Latsitarda 2019, Khofifah Sebut Perlunya Pengembangan Digital Skill

134
Gubernur Khofifah memberikan pembekalan kepada peserta Latsitarda 2019.

Seribu orang peserta Latsitarda XXXIX tahun 2019 hadir di gedung Grahadi Surabaya, Sabtu (30/3). Mereka terdiri dari taruna Akpol, Akmil, IPDN, AAL, AAU dan instansi lain. Saat memberikan pembekalan kepada para peserta Latsitarda XXXIX, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan adanya tantangan perubahan masa depan yang sangat pesat, terutama di bidang dunia digital dan pengaruh revolusi industri keempat atau industri 4.0. Dia mengatakan, saat ini beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan di Indonesia sudah terkena dampak arus digitalisasi.

“Jika kita tidak mampu, maka mari berkolaborasi,” ungkap Khofifah.

Khofifah menjelaskan, revolusi industri 4.0 ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbasis online. Karenanya, bukan hanya komputer tetapi teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung online.

“Menghadapi ini maka relevansi pendidikan dan pekerjaan perlu disesuaikan dengan IPTEK dengan tetap memberikan perhatian pada aspek humanity,” ungkap gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Dalam merespon perubahan yang sangat pesat ini, Khofifah berpandangan perlu adanya komitmen peningkatan investasi di pengembangan digital skill. Selain itu, juga terus menggali bentuk kolaborasi baru bagi model sertfikasi atau pendidikan dalam ranah peningkatan digital skill.

“Kurikulum pendidikan yang telah memasukkan materi terkait human-digital skills juga perlu disusun,” ujar Gubernur Khofifah yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Kerja.

Dia menambahkan, penerus masa depan bangsa akan didominasi oleh generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010. Di mana karakteristik gen Z antara lain, fasih teknologi, app-friendly generation, sangat intens berinteraksi melalui media massa, cepat berpindah dari satu pemikiran atau pekerjaan lain, dan ekspresif.

Khofifah berharap, dengan pesatnya penggunaan internet dan media sosial, para generasi milenial bisa memilah informasi. Terutama pada berita-berita yang menjurus pada radikalisme ,ujaran kebencian, ataupun berita bohong atau hoax.

“Berhati-hatilah saat akan menyebarkan informasi, budayakan saring sebelum sharing,” pungkasnya.

Sementara itu, Danjen Akademi TNI Laksdya TNI Aan Kurnia mengatakan, agar semua peserta LATSITARDA bisa memanfaatkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Hal ini penting untuk dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat pada anggota TNI.

“Semoga keberadaan LATSITARDA bisa memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat Jatim. Selain itu masyarakat bisa merasa senang, happy atas kehadiran TNI yang berdampingan langsung dengan rakyat,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pemotongan tumpeng sebagai bentuk syukuran atas terlaksananya LATSITARDA XXXIX Tahun 2019 di Jatim. Acara ini dihadiri Gubernur AAL, pejabat di lingkup TNI/Polri wilayah Jatim, dan pejabat di lingkup akademi TNI. (uul, hms)