Mengubah Limbah Jadi Berkah

82

Banyak jalan menuju roma. Itulah kiranya peribahasa yang layak disematkan pada perjuangan Ismarofi, pengrajin batok kelapa asal Kota Blitar. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang pernah diterima tak membuatnya lantas berputus asa. Ia bangkit, berfikir dan berkaya.

Saat menganggur itulah, ia mengawali perjalanan di dunia kerajinan. Berawal dari diskusi kecil bersama teman-teman sekitar rumahnya, tak disangka, di tengah obrolan itu membuahkan ide yang berhasil menyelamatkannya dari pengangguran.

Kala itu, ia ditunjukkan beberapa gambar tas yang cukup menarik. “Saya lantas berfikir, ini pasti lebih menarik lagi jika dibuat dari batok kelapa,” kisahnya. Kenapa kok batok kelapa? Iya, karena di Blitar, kata dia, batok kelapa adalah limbah yang melimpah.

Limbah itu biasanya hanya terbuang sia-sia. Dimanfaatkan pun hanya untuk tambahan kayu bakar, belum ada yang memanfaatkannya menjadi barang yang lebih berguna. Akhirnya, di tahun 2009 lalu ia memutuskan membuat usaha kerajinan berbahan dasar batok kelapa yang diberi nama ‘Coco Art’.

Baca Juga  Yen Collection Manfaatkan Peluang Usaha Home Decor

Mengawali Coco Art, ia membuat tas dengan desain yang lebih unik. Ia memotong kecil-kecil batok kelapa, menghaluskan dan merapikannya. Kemudian merangkainya menjadi bentuk yang menyatu. Tak lupa, sebagai sentuhan akhir, agar lebih menarik ia mengkombinasikannya dengan kayu atau batik.

Dan hasilnya ternyata terlihat lebih bagus. Ia yakin, apa yang dibuat itu layak ditawarkan dan dijual. “Bahannya pun lebih awet dan tahan lama, mas. Tak perlu khawatir, asal tak dipakai sembarangan pasti tidak mudah rusak,” paparnya lantas tersenyum.

Ia menuturkan, batok-batok kelapa itu dulu diterima dari tetangga secara gratis. Namun, kini ia memperolehnya dari para pengusaha kopra di Blitar yang secara kualitas lebih bermutu. Bahkan, Ismarofi sampai membeli satu truk yang beratnya mencapai kurang lebih tiga ton dengan harga Rp 3 juta.

Baca Juga  Decoupage, Beromzet Puluhan Juta

Ismarofi memiliki kriteria tersendiri. Ia memilih menggunakan batok kelapa tua yang warnanya coklat gelap dan natural agar lebih cantik jika dipoles dengan pernis. Dan lambat laun, batok kelapa sebanyak itu berhasil ia sulap menjadi karya yang bernilai tinggi. Sekarang saja, ia sudah punya lebih dari 20 model.

Mulai tas, dompet, tampat tissue, bros, dan lain-lain. Harganya pun berfariatif, mulai Rp 20 ribu sampai Rp 200 ribu-an. Di Coco Art ini, lanjut dia, yang paling diutamakan adalah seni dan kualitasnya.

Karya-karyanya itu sudah diterima dibanyak daerah. Tak hanya diminati pasar lokal, produk kerajinan batoknya sudah menembus mulai Surabaya, Mojokerto, Situbondo, Bekasi, Pekanbaru, bahkan sampai ke Kalimantan Tengah. “Saya berharap nanti bisa menembus pasar luar negeri,” imbuhnya. (fan)