Menapak Jejak Para Dewa (2)

Berdayakan Warga Ranu Pane

10
Masyarakat setempat yang mengais rejeki dari pendaki dengan berjualan buah dan minuman (Foto: Afandi)

KEBERADAAN gunung tertinggi se-Pulau Jawa itu tak sekadar menunjukkan kegagahannya. Namun, keberadaannya juga memberdayakan masyarakat sekitar, warga Desa Ranu Pane, Kec. Senduro, Kab. Lumajang.

Warga setempat terlihat membuka warung, lahan parkir, tempat mandi, tempat minginap, persewaan alat dan lain-lain. Bahkan, beberapa warga juga ada yang menjual aneka jajajan dan buah-buah di setiap pos atau jalur menuju Ranu Kumbolo.

Suprayitno salah satunya. Bersama istrinya, warga desa yang dipimpin Satumad, kepala desa itu sehari-harinya berjualan di pos satu. Ia menjual semangka, gorengan, minuman dan aneka jajanan lainnya. “Biasanya ya berangkat pagi jam delapan, mas. Kalau turunnya ya sore, kadang jelang maghrib,” tuturnya.

Sehari, Suprayitno bisa mengumpulkan hasil jualan sebanyak Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Bahkan, kalau ramai ia bisa mendapatkan uang Rp. 400 ribu. Sayang, masyarakat yang menempati desa tertinggi itu untuk memberi kepeluan harus menempuh perjalan puluhan kilo meter.

“Masyarakat Ranu Pane kalau beli keperluan ya ke Tumpang. Kayak beras dan bahan jajan-jajan seperti ini. Disini nggak bisa menanam padi, kebanyakan masyarakat berladang sayur,” pungkasnya. (fan)