Menyapa Desa Tungul, Kec. Paciran, Kab. Lamongan (3)

Mangrove Lestari, Dampaknya Ekonomi

155
Beberapa aktivitas penanaman mangrove di lahan baru. Foto-foto: Dok Pemdes Tunggul for derapdesa.id

SELAIN semangat gotong royong yang melekat dalam diri masyarakat, nyatanya, Desa seluas 325 Ha ini memiliki potensi alam luar biasa. Di sana, hamparan pesisir lautnya cukup panjang. Tak hanya itu, tumbuhan mangrove juga membentang lebar di sepanjang garis pantainya.

Di Desa Tunggul, mangrove dimanfaatkan lebih dari sekadar mencegah abrasi. Biji buah mangrove, oleh warga dimanfaatkan sebagai salah satu varian kopi. Dan selama beberapa tahun berjalan, pengelolaan sekaligus pemasarannya dibantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Tunggul Ulung.

Adanya inovasi tersebut, kisah Yasin, dilatarbelakangi pemuda desa bernama Khoirul Adhim. “Adhim terinspirasi dari seorang pemuda di Tulungagung yang mampu mengangkat derajat hidupnya melalui produksi kopi mangrove. Dalam waktu sekitar tiga bulan ia bereksperimen, mencari komposisi yang pas untuk mendapatkan cita rasa yang maksimal,” paparnya.

Rimbunnya hutan mangrove di sekitar garis pantai Desa Tunggul

Setelah melakukan percobaan beberapa kali, akhirnya Adhim menemukan racikan komposisi yang pas. Diantaranya; ada tiga bahan dasar kopi mangrove, yaitu; buah mangrove, gula dan bubuk kopi biasa. Masing-masing takarannya 1 kg, 1 kg dan 0,5 kg. Namun, sebelum dicampur jadi satu, biji mangrove perlu dikeringkan dan diiris kecil-kecil lebih dulu.

Kini, dalam keseharian yang ikut merawat hutan magrove seluas kurang lebih 1 Ha itu adalah Subambang, Kepala Dusun Genting, Desa Tunggul. “Istilahnya mangrove lokal, namanya Brayo. Ya, kalau tidak ada kesibukan saya kesana. Kadang membersihkan, kadang menanam,” tuturnya saat ditemui Derap Desa.

Subambang memetik biji mangrove yang akan ditanam

Kades Tunggul mengaku, termotivasi dengan adanya potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di desanya. Karena itu, ia berkomitmen selalu mendorong generasi desa, terutama karang taruna untuk bersama berinovasi membangun desa yang lebih baik. Ia ingin produk itu bisa layak jual dan bisa diuji komposisinya.

Yasin berharap besar pada kopi mangrove. Pasalnya, dengan adanya inovasi kopi ini, otomatis pemuda desa tak hanya bergantung pada sektor pertanian. Tapi, ada sektor-sektor industri lainnya. “Saya masukkan dalam dana desa di bidang pemberdayaan ekonomi,” imbuhnya.

Kopi mangrove tersebut lambat laun mampu berkembang dan bisa jadi salah satu produk unggulan. Di wilayah utara Lamongan saja, produk kopi brayo ini sudah beredar di warung-warung kopi, bahkan cafe di sekitar Kec. Paciran.

produk kopi brayo saat dipamerkan di salah satu agenda bursa inovasi desa Kab. Lamongan

Guna lebih mempromosikan produk ini, pihaknya sering kali menampilkan dalam berbagai event produk unggulan di Kab. Lamongan. Salah satunya, dalam bursa inovasi desa yang digelar di Kec. Karanggeneng akhir Bulan Oktober 2018 lalu. Dalam kesempatan itu, Bupati Fadeli pun tertarik untuk mencicipi.

Soal harga, kopi mangrove yang dicampur dengan bubuk kopi jenis exelsa ini, setiap kemasan dengan takaran 150 gram nya dijual dengan harga Rp 85 ribu. (fan)

baca juga:

Jaga Kultur dengan Simpul

Lekatnya Semangat Gotong Royong