Pisang Cavendish, Primadona Petani Buah Desa Lajuk

503

Pisang cavendish atau pisang ambon putih menjadi salah satu primadona petani buah di Desa Lajuk, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Komoditas tanaman jenis pisang cavendish itu kini menjadi andalan petani pemula yang serius menggeluti dunia perkebunan.

Mereka menanam komoditas tanaman tersebut dengan dasar antara lain pertumbuhannya relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan jenis pisang lokal. Sehingga masa panennya cukup membutuhkan sekitar 8-9 bulan usia masa tanam. Perbandingannya, masa panen jenis pisang lokal membutuhkan waktu antara 1- 1,5 tahun.

Salah satu warga Desa Lajuk, Salman at Tramrini, di antara yang mulai menekuni budidaya pisang cavendish. Ia menceritakan, tanaman buah yang sedang dikembangkan saat ini sangat banyak peminatnya. Terlebih dari ketersediaan di pasaran masih jarang dijumpai di pasar-pasar tradisional karena lebih banyak masuk di toko-toko retail.

Baca Juga  Manggis Pembawa Magis di Pesucen Banyuwangi

Oleh karena itu dia optimistis dengan budidaya pisang cavendish yang sedang dikembangkannya. Dengan banyaknya permintaan yang terus berdatangan, ia yakin ke depannya dapat memenuhi kebutuhan pasar.

“Saya optimistis, budidaya pisang cavendish makin berkembang. Apalagi sekarang peminatnya makin banyak. Distribusinya masih sebatas di toko-toko modern seperti minimarket. Di pasar tradisional masih sangat jarang ditemukan,” tuturnya.

Awalnya, Salman hanya menanam bibit pisang cavendish sekitar 60 batang. Bibitnya diperoleh dari petani tetangga desa dengan harga 15 ribu perbatang. Saat dikunjungi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Setia Kawan di kebun, Salman menceritakan, ada sekitar 30 pohon yang siap dipanen.

Harga kisaran dalam setiap satu tandan sekitar Rp 150 ribu. Dengan demikian, secara keseluruhan dia akan memperoleh Rp 4,5 juta dari hasil panen separuh kebunnya.

“Andai saya punya lahan 1 hektar, bisa ditanami 350 bibit tanaman. Taruhlah harga pisang setiap tandan Rp 100 ribuan, kalau dikalikan 350 pohon nantinya bisa mengantongi keuntungan kurang lebih Rp 35 juta,” ujar pria yang sebelumnya menanam pohon sengon itu.

Baca Juga  Melon Desa Tatung, Terbaik di Ponorogo

Dari segi pemasaran, buah kaya vitamin yang makin banyak digemari masyarakat di segala usia itu tidaklah sulit. Bahkan relatif mudah karena tengkulak yang biasanya langsung datang ke pemilik kebun atau lahan. (*)