Kunjungi Kantor BPBD Jatim, Khofifah Apresiasi Relawan

260
Foto-foto: Hamzah Afif Afandi/derapdesa.id

GUBERNUR Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengisi aktivitas siang hari dengan meninjau Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur di Jl Letjen S Parman No 55, Sidoarjo (5/3).

Kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono, kepala BPBD kabupaten/kota dan para relawan yang hadir menyambut kedatangannya. Semangat para relawan yang memberi semboyan spirit dengan lantang dan tangan terkepal juga membuat senyum Khofifah kian mengembang.

“Saya ingin memberi apresiasi terhadap relawan. Luar biasa sekali loh. Ketika terjadi bencana alam, teman-teman relawan menjadi front liner kita dalam memberi pelayanan secara lebih detail dan komprehensif,” tuturnya memuji.

Dalam kunjungannya itu, ada lima titik yang ditinjau Khofifah. Pertama, alat sterilisasi air yang dikenal dengan nama Water Treatmen. Alat itu biasanya digunakan untuk menyuplai air bersih di titik pengungsian korban bencana.

Selanjutnya adalah peninjauan pada mobil yang difungsikan sebagai dapur lapangan dan beberapa logistik makanan siap saji. Di titik itu, sebagai logistik lainnya juga terdapat beberapa permainan anak yang biasa dimanfaatkan untuk menghibur.

Selanjutnya, Khofifah meninjau ruang Pusat Pengendalian Oprasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) yang berfungsi sebagai pengolah dan pendistribusi informasi kebencanaan. Lalu yang terakhir, titik yang ia tinjau adalah sekretariat bersama relawan penanggulan bencana Jatim.

Ia menyampaikan, dalam hal kebencanaan pemerintah harus bisa menempatkan diri, baik itu di depan, di tengah ataupun di belakang. Dan dalam posisi ini, kata dia, BPBD lah yang harus siap tampil.

“Saat proses evakuasi banyak hal yang membutuhkan penanganan spesifik. Misal; ambulan dari mana, tandu bagaimana, dokter bagaimana dan layanan kesehatan juga bagaimana. Hal itu pada saat evakuasi menjadi penting,” tegasnya.

Dari segi tanggap darurat, lanjut dia, secara Standar Operasional Prosedur (SOP) dilakukan selama 14 hari. Dalam waktu dua minggu itulah, biasanya difikirkan solusi efektif seperti apa yang bisa diberikan pada masyarakat. Artinya, bagaimana mereka bisa menerapkan living in harmony with disaster.

Khofifah menuturkan, bencana alam yang terjadi di Jatim dalam waktu dekat ini, titik-titiknya relatif terdeteksi. Misalnya di Kab. Bojonegoro yang nyatanya masih terkait dengan Sungai Bengawan Solo.

Karena itulah ia meminta, BPBD provinsi, BPBD kab/kota dan para relawan untuk bisa melakukan langkah solutif serta strategis. Baik jangka pendek maupun jangka panjang. “Tadi saya lihat ada yang sangat ekstrim. Misal, kerawanan bencana alam tertinggi di Jatim itu banjir. Tapi, kedua tiba-tiba kebakaran hutan. Jadi, ada sesuatu yang membutuhkan skill sangat berbeda,” ujarnya.

Selain itu, saat rapat di Pusdalops, Khofifah juga memaparkan, banyak hal yang perlu diupgrade secara teknologi. Ia berharap, kedepan tidak terlalu jauh dari apa yang ada di pusat. “Jadi, antisipasi dan kewaspadaan yang bisa dilalukan secara digital mari kita lakukakan,” katanya meyakinkan.

Suban Wahyudiono, Kepala BPBD Jatim menambahkan, Gubernur Jatim Khofifah sudah banyak melakukan koreksi. Selain soal teknologi yang perlu dibenahi, bagaimana caranya masyarakat Jatim saat terjadi kemungkinan bencana juga harus segera tahu.

Dalam menghadapi situasi darurat saat terjadi bencana, lanjut dia, saat ini memang perlu cepat. “Terlebih program ibu gubernur kan harus CETAR. Maka harapan saya, saya bisa menempatkan anggota di  Bakorwil (Badan Kordinator Wilayah) untuk lapis kedua dan menempatkan anggota sebagai intelegensi bencana di kabupaten atau kota,” imbuhnya. (fan)