Rajut Kebersamaan dalam Bingkai Sumber Maron

179
Keseruan pengunjung saat menikmati berbagai wahana Wisata Sumber Maron. Mulai air terjun mini hingga river tubing. Foto-foto: Evi for Derapdesa.id

Ingin berlibur atau merajut kebersamaan tanpa merogoh kocek terlalu dalam? Sumber Maron solusinya. Di wisata ini, pengunjung akan dimanjakan dengan beragam spot. Mulai hamparan sawah hijau, sungai jernih, kolam sumber air alami, air terjun mini sampai memacu adrenalin dengan river tubing.

LIMA perempuan berkerudung merah itu tangannya bergandeng erat. Mereka duduk di lingkaran ban besar, mengikuti aliran sungai menuju hilir dan berteriak memacu adrenalin. Satu di antaranya Evi Novita, salah seorang guru Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) SD Islam Yamassa, Jl Kedung Asem No 80, Surabaya.

“Yamassa……,” teriaknya memberi semangat. Keempat perempuan lainnya semakin erat menggenggam. Bersama kurang lebih 50 guru lainnya, Evi mengaku, sengaja ke wisata alam Sumber Maron untuk tadabur alam sekaligus pembubaran panitia akhirussanah di sekolah tempat dia mengajar.

Bersama rombongan ia berangkat pukul 06.00 WIB dari Surabaya (23/3). Sebelum menikmati indahnya Sumber Maron, satu destinasi wisata lainnya yang dikunjungi adalah Masjid Tiban, Turen, Malang. Kata dia, jarak dari Masjid Turen menuju Sumber Maron cukup dekat.

Wisata Sumber Maron berlokasi di Desa Karangsuko, Kec. Pagelaran, Kab. Malang. Lokasinya tak jauh dari area perkampungan penduduk. “Menuju wisata ini sudah banyak kok petunjuk arahnya. Buka aplikasi google map juga bisa. Jadi, bagi yang mau kesana tak perlu khawatir tersesat,” tuturnya lantas terkekeh.

Kepada derap desa ia menuturkan, wisata Sumber Maron cukup luas dan kaya spot alami. Hamparan sawahnya yang hijau itu mampu manjakan mata memandang. Sungai, kolam, dan air terjun mininya juga memikat pengunjung berbondong-bondong menceburkan diri dan bermain air. Untuk menikmatinya, pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp 8 ribu.

Selain itu, aliran sungainya yang beriak juga bisa dimanfaatkan untuk river tubing. Yaitu, kegiatan alam yang hampir mirip dengan arung jeram. Bedanya, river tubbing ini dilakukan di sungai yang tidak terlalu lebar, jeram yang tidak terlalu dalam dan menggunakan bantuan ban dalam berukuran besar saat pengarungan.

“Menurut saya, selain kita bisa bertadabur mengenal dan mengagumi ciptaan Allah, kegiatan berpetualang mengarungi sungai dengan ban besar itu juga meningkatkan kebersamaan. Kami tadi mencoba dan saling berpegangan tangan. Ya, biar tidak terjatuh atau terlalu pisah terbawa arus,” paparnya.

Berpeteluang disana cukup seru. Tak sedikit dari guru-guru lainnya berteriak karena terombang-ambing arus. Terlebih saat ban yang ditumpangi menabrak bebatuan. Namun, lanjut dia, selama menyusuri sungai sepanjang sekitar 500 meter itu, pengunjung bisa menikmati pemandangan di kanan kiri sungai.

Pengunjung bisa menyewa ban dalam berukuran besar itu ke pengola. Biayanya cukup ramah di kantong, hanya Rp 5 ribu saja. “Murah sewa alatnya. Kita juga diawasi sama beberapa pengelola di pinggiran sungai, antisipasi jika ada yang jatuh atau melewati batas area river tubing,” imbuhnya.

Puas bermain air, mereka bergegas membersihkan diri dan ganti baju. Tiba-tiba saja hujan turun. Nah, sembari menunggu hujan redah, bersama rombongan ia membeli makanan di warung-warung terdekat. Menu yang disedikan cukup beragam. Sederhana dan terbilang murah. Mulai mie, sempol, sosis, penyetan dan lain-lain. (fan)