Menjemput Senja di Wisata Edukatif Khas Pedesaan

343
Foto-foto: Afandi/Derap Desa

Minimnya regenerasi sekaligus berkurangnya ketertarikan anak muda di bidang pertanian memang menjadi salah satu masalah urgent di masa kini. Semakin mereka tidak kenal, semakin mereka acuh terhadapnya. Nah, di Lamongan ada satu desa yang menawarkan solusi dengan konsep wisata edukatif. Keberadaanya sengaja digagas guna dijadikan laboratorium kecil untuk masyarakat, terlebih anak-anak. Bagaimana potretnya?

 

HARI semakin sore (17/12). Bekas gerimis siang itu membasahi jalanan. Sisa awan mendung pun masih bergelayut di atas wilayah Desa Besur, Kec. Sekaran, Kab. Lamongan. Area persawahan disana mayoritas terlihat hijau dan segarkan mata memandang. Kiranya, padi-padi itu sebulan lagi akan menguning dan siap dipanen.

Dari deretan sawah disana, ada satu sawah seluas satu hektar yang keberadaannya mampu memantik masyarakat berbondong datang. Jika biasanya yang datang ke sawah memakai baju biasa dan sedikit lusuh, mereka yang datang ini rata-rata mengenakan baju bersih, modis dan tak selayaknya pergi ke sawah.

Mereka asyik berkeliling di sepanjang jalan sembari menunggu senja. Tak terlewat, yang memiliki gadget pun dimanfaatkan untuk berfoto di balik ragam bunga dan tanaman. Memang, area ini tak sekadar sawah. Ia merupakan tanah kas desa yang berhasil disulap pemerintah setempat menjadi wisata edukatif berbasis pertanian.

salah satu icon wisata MTS

Wisata ini dikenalkan dengan nama ‘Managemen Tanaman Sehat (MTS) Besur Lamongan’. Salah satu tujuannya, yaitu; menjadi laboratorium kecil bagi masyarakat, terutama anak-anak untuk belajar bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan mengelolah tanaman yang sehat.

Keberadaannya merupakan hikmah dibalik kegagalan panen yang sempat dialami petani Desa Besur. Tahun 2016 silam, mereka sampai memutuskan membuat sekolah pertanian yang berlangsung hingga sekarang. Dan berkat keaktifannya, Bulan Oktober 2018 lalu, mereka dipercaya Dinas Pertanian Prov. Jatim menjadi tuan rumah dalam agenda bertajuk ‘Gelar Teknologi Perlindungan Tanaman’.

“Awalnya lokasi ini masih hamparan. Nah, karena ada agenda itu, akhirnya Bulan Juni mulai kita sulap jadi petak-petak, kita tata sedemikian rupa. Pesertanya banyak; mulai kepala dinas tiap kabupaten, perwakilan kelompok tani dan kepala UPT proteksi tanaman pangan se-Indonesia,” ungkap Abdul Hariissuhud, Kepala Desa Besur dengan bangga saat ditemui.

Agenda yang dibuka Bupati Lamongan, H Fadeli SH MM itu menjadikan nama Besur melambung. Desa ini makin dikenal dan terkenal. Nah, Bulan Juni menuju Oktober adalah waktu yang singkat, lantas langkah apa yang dilakukan untuk menyulap tanah kas desa menjadi wisata secepat itu?

Selepas menghela nafas, Kades kelahiran Lamongan, 23 Desember itu menjelaskan, semua berkat soliditas masyarakat serta elemen desa, terlebih kelompok tani dan BUMDesa. Konsep perencanaan pun tak sembarangan. Kata dia, wisata ini ditekankan pada sisi edukatif yang lebih menyasar anak usia dini. Alasannya, karena dewasa ini pertanian jarang diminati.

“Paling tidak kami ingin ada pendidikan dini dalam bidang pertanian untuk anak-anak. Kalau sekarang, sehari bisa tujuh sampai delapan lembaga PAUD atau TK yang berkunjung. Bahkan, sempat lima belas juga. Biasanya kita kenalkan jenis tanaman, kita ajak mereka belajar cara menanam dan lain-lain,” terangnya.

pengunjung mengelilingi area wisata

Selain menjadi laboratorium kecil pertanian, wisata ini juga cocok untuk hilangkan penat atau obati rindu nuansa pedesaan. Pasalnya, disekeliling petak tumbuh aneka bunga warna warna-warni. Diantaranya; bunga keningkir, bunga matahari, bunga dahlia, bunga kertas, dan lain sebagainya.

Di beberapa sudut pun sudah ada gazebo yang terbuat dari bambu dan beberapa spot kekinian. “Baru pertama ini kita kesini. Kalau tahu tempat ini dari teman-teman dan kebetulan sempat ramai di medsos. Bagus kok tempatnya. Selain murah juga cocok untuk berlibur di akhir pekan,” tambah Dwi dan Lidya, pengunjung asal Kedungpring Lamongan. (fan)