Kirab Api Porprov di Grahadi, Khofifah Sebut Atlet Jatim Luar Biasa

23
Gubernur Khofifah ketika menyambut Kirab Api Porprov 2019 di Grahadi. foto : Hamzah Afif Afandi/derapdesa.id

Setelah melalui perjalanan di empat kota, yakni Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik, Kirab Api Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IV Jatim 2019 sampai juga di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (4/7) petang.

Di sana telah menunggu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa beserta 50 mobil rombongan, kelompok paskibraka, serta marching band dari Politeknik Penerbangan Surabaya. Lalu, Adinda Larasati, seorang atlet renang, lantas menyerahkan api yang bersumber dari api abadi di Bojonegoro kepada Gubernur Khofifah.

Tak berselang lama, api yang diterima itu disulutkan di kaldron yang terletak di panggung utama. Prosesi itu sekaligus menandai secara resmi, bahwa kirab api telah sampai di  Surabaya. Dan keesokan harinya, akan dibawa lagi ke Stadion Surajaya Lamongan untuk dilakukan prosesi pembukaan secara resmi Porprov IV Jatim 2019.

Dalam keterangannya di hadapan awak media, Khofifah mengatakan harapan besarnya pada ajang olah raga tingkat provinsi ini. Menurutnya, dampak signifikan begitu terasa. Terutama pada perhelatan SEA Games.

“Kontribusi atlet milenial kita di Jawa Timur luar biasa. Ada 12 emas, enam perak, dan sembilan perunggu. Itu harus menjadi spirit bagi atlet kita, pada PON, persiapan Asean Games, Olimpiade, untuk pembibit,” kata perempuan yang pernah menjadi atlet hoki dan panjat tebing tersebut.

Ia menambahkan, adanya ajang kali ini juga diharapkan bisa menghasilkan rekor-rekor baru. Hal itu lantaran, para atlet yang telah berkiprah di kancah nasional dan olimpiade, tidak diperkenankan mengikuti Porprov. Sehingga adanya atlet baru, bisa menjadi tumpuan andalan berikutnya.

Selain itu mantan Menteri Sosial RI itu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyemarakkan agenda Porprov. Mengingat pada prosesi itu juga bebarengan dengan momentum libur sekolah. Dan terkait kebijakan baru mengadakan Porprov dua tahun sekali, gubernur perempuan pertama Jatim tersebut mengungkapkan hal itu berasal dari kalkulasi penghitungan pergantian tuan rumah setiap kota atau kabupaten.

Jika merujuk pada aturan lama, yang mencanangkan empat tahun sekali pelaksanaan, potensi setiap kabupaten mendapat giliran akan berlangsung lama. Sehingga setiap daerah akan kesulitan untuk memeratakan kualitas atletnya. Di samping itu juga karena pentingnya membentuk mental juara dari para atlet.

“Artinya bahwa mereka (atlet) siap maju di medan laga. Tidak hanya di regional, tetapi nasional, Asean, Asia, dan dunia. Nah pada proses ini semakin sering berlaga, mereka tahu bagaimana mencetak rekor di masing-masing cabang olah raga,” pungkasnya. (frd, fan)