Menikmati Cita Rasa Kopi Asli di Cafe Jengki

111
Cafe Jengki, menawarkan sensasi cita rasa kopi asli. Foto: Ulviyatun Ni'mah/derapdesa.id

Kopi memiliki cita rasa asli yang tak pernah sama. Di Cafe Jengki, pengunjung bisa merasakan kenikmatan cita rasa kopi yang sebenarnya. Di sini juga ditawarkan banyak menu berbeda setiap bulan, bahkan setiap minggu. Seperti apa?

Di tengah menjamurnya kedai kopi di Surabaya, baik brand lokal, nasional, hingga internasional, Cafe Jengki hadir menjadi alternatif bagi pecinta kopi. Meski baru berdiri sekitar tiga bulan lalu, cafe yang berlokasi di Jl Gayungsari Timur I No. 14 Gayungan Surabaya ini sudah mampu memikat banyak pelanggan.

Seperti ketika derapdesa.id berkunjung pada Kamis (23/5) lalu. Jarum jam telah menunjukkan pukul 21.00 WIB, namun cafe ini masih ramai. Ada beberapa pengunjung yang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Ditemani kopi dan beberapa kudapan di mejanya. Ada pula pengunjung yang baru datang.

Selama bulan Ramadan, kafe ini beroperasi sejak pukul 16.00 hingga 24.00, namun tutup selama 1 jam saat tarawih. Sedangkan di luar bulan Ramadan, kafe ini buka mulai pukul 12.00 sampai jam 22.00.

Irsad Imtinan, owner cafe Jengki mengatakan, para pengunjung kafenya berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda yang datang dengan teman sebayanya. Banyak juga keluarga yang datang. “Tergantung jam. Kalau siang biasanya keluarga, sore pekerja kantoran, dan malam anak milenial,” ungkapnya.

Irsad Imtinan. Foto: dok. pribadi.

Mahasiswa ITS jurusan Arsitektur ini mengungkapkan, kafenya memiliki beberapa ciri khas yang berbeda dari kafe lainnya. Salah satu yang menonjol adalah dari biji kopi yang dimiliki. Ia mengembangkan biji kopi pinggit dari Desa Jeruk. Biji kopi ini digunakan untuk espresso dan milk base (campur susu), seperti cappuccino dan latte. Ia juga menggunakan biji kopi excelsa.

“Kalau excelsa itu buat filter oke. Ini spesial, karena jarang ada. Excelsa ini rasanya manis banget. Saking manisnya, sampai ada yang bilang terlalu manis. Bisa jadi sampai eneg. Tapi kami bisa mereduksi itu semua. Untuk penyuka kopi manis, kami ada Sweet Jengkis dan Flamingo. Dua itu yang paling khas dan populer,” jelasnya.

Irsad menegaskan, kopi yang disediakan di Cafe Jengki tidak memakai gula. Kalaupun ada yang meminta gula, pihaknya akan memberikan gula pasir atau gula aren khas Lamongan. Tergantung permintaan pelanggan.

“Kami ingin agar pengunjung bisa menikmati kopi dengan cita rasa aslinya. Tanpa tambahan gula,” tegasnya.

Selain menawarkan biji kopi yang berbeda, Irsad juga menomorsatukan inovasi menu. Menurut dia, masyarakat Surabaya suka mengeksplorasi hal-hal baru. Pelanggan juga akan bosan jika ditawarkan menu yang selalu sama dan jarang berubah atau bertambah.

Setiap minggu, ada biji kopi yang didatangkan sebagai ‘bintang tamu’. Saat itu, guest beans yang dihadirkan adalah Guji Amballa dari Ethiopia. Kopi ini memiliki rasa buah-buahan, seperti jeruk dan nanas. Sedangkan biji kopi yang di-brewing manual hari itu adalah sigarar utang dan P88.

Salted egg chicken wings and fries, salah satu menu Cafe Jengki.

Tak hanya menu kopi, menu makanan di Cafe Jengki juga berubah setiap bulan. Di bulan Mei, menu makanan yang ditawarkan antara lain salted egg chicken wings, fish and chip, dan fries. Ada juga smoke BBQ, daging sapi lokal yang di-smoke menggunakan metode low and slow. Menu ini hanya dikeluarkan secara eventual, tidak setiap hari. Sebelumnya, ada juga menu american brisket slider dan burrito. Namun, di bulan April, kedua menu tersebut tidak dikeluarkan dulu.

Fish and chip, menu populer di Cafe Jengki.

“Jadi, kami konsep kami seperti bistro di Prancis yang menunya selalu berganti tiap hari. Hanya saja waktu kami lebih panjang, satu bulan atau dua bulan sekali berganti menu,” ujarnya. (uul)