Desa Pesucen, Kec Kalipuro, Kab Banyuwangi

Manggis Pembawa Magis di Pesucen Banyuwangi

718

Siapa sangka, ujung timur Pulau Jawa, Desa Pesucen Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu sentra buah manggis di Jawa Timur. Manggis telah menjadi energi magis bagi masyarakat Desa Pesucen untuk berdikari secara ekonomi. Berkat manggis pula, Desa Pesucen mampu memiliki kualitas ekspor hingga luar negeri. Seperti apa?

Di Desa Pesucen, tanaman manggis hampir mendominasi kebun warga selain durian dan kelapa. Bahkan di pertigaan Desa Pesucen sampai dibangun sebuah patung manggis. Hal ini menandakan bahwa Pesucen merupakan sentra manggis di Banyuwangi.

Terdapat kurang lebih 150 petani manggis di Pesucen dengan total luas lahan sekitar 100 hektare. Rata-rata per tahun desa ini memproduksi 1.000 ton buah manggis. Sekitar 200 ton untuk memenuhi pasar ekspor, sedangkan sisanya 800 ton terserap untuk pasar lokal.

Baca Juga  Menggali Potensi Durian Slumbung

“Saya memiliki 20 pohon manggis di seperempat hektare lahan. Saat panen, satu pohon bisa menghasilkan 125 kilogram buah sehingga total dia mendapatkan 2,5 ton. Omzetnya lebih dari Rp 25 juta per tahun. Perawatan tanaman manggis cukup mudah dengan biaya produksi untuk pupuk dan pestisida hanya Rp 3.750.000 per tahun,” tutur Abdul Rohim, ketua kelompok petani manggis Desa Pesucen.

Kondisi tersebut tentu memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat Desa Pesucen. Manggis telah menjadi sumber magnet kegiatan perekonomian di Desa Pesucen. Dengan keuntungan yang didapat, masyarakat dapat berdikari secara ekonomi. Terlebih mereka hanya difokuskan pada kegiatan pertanian, untuk pemasaran telah ada pengepul yang selalu siap menerima buah manggis dari Pesucen.

Pangsa pasar buah manggis dari Pesucen sendiri hingga mencapai Bali, Surabaya, Jakarta, Bandung dan kota–kota besar lainnya merupakan konsumen terbesar manggis dari Pesucen. Permintaan pasar lokal seperti Surabaya dan Malang cukup tinggi yakni antara 5-8 kuintal per hari.

Baca Juga  Kampung Anggur Sumbersuko Bisa Tingkatkan Ekonomi Warga

Selain pasar lokal, manggis Pesucen telah mampu menembus pasar internasional. Meskipun syarat ekspor cukup ketat. Namun manggis Pesucen telah mampu memenuhi kualifikasi tersebut. Bahkan selama ini tercatat manggis dari Pesucen paling banyak ekspor ke Cina. Setidaknya setiap bulan 1 hingga 1,8 ton buah manggis bisa dikirim ke Negeri Tirai Bambu tersebut melalui eksportir di Bandung.

Tak hanya itu, mereka juga memenuhi permintaan dari Singapura, Vietnam, Taiwan dan Hongkong. Selain kualitas buahnya, rasa buah manggis dari pesucen disuka karena manis dan penampilannya cenderung lebih menarik, yakni kulit mulus dan tidak banyak getah.

“Melihat keuntungan yang ada, petani mulai ingin memperluas lahan manggisnya,” tutur Abdul Rohim.

Bahkan Kelompok Tani Desa Pesucen saat ini sedang bernegosiasi dengan salah satu produsen jamu di Indonesia. Bila negosiasi berhasil, produsen akan mengambil kulit manggis dari Banyuwangi sedangkan isi buahnya akan dikemas dalam bentuk lain. (rni)