi lebih eksklusif.

Khofifah didampingi Wakil Bupati Sidoarjo dan beberapa Kepala OPD Pemprov Jatim juga memanen melon berbentuk hati.

Melon prima banyak digemari pelanggan yang berasal dari dalam dan luar kota, bahkan luar provinsi. Salah satunya beberapa supermarket modern dan buah-buahan terkenal di Surabaya biasanya memesan sebanyak 600 buah atau sekitar 800 kilogram.

“Ini sesuatu banget, dan ini sudah bisa masuk ke market yang lebih memberikan nilai tambah bagi petani,” kata Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim ini juga optimis, dengan bertanam melon prima akan berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di pedesaan, serta tingkat pengangguran terbuka di Jatim. Saat ini, kemiskinan di pedesaan di Jatim masih sebesar 15,2 persen. Sedangkan sebagian besar profesi masyarakat di pedesaan adalah bertani.

“Dari 15,2 persen itu, kita akan terus mencari dan memaksimalkan titik-titik mana yang bisa meningkatkan pertumbuhan-pertumbuhan baru, termasuk mendorong agar menanam melon prima,” ujarnya.

Khofifah juga mengatakan, salah satu referensi kisah sukses bertani melon adalah petani di Plumpang, Tuban. Para petani tersebut rata-rata berusia muda. Ketertarikan mereka bertani melon karena nilai tambahnya luar biasa dibandingkan bercocok tanam padi.

“Inovasi-inovasi sektor hortikultura harus terus kita lakukan, apa yang bisa di-create dari produk hortikultura yang indah, akan menambah estetika dari sebuah produk, dan pasti nilai tambahnya juga lebih baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistiyo menjelaskan, teknologi pertanaman melon prima di UPT ini dilakukan secara modern, yakni di dalam screen house seluas 3.200 m3 dengan jumlah tanaman sebanyak 3.412 tanaman. Screen house ini dilengkapi dengan irigasi tetes, sehingga menghemat biaya pengairan dan mengurangi penggunaan pestisida kimia. Ia menambahkan, melon prima dibudidayakan dengan berpedoman pada standar operasional prosedur (SOP) budidaya yang baik, sehingga produk melon prima UPT ini memperoleh sertifikasi Prima 3.

“Pertanaman dimulai pada 11 Maret 2019, sehingga saat ini siap untuk dipanen,” katanya. (uul, hms)