Profesor UGM Sreg dengan Judul Soekarwonomics

236

Dewan Riset Daerah (DRD) Jatim meluncurkan buku bertajuk Pembangunan Jawa Timur Berkeadilan dan Berdaya Saing. Buku yang disusun dai hasil penelitian selama dua tahun tersebut, berisi kajian akademis mengenai program pembangunan Jatim. Terutama, selama di bawah kepemimpinan Gubernur Pakde Karwo. Seperti apa isinya?

Tepat ketika tombol peluncuran buku ditekan, suara tepuk tangan seketika menggelegar. Suasana riuh, tawa dan senyum dari beberapa peserta pun terdengar. Tak terkecuali tawa lepas Gubernur Jatim, Pakde Karwo.
Sejurus kemudian, para peserta mengikuti prosesi penyerahan buku dari Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Jatim, Prof Hotman M. Siahaan selaku penyusun kepada Pakde Karwo. Dilanjutkan pemberian buku dari Pakde Karwo kepada perwakilan akademisi, birokrasi, dan pengusaha.
Iya, begitulah salah satu bentuk seremoni dari prosesi peluncuran buku berjudul ‘Pembangunan Jawa Timur Berkeadilan dan Berdaya Saing’ yang dilangsungkan di Grahadi, Selasa, 7 November 2017.
Dikerjakan Kelompok Kerja (Pokja) Ekonomi DRD Jatim selama lebih dari dua tahun, menurut Prof Hotman, buku ini mencoba membingkai perkembangan Jatim melalui kerangka teoritik akademis.
Karya tersebut, tambahnya, dimaksudkan sebagai jembatan bagi para akademisi dan masyarakat umum untuk melihat, menganalisa serta menilai perkembangan Jatim secara menyeluruh hingga berhasil meraih dua kali penghargaan tertinggi: Parasamya Purnakarya Nugraha. ‘’Bukan saja dari hasil, tetapi juga metode dan dasar pemikiran pembangunannya,’’ sergah guru besar Unair ini.
Hal senada diungkapkan Prof Wihana Kirana Jaya dalam orasi ilmiahnya. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini menilai buku bersampul biru ini sangat layak dijadikan referensi bagi akademisi, masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia bahkan menyatakan, konsep yang ditawarkan Pakde Karwo dalam buku itu setara dengan konsep yang pernah dimunculkan berbagai tokoh seperti, Habibienomics, Widjojonomics, SBY-nomics bahkan Jokowinomics. “Saya rasa, kalau boleh usul, judulnya nanti bisa diganti. Akan lebih tepat, kalau diberi judul Soekarwonomics,” ungkapnya yang langsung disambut tepuk tangan para peserta.
Salah satu pokok yang disoroti Prof Wihana adalah, kemampuan Pakde Karwo melaksanakan paradigma baru pembangunan berupa people-centered. Sebuah paradigma pembangunan yang menekankan pada ekonomi kerakyatan. Merangkul pengusaha besar dan mengayomi usaha kecil seperti UMKM.
Hal itu juga sebagaimana yang diakui Dr Muhammad Zaky M Si, pengusaha kopi sekaligus Ketua Pengusaha Perkebunan Jatim. Pengampu pengajian Ngaji Sugih di salah satu radio di Surabaya ini menyatakan, Pakde Karwo adalah sosok yang perhatian dengan UMKM. Ia memberikan banyak kemudahan bagi perkembangan usaha kecil, seperti, kemudahan izin dan pendampingan dari pemerintah. “Berkat Pakde Karwo, saya bisa ekspor kopi ke berbagai negara,” terangnya.
Dr Alim Markus, Presiden Direktur Maspion Group yang juga berkesempatan menerima buku tersebut menyatakan, selama ini Pakde Karwo mampu mengkondisikan diri dan akrab dengan pengusaha. Hasilnya, selama 8 tahun memimpin, Jatim mampu menjadi salah satu pusat ekonomi dan industri.
Lebih penting lagi, lanjutnya, di Jatim antarsuku dan agama bisa bersatu menjadi bangsa yang besar serta majemuk meski berbeda-beda. “Bagi saya, kepemimpinan Pakde Karwo memang oke,” tegas pimpinan perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 30 ribu pekerja ini.
Dari kemampuan mengelola usaha kecil dan besar tersebut, tidak salah jika kemudian perekonomian di Jatim terus mengalami peningkatan. Dampaknya, kemiskinan di Jatim pun terus menurun. Dari tahun 2009 di angka 14,68 persen menjadi 11,32 persen di tahun 2017. Atau, turun lebih dari 3 persen.