Kuota Perempuan Tidak Terpenuhi Maksimal

26

Secara statistik, jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 jiwa, dan sekitar 50 persen di antaranya adalah perempuan. Namun, dari pemilu ke pemilu, keterwakilan perempuan cenderung tidak tampak mengalami perubahan, bahkan menunjukkan tren negatif. Seperti apa?

Pada Pemilu 2004 sebanyak 65 perempuan berhasil mendapatkan kursi di parlemen. Jumlah itu hanya menyumbang 11, 82 persen keterwakilan perempuan di DPR. Pada Pemilu 2009 jumlah keterwakilan perempuan di parlemen naik menjadi 17, 86 persen. Sayangnya, jumlah itu turun sedikit menjadi 17, 32 persen di Pemilu 2014. Saat ini, dari total 560 anggota DPR RI, 97 di antaranya adalah perempuan. Angka-angka itu sekaligus menunjukkan bahwa kuota 30 persen perwakilan perempuan di parlemen belum sepenuhnya termaksimalkan.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengakui keterwakilan 30 persen perempuan di Parlemen masih sulit dipenuhi. Meskipun, sudah ada zipper system atau kewajiban partai politik untuk menempatkan kader perempuan dalam setiap tiga caleg.

Menurut Titi, zipper system sebenarnya sudah diterapkan sejak pemilu 2009 silam dan terbukti melahirkan banyak anggota DPR RI perempuan di parlemen. Meski dalam perjalanan hingga kini belum memenuhi 30 persen yang duduk sebagai anggota DPR.

Zipper system ternyata tidak cukup untuk mendorong keterwakilan karena hanya sebatas menjadi syarat saat pencalegan bukan menenangkannya. Partai perlu memberikan perlakuan khusus bagi caleg perempuan dengan cara memberikan pendampingan dalam kerja-kerja pemenangan

“Karena perempuan memiliki keterbatasan modal kapital finansial, lalu juga rentan untuk dicurangi dan fase keterlibatan mereka dalam politik itu relatif lebih belakangan dari pada caleg laki-laki,”tutur Titi Anggraini.

Melihat jumlah keterwakilan perempuan yang minim Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur (Jatim) akan mencoret jatah kursi tiga partai politik (parpol) peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Keputusan ini diambil lantaran sejumlah parpol tersebut tidak mampu memenuhi syarat 30% kuota keterwakilan perempuan.

“Ada tiga partai yang tidak memenuhi syarat Kuota 30% di beberapa daerah pemilihan (dapil). Sesuai regulasi, seluruh jatah kursi parpol di dapil bersangkutan harus dicoret. Artinya, mereka akan kehilangan dapil,”tutur Komisioner KPU Jatim, Arbayanto.

Arba tidak menyebutkan partai mana saya yang akan dicoret, termasuk juga dapilnya. Dia hanya menjelaskan, tidak terpenuhinya kuota perempuan karena dua hal. Pertama karena syarat yang kurang, dan kedua bacaleg-nya belum cukup umur.

“Ada yang belum memenuhi syarat usia minimal bacaleg, yakni umur 21 tahun saat DCT (daftar caleg tetap) pada September. Tapi ini tidak memenuhi karena baru akan genap 21 pada Oktober,”tutur Arba.

Dari tiga partai tersebut, setidaknya ada enam dapil yang akan hangus. Sementara itu, tiga parpol yang tak bisa memenuhi kuota 30% perempuan adalah adalah Partai NasDem, PKPI, dan Partai Garuda. Partai NasDem akan kehilangan Dapil 8, dan Partai Garuda di dapil 2. Sementara PKPI terancam kehilangan 4 dapil, di antaranya dapil 4 dan 5, sedangkan dua dapil lainnya masih belum diketahui secara pasti.(ren,dbs)