KONI Jatim Beri Tali Asih Mantan Atlet

75

Hargai dan berikan apresiasi sekecil apa pun atas perjuangan mereka selama ini. Begitulah kira-kira yang pantas disematkan pada mantan atlet yang pernah berjaya mengharumkan nama daerah maupun bangsa.

Terkait hal itu, KONI Jawa Timur (Jatim) kembali memberikan tali asih kepada mantan atlet yang pernah berprestasi dan mengharumkan nama Jawa Timur dan Indonesia. Dari lima penerima tali asih tahap kedua, tiga di antaranya adalah mantan pemain sepakbola.

“Kenapa sepakbola? Karena sumbangsih cabang olahraga sepakbola memang banyak untuk Jawa Timur maupun tim nasional Indonesia,” kata Ketua Harian KONI Jatim, M Nabil.

Program tali asih yang dijalankan KONI Jatim ini merupakan amanat Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Dalam beberapa kesempatan, orang nomor satu di Jatim ini selalu mengingatkan KONI untuk tidak melupakan jasa mantan atlet yang pernah mengharumkan nama Jatim dan Indonesia.

Terkait hal itu, pada Kamis (25/6), KONI Jatim memberikan tali asih kepada lima mantan atlet di tengah acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) KONI Jatim yang digelar secara online via aplikasi zoom. Kelima sosok itu adalah Budi Santoso (sepakbola), Tutut Nugroho (tenis lapangan), Yopie Saununu (sepakbola), Abdul Khamid (sepakbola), dan Suyitno (balap sepeda).

Baca Juga  Momentum Satukan Suporter di Piala Gubernur Jatim 2020

“Kita harus selalu mengingat bahwa mereka telah memberikan sejarah terbaik dan mengorbankan semuanya untuk Jawa Timur dan Indonesia. Oleh sebab itu kita harus mengapresiasi agar mereka tidak merasa terbuang dan terlupakan,” kata Nabil.

Dia melanjutkan, jangan sampai mendzalimi atlet. “Mereka dimanfaatkan pada saat berjaya, dan melepas begitu saja saat mereka selesai menjadi atlet,” lanjut dia yang juga Direktur Puslatda Jatim.

Nabil mengamini, program tali asih terinspirasi dari Gubernur Khofifah. Bahwa gubernur berulangkali mengingatkan nasib mantan-mantan atlet, termasuk mantan pesepakbola Jawa Timur yang di tim nasional.

“Perhatian beliau terhadap olahraga sangat luar biasa. Sesuai dengan apa yang diinginkan gubernur dengan memberikan tali asih ini, semoga bisa memberi manfaat bagi mereka,” imbuh Nabil. (*)

Pemberian tali asih kepada mantan atlet (foto atas) dan pelaksanaan Rapat anggota KONI Jatim

Berikut ini adalah profil singkat penerima tali asih KONI Jatim

1. Budi Santoso (sepakbola)
Budi Santoso lahir di Surabaya pada 1948, bermain sebagai right mildfielder, Budi menjadi andalan timnas Indonesia era 1970-an yang kala itu sangat disegani di Asia. Bahkan dia menjadi andalan Green Force Persebaya sepanjang 1969 – 1978. Budi Santoso ikut membawa Persebaya menjadi juara nasional kompetisi Perserikatan pada 1977.

Baca Juga  Dibuka Khofifah, Persebaya Menang di Awal Piala Gubernur Jatim

2. Tutut Nugroho (tenis lapangan)
Lahir di Jombang 13 Oktober 1958. Dia pernah menempati peringkat 1 Jatim, pada era 80-an terpilih memperkuat tim nasional ke SEA Games XII tahun 1983 di Singapura. Hasilnya bersama Suzanna Anggarkusuma, Conny Maramis, dan Sri Utami Ningsih, Tutut membawa Indonesia meraih medali emas beregu putri.

Setelah itu Tutut malang melintang di dunia tenis Indonesia dan mengikuti berbagai turnamen di luar negeri. Kemudian pada PON 1985 meraih medali perunggu di nomor ganda campuran bersama Luki Tedjamukti.

3. Yopie Saununu (sepakbola)
Yopie Saununu yang lahir pada 1955, adalah pemain timnas sepakbola era 1970-an. Yopie ikut memperkuat Persebaya Surabaya di era 70-an.

Yopie pernah membela Timnas Indonesia di beberapa even internasional seperti Kejuaraan Pelajar di Manila, Filipina (1974), Turnamen Kings Cup, Bangkok, Thailand (1975), Merdeka Games, Kuala Lumpur, Malaysia (1976), SEA Games, Kualalumpur, Malaysia (1977).

4. Abdul Khamid (sepakbola)
Libero timnas sepakbola Indonesia era 1980-1985 ini adalah termasuk dalam skuad PSSI Garuda 1.
Tim Indonesia Garuda 1 adalah embrio dari tim nasional yang menjalani latihan di luar negeri.

Baca Juga  Skuad Muda dan Lokal Persebaya Menjanjikan

Lahir di Bangil 15 Mei 1965, Khamid adalah pemain yang mengantar Niac Mitra menjadi juara Galatama sebanyak tiga kali. Khamid menjadi bagian dari timnas Indonesia atau Garuda 1 yang dikirim ke Brazil untuk berlatih di Negeri Samba itu.

5. Suyitno (balap sepeda)
Pembalap sepeda kelahiran Surabaya 7 Agustus 1977 ini dikenal sebagai Raja Pedal pada era awal tahun 2000.

Bermula menjadi juara di Kapolwil Surabaya Cup 1997, Suyitno masuk Puslatda untuk persiapan PON XV/2000 di Jawa Timur. Tidak sia-sia menjalani Puslatda, Suyitno menyumbang tiga emas di PON 2000 di nomor Individual Pursuit 4000 M, Team Pursuit 4000 M, dan Team Open Road Race.

Tiga emas PON ini membawanya masuk Pelatnas. Berlaga di kancah internasional Suyitno menjadi juara stage di Tour de Langkawi Malaysia tahun 2000, dan juara kedua kejuaraan balap sepeda Jelajah Malaysia 2000.

Prestasi ini membawanya masuk Pelatnas persiapan SEA Games XXI/2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan hasilnya tidak mengecewakan karena Suyitno menyumbang dua medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor Team Pursuit 4000 M, dan nomor Track Madison. (*)