Desa Kauman, Kec. Sidayu, Kab. Gresik

Labirin Tenang Dalam Bingkai Sejarah

98

Padat tapi meneduhkan. Begitulah nuansa yang tercipta di Desa Kauman Kec. Sidayu, desa terkecil di wilayah Kab. Gresik dengan luas 4,06 ha. Hiruk pikuk hidup masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang pun terbalut rapi dalam bingkai histori sejarah. Penataannya identik dengan tata kota Islam ala Wali Songo yang syarat akan makna. 

ADA keunikan tersendiri saat berkunjung ke Desa Kauman (6/5). Mengelilingi gang-gang disana serasa berada di dalam labirin tua berdinding cerita masa silam. Mulai hubungan manusia dengan manusia lainnya, pergerakan dakwahnya, kemajuan ekonomi masyarakatnya hingga arsitektur bangunan yang berdiri kokoh di zamannya.

Puas berkeliling tak terasa kumandang azan ashar terdengar melengking dari Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu. Satu persatu jamaah melangkahkan kaki memasuki area masjid. Tak hanya dari Desa Kauman, warga dari berbagai penjuru desa di sekeliling masjid juga berdatangan. Di sini, jejak kota tua sekaligus warisannya masih bisa dijumpa.

Saat memasuki Bulan Ramadhan, sambari menunggu waktu berbuka, di area masjid semakin ramai dengan berbagai kegiatan. Selain pengajian di dalam masjid, masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang juga berkumpul di sepanjang jalan depan masjid. Mereka menjual aneka makanan dan minuman yang siap disantap saat berbuka.

Masjid Besar Kanjeng Sepuh memang berada di wilayah pemerintah Desa Kauman. Meski demikian, pemerintah desa tak memiliki kewenangan untuk mengatur atau mengelolah. Masjid ini menjadi salah satu icon kebanggaan milik Kec. Sidayu. Dan di balik kemegahaannya, konon, dulu Sidayu adalah kadipaten yang meliputi Sidayu, Lamongan, Babat hingga Jombang.

Beberapa peninggalannya selain masjid, ada juga gerbang dan pendopo keraton, alun-alun, telaga dan sumur serta beberapa situs lainnya. Di area ini, penataannya sangat identik dengan tata kota Islami ala Wali Songo yang syarat akan makna. Diperkirakan, beberapa situs tersebut dibangun menjelang perpindahannya ke Kadipaten Jombang sekitar tahun 1910 M.

Nah, Sejarah Kadipaten Sidayu sendiri mencatat nama harum adipatinya yang kedelapan, yaitu Kanjeng Sepuh. Salain jadi pemimpin besar, adipati  dengan gelar Kyai Panembahan Haryo Soeryodiningrat ini juga seorang ulama tersohor. Karena perhatiannya yang begitu besar dan sikapnya yang kritis pada kekuasaan Belanda, di zamannya, ia sangat dicintai dan segani rakyat.

“Mbah Kanjeng Sepuh itu nama aslinya Haryo Soeryodiningrat dari Kerajaan Mataram. Diperintah dari sana bahwa Bangsa Belanda sudah di wilayah Sidayu Kota. Akhirnya ditugasi dari kerajaan untuk bertempur dan sedikit demi sedikit membangun masjid. Itu makamnya ada di belakang, silahkan nanti tawasul (kirim doa lewat perantara) disana,” tutur Drs H Muwafiq MSi, warga Desa Kauman RT 2, pernah menjabat sebagai ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Ia menuturkan, Desa Kauman sendiri rata-rata mata pencahariannya memang berdagang. Hal itu tak lain dipengaruhi historis dari zaman ke zaman yang berkembang sejak dulu, di wilayah jantung kota masyarakatnya mayoritas pedagang. Bedanya, selain berdagang, kata dia, masyarakat Desa Kauman juga melakukan produksi. Diantaranya kerupuk, tas dan roti.

M Aminuddin, Sekretaris Desa Kauman juga membenarkan hal itu. “Mata pencaharian sehari-hari mayoritas berdagang di pasar. Ya, dagangnya macam-macam. Pakaian, sepatu,sandal, tas dan lain-lain. Alasannya, jelas ada timbal balik dengan kondisi desa. Desa Kauman ini kan sudah padat dan tidak ada lahan, akhirnya rata-rata ya berdagang,” ungkapnya.

Karena itulah, selama ini, lanjut dia, fokus dari program desa paling banyak digunakan di bidang pemberdayaan. Misal untuk ibu-ibu ada pelatihan menjahit dan membuat kue. Kalau untuk karang taruna pernah dilakukan pelatihan mengemudi. Beberapa pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mengembangkan potensi dan usaha yang dijalankan masyarakat. (fan)