Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik

Optimalkan Potensi, Wujudkan Kemandirian

206

Amanat undang-undang desa untuk ciptakan kemandirian benar-benar diamalkan Pemerintah Desa Pangkah Wetan. Betapa tidak, sadar akan kondisi geografis desa dengan ragam potensi, membuat mereka makin gencar berinovasi. Dalam pencapaian itu pula, masyarakat tak sekadar jadi penikmat, tapi terlibat.

Mentari tak begitu terik, angin berhembus semilir. Kala itu (8/1), mendung bergelayut di atas rumah-rumah warga. Saat Derap Desa berkunjung ke Desa Pangkah Wetan, di beberapa sudut jalan depan rumah, warga terlihat menimbang ikan hasil tangkapan. Di desa ini, mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan.

Kondisi geografis desa lah yang menyebabkan profesi itu menempati urutan pertama. “Desa kita kan berada di wilayah pesisir Bengawan Solo. Jadi, otomatis mata pencaharian warga tak jauh dari letak geografisnya. Kalau di prosentase, dari total penduduk ya kurang lebih 45 persen. Dan itu sudah mayoritas,” ungkap Syaifullah Mahdi, Kepala Desa Pangkah Wetan.

Baca Juga  Sungai Kalimireng Desa Manyarsidomukti Ditambah Area Joging Track

Perhatian pemerintah desa setempat terhadap warga yang berprofesi sebagai nelayan pun tak bisa disepelehkan. Pasalnya, di desa ini, para nelayan memiliki  kelompok sebagai lembaga masyarakat desa yang dibawahi langsung pemerintah desa. Namanya ‘Kelompok Rukun Nelayan.

Terkait itu, di dalamnya juga terbagi lagi menjadi tujuh kelompok yang dibedakan dari jenis perahu dan alat tangkap yang digunakan. Yaitu, kelompok jaring kodok, kelompok rajungan, kelompok seret, kelompok jala, kelompok nganco, kelompok pengaes dan kelompok pesabri.

Beberapa kelompok itu, sengaja dibentuk karena pemerintah desa ingin melihat para nelayan rukun dan aman. Apalagi, Desa Pangkah Wetan terpecah menjadi empat dusun yang memiliki karakter masing-masing. Yaitu, Dusun Kerajan 01, Dusun Kerajan 02, Dusun Sumbersuci dan Dusun Tajungrejo.

Bahkan, selain membentuk beberapa kelompok itu, pemerintah desa juga berkontribusi membantu apa yang selama ini menjadi masalah bagi para nelayan. Sandi, sapaan akrab Syaifullah Mahdi menuturkan, ada tiga hal yang dilakukan pemerintah desa selain membentuk kelompok.

Baca Juga  Dulu Ngemong Murid, Sekarang Ngemong Masyarakat

Pertama, pemerintah mengupayakan advokasi dan kordinasi dengan intansi terkait mengenai pencegahan pukat harimau atau militron yang dilakukan orang luar di wilayah desa. Karena, kata Sandi, itu menganggu aktivitas nelayan desa dan termasuk alat tangkap yang dilarang pemerintah.

Kedua, pemerintah desa berusaha membangun sinergi dengan para tengkulak terkait hasil jual nelayan dan menciptakan KUB (Koperasi Usaha Bersama) yang salah satunya menyediakan alat tangkap untuk mengurangi resiko  terkait praktek yang tidak baik. Misalnya, alat yang merusak bawah laut.

Ketiga, mengoptimalkan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok PIN (Perempuan Istri Nelayan) untuk membangun kemampuan dan kreatifitas dalam mengelolah hasil  tangkap nelayan yang awalnya tak bernilai menjadi  sesuatu yang bernilai tinggi setelah diolah. Misalnya, kerajinan.

Semua itu dilakukan Sandi untuk mendongkrak cita-citanya dalam memandirikan desa sesuai amanat undang-undang desa. Mengapa? Karena pemerintah desa memiliki visi untuk mewujudkan Desa Pangkah Wetan yang sejahtera. Dan goal-nya ternyata membembentuk desa wisata.

Baca Juga  Gabungkan Guyub dan Profesional

“Kita sekarang punya wisata MBS (Muara Bengawan Solo). Dan kita melibatkan elemen masyarakat, terlebih nelayan,” tutur Sandi. Itu dilakukan, karena pemerintah desa sadar, bahwa masyarakat perlu dilibatkan dan agar sama-sama peduli. (fan)