Desa Galengdowo, Kec Wonosalam, Kab Jombang

Salak Galengdowo, Primadona Dari Jombang

21

Gemar ripah loh jinawi. Kiranya ungakapan tersebut cocok disematkan pada Desa Galengdowo Kec. Wonosalam Kab Jombang. Tak heran jika buah salak tumbuh subur dan menjadi komoditas primadona di Jombang.

Letaknya berada di ketinggian 482 Mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan iklim tropis bersuhu kisaran 25 derajat-28 derajat celcius. Hal ini membuat Desa Galengdowo memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Didukung dengan kondisi geologi desa yang sebagian besar jenis tanahnya berupa tanah alluvial hitam.

Kondisi tersebut menjadi syarat tumbuh tanaman salak pondoh. Tak heran jika kemudian salak pondoh menjadi ikon di desa tersebut. Salak pondoh mulai dibudidayakan oleh petani sejak tahun 2000-an. Salak Galengdowo, demikian nama yang diberikan untuk salak tersebut.

Pada tahun 2013 telah disusun Standard Operation Procedure (SOP) salak pondoh Desa Galengdowo yang spesifik lokasi. Kemudian pada tahun 2014 dilakukan Sekolah Lapang Good Agricultural Procedure (SL-GAP).

Setelah dua tahun pelaksanaan SOP salak, petani salak yang tergabung dalam Kelompok Tani Salak Indah Lestari, mendaftarkan sertifikasi kebun salak ke Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur.

Pada hari ini, Kamis 21 januari 2016, Registrasi Lahan Kebun Salak di Desa Galengdowo telah “LULUS” dan diikuti penyerahan piagam sertifikasi lahan dari tiap petani pendaftar. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan usaha budidaya salak telah sesuai dengan standard GAP.

Salak Galengdowo berukuran besar, dengan tekstur tebal renyah dan berair. Disukai penjual buah dan konsumen karena penampilan dan rasanya yang enak. Hal ini tentu berasal dari kerja keras petani dalam menerapkan prinsip GAP di kebun salak masing-masing.

 

Saat musim kemarau, harga salak mengalami kenaikan. Dikarenakan jumlah panen yang berkurang dan tingginya permintaan pasar. Hal ini menguntungkan bagi petani yang tekun merawat kebun salaknya. Meski musim kemarau menyebabkan produksi salak turun sekitar 30-40 persen, namun harga jual per kilo yang berkisar antara Rp 6 sampai Rp 7 per kilogram di tingkat petani. Menjadi rejeki yang lumayan bagi petani saat musim paceklik.

Usaha salak Galengdowo semakin menjanjikan. Tahun ini perkembangan luas tanam salak cukup tinggi mencapai 10 hektar. Dan petani yang berminat menanam salak bertambah banyak. Prestasi Gapoktan Galengdowo dalam menjuarai lomba tingkat Provinsi Jatim kategori Agribisnis buah, rupanya mampu memberi korelasi positif bagi meningkatnya harga jual salak.

“Alhmdulillah hasilnya lumayan dan bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,”tutur Cahyono (40), salah satu petani salak Galengdowo.

Usaha agribisnis salak galengdowo makin berkembang, membawa perbaikan perekonomian bagi petani lokal serta turut memberi warna bagi perkembangan buah dalam negeri. (rni,dbs)